:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah Spirit Kalsel • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini

Hot Line
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Rabu, 14 Juni 2006 01:54


Keajaiban ‘Gerai-Gerai’ Pinggiran Jalan
(Caping 11 Tahun Kehadiran Telkomsel)

Oleh: Umi Sriwahyuni
Wartawan Banjarmasin Post

Harus diakui, masalah dan keinginan manusia tidak pernah habis. Apalagi jika hasrat itu tak terkontrol. Biar pun harta segunung, misalnya, tak pernah merasa cukup. Kendati pangkat memberati pundak, umpamanya, masih tak puas.

Bill Gates bisa jadi akan menyimpan cemburu terhadap Martin Cooper dalam hal menaklukkan pasar. Itu bila bos Microsoft Software Computer ini menyaksikan betapa mengguritanya jaringan pemasaran fasilitas selular hingga ke pelosok.

Khusus di Indonesia, kemudahan memperoleh komponen telepon selular itu dilayani oleh gerai besar sampai yang ada di pinggiran jalan yang terpencil, sekalipun.

Memang, Bill Gates terkenal dengan keberhasilannya membangun brand image sehingga antara nama Bill Gates dan Microsoft bagai bersenyawa. Sementara pengguna jasa telepon selular belum banyak yang tahu, di balik terjadinya revolusi selular di dunia saat ini ada nama bersejarah Martin Cooper.

Ya, sejarah 33 tahun lalu. Tepatnya 3 April 1973 ketika Cooper berhasil mendobrak dinding tebal rumah-rumah, kantor-kantor atau pabrik yang menjadi penyekat kabel telepon dengan alam luar.

"Sekarang orang menginginkan untuk bisa melakukan percakapan telepon tidak hanya di rumah, di kantor atau dalam mobil. Jadi, berikanlah pilihan agar mereka bisa melakukannya di mana saja," ujar Cooper saat itu.

Maka, di hari yang kemudian dicatat sebagai hari kebebasan berkomunikasi itu, Martin Cooper menyeberang satu jalan raya di New York sambil melakukan pembicaraan dengan seorang reporter sebuah radio yang tengah mengudara.

Saat itulah, orang-orang sekitarnya bukan hanya terheran-heran tetapi juga mendekat, mengelilingi Cooper. Mereka takjub, mana mungkin menelepon seseorang melalui benda seberat dua kilogram yang tanpa kabel.

Masa itu adalah berbarengan dengan saat Amerika melambungkan nama sang Presiden Richard Nixon, dan di pentas musik sedang mengorbitkan nama Elton John. Kedua nama besar itu dalam hitungan pekan saja sudah bisa mendunia. Sementara Martin Cooper masih memerlukan waktu sepuluh tahun ke depannya, hanya untuk mengeksplorasi teknik telepon selular yang tanpa kabel itu.

Tetapi, siapa sangka, pada tiga dasawarsa berikutnya selular melejit ke seluruh penjuru dunia. Melesat, secepat proses pengiriman suara itu sendiri.

Dia bukan saja menjadi fasilitas komunikasi, tetapi juga sebagai aksesori yang menggiring gaya hidup ratusan juta manusia. Inilah satu-satunya sejarah teknologi informasi yang akhirnya menjadi komponen dunia fesyen.

Memimpin Pasar

Setelah 22 tahun telepon selular menggelinding di berbagai negara di dunia, akhirnya masuk Indonesia. Ketika itu reaksi pasar tak jauh berbeda dengan yang terjadi di sebuah jalan raya kota New York pada 3 April 1973 itu: ragu, heran juga penasaran.

PT Telkomsel hadir sebagai salah satu operator sistem selular ini, bersama sejumlah nama lainnya. Awalnya, mereka harus berjuang melawan imej selular identik dengan kata ‘mahal’ karena setiap percakapan harus dikurs dengan biaya interlokal. Tingginya ongkos yang diperlukan sistem ini terus membayang-bayangi sosialisasi penggunaannya. Mau tak mau, konsumennya masih sangat terbatas.

Paling tidak itu terjadi hingga memasuki 1998, ketika reformasi politik bergulir di negeri ini dengan halaman Gedung DPR/MPR sebagai saksi. Ketika puluhan ribu mahasiswa terkurung di halaman wakil rakyat itu. Malam-malam penuh ketegangan itu telah menjadi pemisah mereka dengan orangtua yang cemas di rumah di Jakarta. Telepon selular yang masih terbatas kepemilikannya tiba-tiba tampil sebagai ‘pahlawan’.

Banyak ibu rumahtangga bisa mengikuti perkembangan terkini di pusaran detik-detik perpindahan kekuasaan di Jakarta ketika itu, cukup dari dapur mereka. Atau ruang keluarga. Itulah sebuah promosi cap jempol yang gratis bagi bisnis telepon selular Tanah Air.

