BANJARMASIN, BPOST - Banyaknya ulama yang rajin ceramah di daerah-daerah bukan
jaminan dakwahnya efektif. Ini bisa dilihat sejauh mana perubahan yang ada dalam diri
masyarakat setelah mendapat pencerahan dari ulama itu.
Untuk memudahkan ceramah, diperlukan sebuah peta yang memuat kondisi geografis daerah
tersebut, keberagaman masyarakat serta corak budayanya. Tanpa memperhatikan aspek
tersebut, dakwah yang dilakukan dipastikan sia-sia karena orang sulit memahaminya.
Mengusung alasan tersebut, Bidang Dakwah dan Pembinaan Masyarakat MUI Kalsel, bakal
menggelar pelatihan penelitian dakwah yang bertempat di Tabalong 29-30 Juni.
"Kalau mubaligh sebelum dakwah tidak tahu kondisi daerah yang akan diceramahi,
dakwah yang dilakukan pasti tidak akan mencapai hasil maksimal. Isi ceramahnya hanya lewat
saja," ujar Ketua Bidang Dakwah MUI Kalsel, HM Yusran Salman, didampingi Bidang
Humas, Irhamsyah Safari.
Dijelaskannya, materi dakwah yang disampaikan kepada penduduk yang mata pencahariannya
bertani dengan pegawai sangat berbeda. Termasuk, warga yang sudah mapan perekonomiannya
dengan yang bukan. "Tingkat ekonomi penduduk lemah dan pendidikkan rendah, kalau
diceramahi masalah zakat, shadaqoh dan infaq jelas tidak nyambung. Karena mereka saja
perlu uluran tangan dari orang lain. Itu salah satu contohnya," cetusnya.
Oleh karena itu, perlu ada pemetaan. Mengingat data base seperti itu di Kalsel
belum ada, maka tidak jarang para penceramah yang lihai dalam metode ceramah, mengalami
kesulitan memberikan materi dakwah.coi