Rokhmin Dahuri. Selama tiga bulan terakhir, mantan menteri kelautan dan perikanan
ini selalu menjadi bahan pembicaraan. Betapa tidak. Dia telah membagi-bagikan uang kepada
banyak orang. Sayang, uang itu haram.
Rabu (27/6), Rokhmin harus duduk di kursi terdakwa dalam persidangan di PN Tipikor,
Jakarta. Tim jaksa penuntut umum (JPU) yang dipimpin Tumpak Simandjuntak mengajukan
tuntutan enam tahun penjara.
Dia bersama mantan Sekjen DKP Andin H Taryoto yang sudah divonis 1 tahun 6 bulan,
didakwa melakukan pungutan sebesar Rp 11 miliar. Selain itu Rokhmin juga didakwa telah
menerima hadiah satu unit mobil Toyota Camry, uang sebesar 5.000 dolar AS dan biaya naik
haji Rp 15 juta.
Rokhmin dengan tenang mendengar tuntutan itu. Namun, tidak demikian dengan ratusan
nelayan yang berada di kursi pengunjung.
Jeritan ibu-ibu tiba-tiba membahana di ruang sidang. Mereka menangis histeris.
"Kasihan Pak Rokhmin. Dia orang baik. Masak jaksa tega menghukum Pak
Rokhmin," ujar seorang ibu.
Suasana kian kacau ketika seorang laki-laki dengan emosi berteriak-teriak.
"Allahu akbar, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) zalim. Masak Pak Rokhmin
saja yang kena. Freddy Numberi (menteri kelautan dan perikanan) harusnya ikut diperiksa
dan ditangkap KPK," teriaknya sambil berjalan mendekati tim JPU.
Namun langkah pria yang mengenakan kemeja batik itu terhenti karena diadang dua
petugas. Laki-laki itu makin emosi. Dia terus berteriak mengecam JPU saat diseret keluar
ruang sidang.
Pengacara Rokhmin, M Assegaf pun ikut sibuk. Dia menenangkan ibu-ibu yang melampiaskan
emosinya dengan menangis. "Ibu-ibu, sekarang berdoa saja ya, biar Pak Rokhmin
bisa diringankan hukumannya atau malah dibebaskan," bujuk Assegaf.
Ibu-ibu itu pun serempak menyahut, "Iya Pak. Pak Rokhmin kan orangnya baik,
kok dihukum."
Melihat situasi ricuh ini, Ketua Majelis Hakim Mansyurdin Chaniago langsung menutup
persidangan. Rokhmin pun dengan tenang keluar ruangan menuju mobil tahanan menuju Rutan
Mabes Polri. "Jaksa telah menzalimi saya," tukasnya.
Sebelum memadati ruang sidang, para nelayan beserta keluarganya ini berdemo di Bundaran
Hotel Indonesia. Mereka menyerukan tuntutan pembebasan Rokhmin. Para nelayan yang mengaku
dari Brebes, Cirebon, dan Indramayu tersebut berdiri mengitari Bundaran HI sambil
membentangkan spanduk besar bertuliskan Rokhmin Dahuri Bapak Nelayan.
Menurut koordinator aksi Dade Mustafa, aksi ini untuk menarik perhatian publik,
sekaligus sebagai bentuk dukungan kepada Rokhmin.
"Kita ingin nama baik Pak Rohkmin dipulihkan dan dibebaskan dari dakwaan hukum.
Kalau ingin adil, Sarwono Kusumaatmadja dan Freddy Numberi juga harus diperiksa,"
kata Dade.
Setelah puas berteriak-teriak selama satu jam di Bundaran HI, massa long march
ke istana merdeka untuk melanjutkan aksinya.
Sorenya, dengan mengendarai 7 bus besar, mereka menuju Mabes Polri untuk menemui
Rokhmin. Setelah bersitegang dengan petugas, mereka menemui Rokhmin dengan bergiliran.
Sepuluh ibu menjadi rombongan pertama. Rokhmin yang mengenakan kemeja lengan pendek merah
bermotif kotak-kotak sudah siap menyambut mereka di depan ruang tahanannya.
Suasana mengharu biru saat ibu-ibu tersebut mencium tangan Rokhmin. Linangan air mata,
ciuman tangan serta pelukan dari ibu-ibu tersebut langsung diterima Rokhmin. Dia pun
dengan senyum mengembang menenangkan mereka dan mengucapkan terima kasih.
"Ya, sudah ketemu Pak Haji (panggilan mereka pada Rokhmin), Alhamdulillah,"
ucap seorang ibu usai bertemu Rokhmin. JBP/yls/dtc