- Petambak Kotabaru rugi besar
- Ditolak importir Eropa
KOTABARU, BPOST - Sekitar 100 hektare tambak udang di Desa Stagen dan Desa
Sungai Taib Kecamatan Pulau Laut Utara, Kotabaru, diserang Bintik Putih (White Spot).
Penyakit menular tersebut membuat sekitar 20 petambak rugi karena benur mati sebelum usia
panen.
Jadi Penambang
Nasib apes juga diderita petambak udang di
Desa Muara Kintap Kecamatan Kintap, Tanah Laut. Mereka mulai kesulitan memenuhi kebutuhan
hidup setelah tambak udangnya disapu banjir dua pekan lalu.
"Puluhan ribu ekor udang dan ikan tambak milik
saya musnah. Padahal sebagian siap dipanen," tutur H Junaid, Rabu (27/6).
Fakta buruk itu tak hanya menimpa Junaid. Lebih
dari 100 kepala keluarga, yang mengandalkan matapencaharian sebagai petambak, mengalami
nasib serupa. Hanya kerugian terbesar diderita Junaid karena tambaknya terluas yakni
mencapai 30 hektare.
Tidak diketahui secara detil berapa total kerugian
petambak Muara Kintap. Namun Junaid memastikan tiap petambak rugi puluhan juta.
Petambak kini benar-benar kebingungan. Mereka tidak
memiliki modal untuk kembali mengolah tambaknya. "Jangankan mengisi tambak, untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja banyak yang kesulitan," ujar Junaid.
Beberapa warga kini banting setir menjadi penambang
batu bara manual. Jika mujur, sehari bisa mengantongi sekitar Rp 50 ribu. Namun usaha ini
tidak gampang. Selain membutuhkan kerja ekstra keras, lahan galian tambang banyak yang
terendam.
Kadis Perikanan dan Kelautan Tala Ir H Soetrisno
belum berhasil dikonfirmasi karena sedang melakukan penyuluhan terhadap nelayan di Desa
Swarangan Kecamatan Jorong. roy |
Purwoko, petambak udang air payau di Stagen, mengatakan Bintik Putih menyerang sejak
dua tahun lalu. Namun tiga bulan terakhir ini semakin parah.
Menurutnya, udang Tiger kualitas ekspor biasanya mulai terserang saat berumur 18 hari
sampai dua bulan. Setelah terdapat bintik putih seperti panu di tubuhnya, beberapa saat
kemudian udang mati.
Agar tidak terlalu rugi, petambak memanen udang lebih awal. "Udang seharusnya
dipanen ketika berumur tiga bulan, tapi kini sebulan sudah kita panen," ujar Purwoko.
Dari 15 ribu benur seharga Rp 495 ribu yang ditabur di sepetak tambak seluas empat
hektare, Purwoko hanya dapat memanen empat kilogram udang seharga Rp 180 ribu. Satu
kilogram udang dihargai Rp 35 ribu.
Kerugian semakin besar karena, Purwoko telah mengeluarkan Rp 500 ribu untuk membeli dua
kuintal pupuk Ponskal dan Rp 45 ribu untuk racun Tiodan.
Tiodan ditabur guna mencegah penyakit. Ternyata racun tersebut tak sanggup menahan
Bintik Putih.
Padahal sebelum Bintik Putih menyerang, Purwoko biasanya menabur 20 ribu benur yang
menghasilkan 465 kilogram udang Tiger. Saat ini Purwoko dan sejumlah petambak hanya
menabur sekitar 15 ribu benur.
Koordinator Laboratorium dan Tim Monitoring dari Balai Budidaya Air Tawar dan
Laboratorium Kesehatan Ikan se-Kalselteng,
Jamilah, mengatakan Bintik Putih semakin membuat udang Kotabaru ditolak importir Eropa
dan Asia.
"Sebelumnya pasar dunia menerapkan peraturan tidak menerima udang yang tercemar
antibiotik, mengandung residu, logam dan lainnya. Itulah sebabnya harga udang kita di luar
negeri anjlok. Kita sering meminta petambak tidak menggunakan racun seperti Tiodan dan
Akodan," terang Jamilah saat meninjau tambak udang di Pulau Laut Utara.
Jamilah menjelaskan Bintik Putih tidak hanya menyebar karena faktor lingkungan.
Penyakit ini bisa jadi telah ada pada benur.
Untuk mencegahnya perlu sterilisasi tambak, misalnya menjaga sanitasi air, tidak
menggunakan pestisida dan tidak menggunakan tambak yang sudah terserang penyakit. Udang
yang terserang Bintik Putih, menurut Jamilah, tetap aman untuk dikonsumsi.dhs