TIGA puluh tahun lebih, Bakri, Anang dan kawan-kawan mengandalkan biaya hidup
dari penumpang yang mau membonceng di sadel sepeda motornya.
Mereka ngepos di kawasan Jalan Haryono MT Banjarmasin. Di sana, berlauk
angin dan hiruk pikuk jalanan, mereka memperbincangkan suka duka perjalanan hidup.
"Sekarang tarikan sulit. Dua, tiga kali saja bisa menarik dalam seharinya sudah Alhamdulillah.
Soalnya, kini banyak orang punya kendaraan sendiri," Bakri membuka cerita tentang
kondisi sepi ojekan belakangan ini, Rabu (27/6) pagi.
Dia lalu membandingkan dengan 10 tahun lalu, di mana penghasilan ojekan rata-rata Rp 30
ribu per hari. Nilai uang demikian, disebutnya tergolong makmur bila dikurs dengan harga
keperluan sehari-hari saat itu.
Anang yang duduk di sebelahnya pun manggut-manggut. Sementara yang lain berdiri di
samping kendaraan ojek masing-masing. Sesekali obrolan di pagi hari itu terhenti karena
satu di antara mereka tiba-tiba bertepuk tangan nyaring, isyarat menawarkan jasa kepada
pejalan kaki yang ada di trotoar seberang jalan.
Anang menyadari, persaingan jasa ojek semakin ketat. Walau dia mangkal sejak pukul
tujuh pagi, tak membantu menambah tarikan. Dia menyebut, munculnya banyak lembaga
finansial, menjadi gairah bagi masyarakat untuk memiliki sepeda motor dengan cara kredit.
Ada yang untuk dipakai sendiri, banyak pula untuk ojek sampingan. Misalnya, tak sedikit
PNS ngojek malam hari. Jumlah yang demikian ini terus bertambah. Ibarat sepotong kue
kecil, lahan ojekan kini diperebutkan banyak kalangan.
"Tadi malam saja, ada sepuluh truk mengangkut kendaraan baru, melintasi rumah saya
di kawasan Trisakti. Bagi ojek seperti kami, itu sudah menjadi isyarat pasaran semakin
ketat", ujar Anang.
Pangkalan ojek Bakri dan kawan-kawan, seperti halnya kebanyakan pangkalan lain, kini
tampak bak pelangi karena dihiasi aneka warna dan merek kendaraan mereka. Banyak yang
baru, pula. "Ini kreditan, cicilannya sekitar Rp 500 ribu per bulannya", Anang
menimpali.
Anang mengaku beruntung, istrinya ikut mencari nafkah dengan berjualan, sehingga
masukan keuangan bertambah. Sementara banyak pengojek berstatus pencari nafkah tunggal,
harus tekor, akhirnya kendaraan disita. Bahkan tak sedikit pangkalan pelangi terpaksa
bubar karenanya.uum