:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah Spirit Kalsel • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini

Hot Line
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Rabu, 14 Juni 2006 03:34:05


IBU TEGA BUNUH 3 ANAK KANDUNG
"Saya Sempat Memandikan Mereka"

Warga Kompleks Margahayu Raya, Bandung, geger. Polisi membongkar kuburan 3 bocah kakak beradik yang tinggal di kompleksnya. Dugaan pun menyeruak. Ketiga bocah itu dibunuh ibunya. Benarkah?

Pukul 08.00 WIB, Imam Abdullah (31) sudah duduk termenung di bawah pohon yang berada di TPU Muslim Rancacili, Kelurahan Darwati, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung. Meski terhalang bayang topi yang dikenakannya, samar-samar matanya terlihat sembab.

Berulangkali dia diajak bicara oleh sanak kerabat dan pengacaranya, Adardam Achyar SH, namun Imam lebih memilih diam. Sekali-sekali dia memaksakan senyum. Selama dua jam, mukanya lebih banyak tertunduk.

Kesedihan Imam memuncak tatkala seorang kerabatnya, Budi Prayitno mengajak belasan orang yang hadir di pemakaman itu berdoa.

Buliran airmata pun tumpah. Membasahi bibirnya yang bergerak pelan membaca doa. Usai berdoa, Imam langsung dipapah saudaranya mendekati ketiga kuburan anaknya yang dikelilingi bentangan kain putih.

Imam layak bersedih. Selasa (13/6), aparat kepolisian membongkar kuburan 3 anaknya yang meninggal di hari yang sama, yakni Faras (6), Najib (4) dan Umar (9 bulan). Polisi mencurigai, ketiga bocah itu meninggal karena telah dianiaya. Pelaku yang dicurigai, istri Imam alias ibu kandung ketiga bocah itu, Anik Komariah (31)!

Ketiga bocah itu ditemukan warga sudah meninggal di rumahnya, Jalan Galaksi I No. 124, Kompleks Margahayu Raya, Bandung, pada Jumat, 9 Juni pukul 11.00 WIB. "Imam sudah menerima kepulangan ketiga anaknya itu dengan ikhlas. Dia memang sangat bersedih apalagi sebelum berangkat kerja, dia sempat memandikan mereka," tutur Adardam.

Lalu bagaimana kabar Anik yang kini mendekam di Polres Bandung Timur? "Dia masih labil. Berulangkali menangis. Terakhir, ia bercerita kalau anaknya yang paling besar (Faras, Red) meminta diajarkan cara membaca Alquran. Faras pun selalu mengingatkannya untuk Shalat Isya. Saya sendiri masih kurang percaya dia yang membunuh anak-anaknya itu. Dia sangat sayang kepada mereka," ujarnya.

Peristiwa pembunuhan itu memang masih tertutup tabir. Meski polisi sudah mengamankan Anik, tetapi belum jelas dia lah pelakunya. Pun motifnya. "Ibunya sudah mengaku membunuh, namun kita masih menelusuri motifnya. Dugaan sementara, pembunuhan itu dilakukan secara spontan. Dari olah TKP kita mengamankan bantal, seprai dan baju anak. Kita juga minta bantuan psikiater untuk memeriksa Ny Anik," kata Kapolres Bandung Timur AKBP Edison Sitorus.

Sementara dari hasil pemeriksaan tim forensik terhadap 3 jenazah bocah itu, dipastikan mereka meninggal akibat penganiayaan dan mati lemas karena kekurangan oksigen. "Itu hasil otopsi yang kami lakukan," ungkap Kepala Bagian Forensik Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, Norman Herriyadi, malam tadi.

Otopsi berlangsung sekitar 3 jam. Hasilnya, korban mengalami memar di bagian leher dan wajah yang diperkirakan akibat benturan.

Tim forensik juga mengambil sampel organ dalam ketiga korban seperti jantung, usus dan urine. Organ-organ ini akan diperiksa di laboratorium RS Hasan Sadikin. Diperkirakan hasil pemeriksaan laboratorium akan diketahui 4 hari mendatang untuk mengetahui secara detil penyebab kematian korban. Luka paling parah dialami Umar (9 bulan). Ia memar berat di bagian leher dan wajah.

Benarkah Anik yang membunuh? Semua masih gelap. Para tetangga korban pun menyatakan belum bisa mempercayai pengakuan itu. "Memang Ny Anik jarang bergaul dalam kegiatan ibu-ibu seperti arisan dan pengajian. Tapi masak dia tega membunuh ketiga anaknya sendiri? Kami kira karena terkena flu burung" ujar sejumlah ibu di kompleks itu.

Pasangan Imam-Anik tinggal di kompleks tersebut dengan mengontrak rumah sejak 1,5 tahun lalu. Putra-putrinya sering bermain dengan para tetangga. Sementara Anik jarang ke luar rumah. "Paling-paling ke warung saja," timpal seorang tetangga.

Mereka mengaku kehilangan ketiga bocah yang katanya lucu-lucu itu. Namun rasa kehilangan lebih besar tentu dirasakan Imam. Aktivis Masjid Salman ITB itu telah kehilangan segala-galanya. Keluarga yang dicintainya. TJ/ee/dtc


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Prancis Frustasi

645 Warga Loban Mengungsi


Spanyol vs Ukraina
Gengsi Laga Selevel


Depdagri Panggil Walikota Pekalongan


IBU TEGA BUNUH 3 ANAK KANDUNG
"Saya Sempat Memandikan Mereka"


Semoga Tak Dizalimi Lagi


Ketiduran Nonton PD Tahanan Polisi Kabur


Terancam Masuk Penjara


500 Ulama Adukan Gus Dur


Hari-hari Ba’asyir Di penjara (2-Habis)
Sempat Dilarang Shalat Jumat


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123