MEMPRIHATINKAN. Itulah ungkapan untuk menggambarkan nasib para pedagang kaki
lima (PKL) Pasar Batuah yang kini telah dipindah ke Pusat Perbelanjaan Sekumpul (PPS)
Martapura.
Sehari, ada hanya yang memperoleh penghasilan Rp 2 ribu. Bahkan, ada yang tidak
mendapat penghasilan sepeser pun dalam seminggu berjualan.
Pantas saja mereka berteriak kepada bupati dan dewan atas pemindahan pasar tersebut.
Pasalnya, mereka harus mengisi perut termasuk memberi makan dan menyekolahkan anak-anak.
Kini, mereka hanya menggantungkan nasib kepada pejabat dan dewan atas nasib yang menimpa
itu.
Agus misalnya. Selasa (26/6) hanya memperoleh uang Rp 6 ribu, sementara Rabu (27/6)
hingga pukul 12.00 belum mendapat penghasilan sepeser pun. Padahal, dia harus menghidupi
istri dan empat anaknya. Untung saja, satu anaknya sudah sembuh.
Beberapa hari terakhir anaknya mengeluh sakit panas. Dia hanya mengobati balitanya itu
dengan obat pasaran saja. Untuk ke puskesmas dia tidak punya kartu berobat gratis. Apalagi
ke dokter, hanya merupakan mimpi yang tak akan pernah terbeli.
"Yang bisa saya lakukan hanya berdoa dan terus berdoa. Saya masih berharap ada
pemimpin yang memperhatikan nasib kami. Bagaimana saya bisa menyekolahkan anak saya kalau
penghasilan saya seperti ini terus," keluh Agus. Meski perutnya kosong, dia masih
memperhatikan pendidikan anaknya.
Keluhan Agus ini, juga dirasakan oleh ratusan PKL lain di kawasan setempat.
Rekan-rekannya juga kesulitan biaya hidup setelah dipindah ke PPS tersebut.
Dewan setempat juga tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah melakukan inspeksi mendadak
(sidak), mereka hanya bisa merasa kasihan. Belum ada agenda khusus menyelesaikan persoalan
sosial dan hidup menyangkut ribuan masyarakatnya tersebut.
Andin Supian Noor, anggota Komisi II Dewan Banjar, mengatakan, pemindahan tersebut
masih mementingkan citra, sementara persoalan sosial dan kehidupan para PKL belum
tersentuh. sigit