Warga Kompleks Margahayu Raya, Bandung, geger. Polisi membongkar kuburan 3 bocah kakak
beradik yang tinggal di kompleksnya. Dugaan pun menyeruak. Ketiga bocah itu dibunuh
ibunya. Benarkah?
Pukul 08.00 WIB, Imam Abdullah (31) sudah duduk termenung di bawah pohon yang berada di
TPU Muslim Rancacili, Kelurahan Darwati, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung. Meski
terhalang bayang topi yang dikenakannya, samar-samar matanya terlihat sembab.
Berulangkali dia diajak bicara oleh sanak kerabat dan pengacaranya, Adardam Achyar SH,
namun Imam lebih memilih diam. Sekali-sekali dia memaksakan senyum. Selama dua jam,
mukanya lebih banyak tertunduk.
Kesedihan Imam memuncak tatkala seorang kerabatnya, Budi Prayitno mengajak belasan
orang yang hadir di pemakaman itu berdoa.
Buliran airmata pun tumpah. Membasahi bibirnya yang bergerak pelan membaca doa. Usai
berdoa, Imam langsung dipapah saudaranya mendekati ketiga kuburan anaknya yang dikelilingi
bentangan kain putih.
Imam layak bersedih. Selasa (13/6), aparat kepolisian membongkar kuburan 3 anaknya yang
meninggal di hari yang sama, yakni Faras (6), Najib (4) dan Umar (9 bulan). Polisi
mencurigai, ketiga bocah itu meninggal karena telah dianiaya. Pelaku yang dicurigai, istri
Imam alias ibu kandung ketiga bocah itu, Anik Komariah (31)!
Ketiga bocah itu ditemukan warga sudah meninggal di rumahnya, Jalan Galaksi I No. 124,
Kompleks Margahayu Raya, Bandung, pada Jumat, 9 Juni pukul 11.00 WIB. "Imam sudah
menerima kepulangan ketiga anaknya itu dengan ikhlas. Dia memang sangat bersedih apalagi
sebelum berangkat kerja, dia sempat memandikan mereka," tutur Adardam.
Lalu bagaimana kabar Anik yang kini mendekam di Polres Bandung Timur? "Dia masih
labil. Berulangkali menangis. Terakhir, ia bercerita kalau anaknya yang paling besar
(Faras, Red) meminta diajarkan cara membaca Alquran. Faras pun selalu
mengingatkannya untuk Shalat Isya. Saya sendiri masih kurang percaya dia yang membunuh
anak-anaknya itu. Dia sangat sayang kepada mereka," ujarnya.
Peristiwa pembunuhan itu memang masih tertutup tabir. Meski polisi sudah mengamankan
Anik, tetapi belum jelas dia lah pelakunya. Pun motifnya. "Ibunya sudah mengaku
membunuh, namun kita masih menelusuri motifnya. Dugaan sementara, pembunuhan itu dilakukan
secara spontan. Dari olah TKP kita mengamankan bantal, seprai dan baju anak. Kita juga
minta bantuan psikiater untuk memeriksa Ny Anik," kata Kapolres Bandung Timur AKBP
Edison Sitorus.
Sementara dari hasil pemeriksaan tim forensik terhadap 3 jenazah bocah itu, dipastikan
mereka meninggal akibat penganiayaan dan mati lemas karena kekurangan oksigen. "Itu
hasil otopsi yang kami lakukan," ungkap Kepala Bagian Forensik Rumah Sakit Hasan
Sadikin Bandung, Norman Herriyadi, malam tadi.
Otopsi berlangsung sekitar 3 jam. Hasilnya, korban mengalami memar di bagian leher dan
wajah yang diperkirakan akibat benturan.
Tim forensik juga mengambil sampel organ dalam ketiga korban seperti jantung, usus dan urine.
Organ-organ ini akan diperiksa di laboratorium RS Hasan Sadikin. Diperkirakan hasil
pemeriksaan laboratorium akan diketahui 4 hari mendatang untuk mengetahui secara detil
penyebab kematian korban. Luka paling parah dialami Umar (9 bulan). Ia memar berat di
bagian leher dan wajah.
Benarkah Anik yang membunuh? Semua masih gelap. Para tetangga korban pun menyatakan
belum bisa mempercayai pengakuan itu. "Memang Ny Anik jarang bergaul dalam kegiatan
ibu-ibu seperti arisan dan pengajian. Tapi masak dia tega membunuh ketiga anaknya sendiri?
Kami kira karena terkena flu burung" ujar sejumlah ibu di kompleks itu.
Pasangan Imam-Anik tinggal di kompleks tersebut dengan mengontrak rumah sejak 1,5 tahun
lalu. Putra-putrinya sering bermain dengan para tetangga. Sementara Anik jarang ke luar
rumah. "Paling-paling ke warung saja," timpal seorang tetangga.
Mereka mengaku kehilangan ketiga bocah yang katanya lucu-lucu itu. Namun rasa
kehilangan lebih besar tentu dirasakan Imam. Aktivis Masjid Salman ITB itu telah
kehilangan segala-galanya. Keluarga yang dicintainya. TJ/ee/dtc