KESEHATAN saya mulai pulih setelah beberapa pekan istirahat total di RS Polri
Kramatjati. Kemudian saya dipindahkan ke tahanan Mabes Polri dan ditempatkan di salah satu
sel yang biasa dihuni wanita. Waktu itu selnya kosong. Dari tiga sel yang ada, saya
menempati sel dekat pintu keluar.
Sel di sini berukuran 2,5 x 2 meter. Saya tidur beralaskan tikar dengan kasur tipis dan
bantal kecil. Semua bawa sendiri. Kamar mandi di luar. Soal makan, perasmanan. Katanya ada
yang membayar.
Konon yang ditahan di sana diminta membayar Rp15 jutaan per orang untuk kamar dan
servis makan selama 20 harian. Soal besarnya uang tergantung orangnya. Saya tidak punya
uang, jadi ditraktir.
Pada Jumat pertama, saya dilarang Shalat Jumat di masjid. Saya protes tapi tak
berhasil. Kemudian saya berkirim surat melalui penyidik dan meminta bantuan pengacara
serta aktivis Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) agar mendesak Kapolri Dai Bachtiar
mengizinkan saya Shalat Jumat di masjid Mabes Polri. Jumat berikutnya saya baru
diperbolehkan Shalat Jumat. Alhamdulillah. Keluar lewat pintu belakang dan harus
naik mobil, padahal jarak ke masjid hanya sekitar 50 meter.
Jumatan pertama itu para wartawan berjubel. Di situ ada Kapolri. Memang lucu
kelihatannya, yang menangkap dan yang ditangkap shalat bersama. Cuma shafnya yang beda.
Kapolri di depan, walau datangnya belakangan. Kalau saya bisa di mana saja.Karena itu saya
belum pernah salaman dengan Kapolri selama di masjid.
Saya sering nggak habis pikir dagelan ini; yang nangkep polisi yang ngaku muslim, yang
nuntut jaksa ber-KTP muslim, yang memvonis hakim muslim, yang diadili dan dimasukkan
penjara juga muslim bahkan seorang ustad. Tapi yang seneng dan bertepuk tangan aparat
Dajjal Amerika dan antek-anteknya! Kok mau ya kita ini diadu domba oleh orang-orang kafir
aparat Dajjal itu? Naudzubillahi min dzalik!
Setelah beberapa hari di rawat di RS Polri Kramatjati saya dikunjungi Ibu Ratna
Sarumpaet.
Kunjungan ini menandakan bahwa penahanan paksa saya adalah kezaliman yang sampai
dirasakan oleh seorang ibu nonmuslim.JBP/yusran darmawan