Oleh: Umi Sriwahyuni
Wartawan Banjarmasin Post
Harus diakui, masalah dan keinginan manusia tidak pernah habis. Apalagi jika hasrat itu
tak terkontrol. Biar pun harta segunung, misalnya, tak pernah merasa cukup. Kendati
pangkat memberati pundak, umpamanya, masih tak puas.
Bill Gates bisa jadi akan menyimpan cemburu terhadap Martin Cooper dalam hal
menaklukkan pasar. Itu bila bos Microsoft Software Computer ini menyaksikan betapa
mengguritanya jaringan pemasaran fasilitas selular hingga ke pelosok.
Khusus di Indonesia, kemudahan memperoleh komponen telepon selular itu dilayani oleh
gerai besar sampai yang ada di pinggiran jalan yang terpencil, sekalipun.
Memang, Bill Gates terkenal dengan keberhasilannya membangun brand image
sehingga antara nama Bill Gates dan Microsoft bagai bersenyawa. Sementara pengguna jasa
telepon selular belum banyak yang tahu, di balik terjadinya revolusi selular di dunia saat
ini ada nama bersejarah Martin Cooper.
Ya, sejarah 33 tahun lalu. Tepatnya 3 April 1973 ketika Cooper berhasil mendobrak
dinding tebal rumah-rumah, kantor-kantor atau pabrik yang menjadi penyekat kabel telepon
dengan alam luar.
"Sekarang orang menginginkan untuk bisa melakukan percakapan telepon tidak hanya
di rumah, di kantor atau dalam mobil. Jadi, berikanlah pilihan agar mereka bisa
melakukannya di mana saja," ujar Cooper saat itu.
Maka, di hari yang kemudian dicatat sebagai hari kebebasan berkomunikasi itu, Martin
Cooper menyeberang satu jalan raya di New York sambil melakukan pembicaraan dengan seorang
reporter sebuah radio yang tengah mengudara.
Saat itulah, orang-orang sekitarnya bukan hanya terheran-heran tetapi juga mendekat,
mengelilingi Cooper. Mereka takjub, mana mungkin menelepon seseorang melalui benda seberat
dua kilogram yang tanpa kabel.
Masa itu adalah berbarengan dengan saat Amerika melambungkan nama sang Presiden Richard
Nixon, dan di pentas musik sedang mengorbitkan nama Elton John. Kedua nama besar itu dalam
hitungan pekan saja sudah bisa mendunia. Sementara Martin Cooper masih memerlukan waktu
sepuluh tahun ke depannya, hanya untuk mengeksplorasi teknik telepon selular yang tanpa
kabel itu.
Tetapi, siapa sangka, pada tiga dasawarsa berikutnya selular melejit ke seluruh penjuru
dunia. Melesat, secepat proses pengiriman suara itu sendiri.
Dia bukan saja menjadi fasilitas komunikasi, tetapi juga sebagai aksesori yang
menggiring gaya hidup ratusan juta manusia. Inilah satu-satunya sejarah teknologi
informasi yang akhirnya menjadi komponen dunia fesyen.
Memimpin Pasar
Setelah 22 tahun telepon selular menggelinding di berbagai negara di dunia, akhirnya
masuk Indonesia. Ketika itu reaksi pasar tak jauh berbeda dengan yang terjadi di sebuah
jalan raya kota New York pada 3 April 1973 itu: ragu, heran juga penasaran.
PT Telkomsel hadir sebagai salah satu operator sistem selular ini, bersama sejumlah
nama lainnya. Awalnya, mereka harus berjuang melawan imej selular identik dengan kata
mahal karena setiap percakapan harus dikurs dengan biaya interlokal. Tingginya
ongkos yang diperlukan sistem ini terus membayang-bayangi sosialisasi penggunaannya. Mau
tak mau, konsumennya masih sangat terbatas.
Paling tidak itu terjadi hingga memasuki 1998, ketika reformasi politik bergulir di
negeri ini dengan halaman Gedung DPR/MPR sebagai saksi. Ketika puluhan ribu mahasiswa
terkurung di halaman wakil rakyat itu. Malam-malam penuh ketegangan itu telah menjadi
pemisah mereka dengan orangtua yang cemas di rumah di Jakarta. Telepon selular yang masih
terbatas kepemilikannya tiba-tiba tampil sebagai pahlawan.
Banyak ibu rumahtangga bisa mengikuti perkembangan terkini di pusaran detik-detik
perpindahan kekuasaan di Jakarta ketika itu, cukup dari dapur mereka. Atau ruang keluarga.