Dan benar, enam tahun kemudian, di tahun 2004 Telkomsel mendapat acungan jempol pengamat dunia bisnis atas keberhasilannya memasarkan teknologi kepada 13 juta pelanggan, padahal awal 2003 mereka baru membukukan angka enam juta. Dua tahun kemudian, belum pertengahan 2006 ini, jumlah itu melonjak menjadi 27 juta pelanggan. Jumlah yang konon lebih besar dari angka pelanggan telepon biasa.

Dengan menguasai 53 persen pasar selular, PT Telkomsel yang kini berusia 11 tahun itu, mantap dengan posisi sebagai market leader di Indonesia dan mendapat anugerah Customer Loyalty Award, penghargaan atas prestasi di bidang memandu perkembangan teknologi selular.

Lalu, apa artinya angka 27 juta ini?

Bagi Telkomsel jelas ini bukan hanya sebuah prestasi, tetapi lebih dari itu adalah keberhasilan bisnis besar. Bukankah angka 27 juta berarti merengkuh 15 persen dari penduduk Indonesia yang sudah hampir 200 juta jiwa ini. Dan, bila satu keluarga Indonesia terdiri atas lima orang, angka 27 juta pemakai jasa selular menunjukkan Telkomsel sudah ada di genggaman lebih 50 persen rumah tangga Indonesia.

Suatu pelayanan yang luar biasa untuk sebuah produk jenis teknologi informasi, yang notabene bukan keperluan utama kebanyakan rakyat Indonesia.

Tetapi, yang mengagumkan sebenarnya adalah, dari angka 27 juta ini ternyata mampu menumbuhkan sektor ekonomi rakyat yang baru. Sektor yang boleh jadi sama sekali tidak pernah terpikirkan Cooper maupun Telkomsel sendiri. Itulah ‘gerai’ pinggiran jalan yang dimobilisasi rakyat ekonomi bawah. Tempat yang menyulap rombong rokok menjadi ‘gerai’ telepon selular.

Kini, jumlah mereka sangat banyak ‘mengawal’ hampir setiap jalan permukiman. Bahkan, dalam hitungan pandangan mata, jumlah mereka telah menggeser posisi rombong sigaret. ‘Gerai-gerai’ itu telah menjadi sebuah fenomena tentang jiwa wiraswasta banyak orang. Di sana, menjadi titik transaksi yang setiap saat siap menggerakkan angka digital yang dimiliki operator selular menjadi naik. Sekaligus, di sana pula, layanan paling dekat dengan konsumen, tercipta. Itulah ‘gerai-gerai’ yang dipilih pedagang sayur untuk melayani keperluan selularnya, ketika kehabisan pulsa di tengah perjalanan menjajakan dagangan. Padahal, benda itulah yang sekarang banyak diandalkan mereka sebagai sarana transaksi dengan ibu rumah tangga di kompleks perumahan. Mereka tidak akan memilih gerai sungguhan dengan berbagai pertimbangan, termasuk konsep ‘tidak familiar’.

Padahal, jumlah mereka sangat banyak. Mereka menjadi sel dalam sistem pelayanan Telkomsel sebagai operator selular terbesar di Indonesia. Dengan kata lain, ‘gerai-gerai’ rakyat ini ikut berperan dalam meraih angka 27 juta tadi.

Sebagai catatan pinggir (caping) untuk PT Telkomsel yang sibuk menapaki 11 tahun kehadirannya di Tanah Air, saatnya untuk memberikan makna bagi ‘gerai-gerai’ rakyat yang jumlahnya belum tersentuh pendataan resmi ini. Paling tidak, sebagai operator yang mengklaim diri ‘paling merah-putih’ --karena sahamnya mayoritas dimiliki pemerintah-- PT Telkomsel memberikan semacam pelatihan penguasaan teknologi, baik teknis maupun manfaatnya dari setiap produk yang dijajakan Telkomsel.

Akhirnya, ‘gerai-gerai’ rakyat tidak hanya sebagai penjual, seperti halnya pedagang rokok. Tetapi mereka menjadi perantara melek teknologi kepada konsumen.

Dengan demikian, penghargaan Customer Loyalty Award yang pernah diraih badan usaha ini terus teraktualisasi. Yaitu, semangat memandu perkembangan teknologi selular di masyarakat.


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


O P I N I
Keajaiban ‘Gerai-Gerai’ Pinggiran Jalan
(Caping 11 Tahun Kehadiran Telkomsel)

TAJUK - Kota Terkotor, Tanggung Jawab Siapa?


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123