MELEPASKAN diri dari ketergantungan Narkoba, ternyata sangat sulit. Begitu pula
perjuangan yang dilakukan Dody (30). Pria asal Medan, Sumetara Utara ini berjuang
mati-matian melepaskan diri barang haram tersebut.
Ditemui pusat Rehabilitasi Narkoba Galilea Jalan Rajawali KM 7 Palangka Raya, Senin
(26/7), Dody sangat santai bercerita tentang pengalamannya ketika mulai tergantung dengan
Narkoba.
Karena kesulitan mendapatkan Narkoba, dia bersama seorang temannya asal Taiwan
memproduksi ekstasi. Semula obat itu hanya untuk kebutuhan mereka berdua. Namun setelah
rekannya banyak yang tahu pesanan pun mengalir.
"Kami memproduksi pil haram itu sekitar 1994-1995. Kebetulan teman saya itu
seorang ahli kimia sehingga dia tahu betul racikan obat," kenangnya.
Meski Medan tergolong kota besar, Dody mengaku untuk mendapatkan bahan baku pil ekstasi
sangat sulit. Mereka harus membelinya diam-diam. Dijual pun hanya kepada orang yang
betul-betul dikenal.
"Kami memproduksi itu tergantung pesanan dari diskotik, berapa diskotik berupa
akan kami penuh. Produksi kami saat itu 500 butir per hari," imbuhnya.
Namun Dody akhirnya sadar, langkahnya itu salah. Dengan berjuang tenaga dia akhirnya
meninggalkan kebiasaan buruknya itu. Kemudian merantau ke Palangka Raya.
Di kota Cantik itulah, Dody berusaha menebus dosa-dosanya. Dia masuk Pusat Rehabilitasi
Narkoba Galilea Jalan Rajawali. Kesibukanya saat ini adalah membina 17 pecandu narkoba
yang sedang menjalani perawatan di pusat rehabilitasi tersebut. ck3