Itulah sebuah promosi cap jempol yang gratis bagi bisnis telepon selular Tanah Air.
Dan benar, enam tahun kemudian, di tahun 2004 Telkomsel mendapat acungan jempol
pengamat dunia bisnis atas keberhasilannya memasarkan teknologi kepada 13 juta pelanggan,
padahal awal 2003 mereka baru membukukan angka enam juta. Dua tahun kemudian, belum
pertengahan 2006 ini, jumlah itu melonjak menjadi 27 juta pelanggan. Jumlah yang konon
lebih besar dari angka pelanggan telepon biasa.
Dengan menguasai 53 persen pasar selular, PT Telkomsel yang kini berusia 11 tahun itu,
mantap dengan posisi sebagai market leader di Indonesia dan mendapat anugerah Customer
Loyalty Award, penghargaan atas prestasi di bidang memandu perkembangan teknologi
selular.
Lalu, apa artinya angka 27 juta ini?
Bagi Telkomsel jelas ini bukan hanya sebuah prestasi, tetapi lebih dari itu adalah
keberhasilan bisnis besar. Bukankah angka 27 juta berarti merengkuh 15 persen dari
penduduk Indonesia yang sudah hampir 200 juta jiwa ini. Dan, bila satu keluarga Indonesia
terdiri atas lima orang, angka 27 juta pemakai jasa selular menunjukkan Telkomsel sudah
ada di genggaman lebih 50 persen rumah tangga Indonesia.
Suatu pelayanan yang luar biasa untuk sebuah produk jenis teknologi informasi, yang
notabene bukan keperluan utama kebanyakan rakyat Indonesia.
Tetapi, yang mengagumkan sebenarnya adalah, dari angka 27 juta ini ternyata mampu
menumbuhkan sektor ekonomi rakyat yang baru. Sektor yang boleh jadi sama sekali tidak
pernah terpikirkan Cooper maupun Telkomsel sendiri. Itulah gerai pinggiran
jalan yang dimobilisasi rakyat ekonomi bawah. Tempat yang menyulap rombong rokok menjadi
gerai telepon selular.
Kini, jumlah mereka sangat banyak mengawal hampir setiap jalan permukiman.
Bahkan, dalam hitungan pandangan mata, jumlah mereka telah menggeser posisi rombong
sigaret. Gerai-gerai itu telah menjadi sebuah fenomena tentang jiwa wiraswasta
banyak orang. Di sana, menjadi titik transaksi yang setiap saat siap menggerakkan angka
digital yang dimiliki operator selular menjadi naik. Sekaligus, di sana pula, layanan
paling dekat dengan konsumen, tercipta. Itulah gerai-gerai yang dipilih
pedagang sayur untuk melayani keperluan selularnya, ketika kehabisan pulsa di tengah
perjalanan menjajakan dagangan. Padahal, benda itulah yang sekarang banyak diandalkan
mereka sebagai sarana transaksi dengan ibu rumah tangga di kompleks perumahan. Mereka
tidak akan memilih gerai sungguhan dengan berbagai pertimbangan, termasuk konsep
tidak familiar.
Padahal, jumlah mereka sangat banyak. Mereka menjadi sel dalam sistem pelayanan
Telkomsel sebagai operator selular terbesar di Indonesia. Dengan kata lain,
gerai-gerai rakyat ini ikut berperan dalam meraih angka 27 juta tadi.
Sebagai catatan pinggir (caping) untuk PT Telkomsel yang sibuk menapaki 11 tahun
kehadirannya di Tanah Air, saatnya untuk memberikan makna bagi gerai-gerai
rakyat yang jumlahnya belum tersentuh pendataan resmi ini. Paling tidak, sebagai operator
yang mengklaim diri paling merah-putih --karena sahamnya mayoritas dimiliki
pemerintah-- PT Telkomsel memberikan semacam pelatihan penguasaan teknologi, baik teknis
maupun manfaatnya dari setiap produk yang dijajakan Telkomsel.
Akhirnya, gerai-gerai rakyat tidak hanya sebagai penjual, seperti halnya
pedagang rokok. Tetapi mereka menjadi perantara melek teknologi kepada konsumen.
Dengan demikian, penghargaan Customer Loyalty Award yang pernah diraih badan
usaha ini terus teraktualisasi. Yaitu, semangat memandu perkembangan teknologi selular di
masyarakat.