Oleh: Alip Winarto SHut MSi
Staf Badan Diklat Kalsel
Hutan merupakan sebuah bioekosistem yang memainkan peran penting dalam mendukung
pembangunan ekonomi, sekaligus penyedia pelayanan berbasis lingkungan. Beberapa waktu lalu
LSM internasional ternama Green Peace mengeluarkan pernyataan yang cukup memerahkan
telinga. Bagaimana tidak, ketika itu Indonesia disebut-sebut direkomendasikan sebagai
pemecah rekor perusak hutan tercepat di dunia.
Seiring dinamika pembangunan di negeri ini, sumber daya hutan (SDH) memang telah
mengalami penurunan dari kualitas dan kuantitas. Hal ini diakibatkan adanya akses terhadap
SDH yang memang tidak bisa dihindarkan. Aktivitas itu berlangsung secara legal dan illegal,
untuk keperluan sektor kehutanan maupun nonkehutanan. Perlahan tapi pasti, keanekaragaman
hayati yang dikandung hutan dihadapkan pada penurunan. Bahkan ada kekhawatiran suatu saat
keanekaragaman hayati akan sampai pada ketegori paling kritis, yaitu musnahnya spesies
flora dan fauna. Fungsi ekonomi dan nonekonomi juga ikut hilang seiring musnahnya SDH.
Tidaklah berlebihan kalau hutan kemudian sering disebut sebagai paru-paru dunia. Hutan
menjadi salah satu komponen utama dalam mendukung siklus alami dan berbagai proses
berlangsungnya kehidupan organisme di muka bumi ini. Dasar Ilmu Alam yang kita pelajari
menegaskan, tumbuhan hijau adalah produsen oksigen.
Meskipun banyak yang menyadari betapa pentingnya SDH, degradasi dan deforestasi dengan
berbagai tujuan adalah sesuatu yang tidak mungkin terhindarkan. Sejak lama ahli
menyatakan, hutan punya peran sangat penting dalam menjaga ketersediaan oksigen dan zat
lain yang dibutuhkan organisme yang hidup di bumi.
Berdasarkan uraian tersebut, tanaman hijau memiliki andil cukup besar dalam mendukung
aktivitas kehidupan organisme di muka bumi. Hutan punya andil yang signifikan dalam
menyuplai oksigen bagi seluruh organisme di muka bumi. Sementara manusia yang konon
disebut sebagai organisme atau makhluk hidup paling beradab dan top manajement
dalam pengelolaan SDH, memiliki peran kunci dalam menentukan keberlangsungan SDA. Manusia
sebagai konsumen utama bisa saja menjadi penghancur utama (destroyer), atau
sebaliknya pelindung SDH.
Sebagai makhluk yang memiliki kemampuan berpikir dan bernalar, maka manusia menjadi
komponen penentu dalam sebuah ekosistem. Baik buruknya eksosistem sangat ditentukan oleh
perilaku manusia. Oleh karena itu, semestinya kita menunjukkan kepedulian dengan berperan
aktif menjaga berbagai siklus alam agar tetap berlangsung dengan azas alaminya dan
keseimbangannya tetap terjaga. Kita bisa melakukan gerakan rehabilitasi dan konservasi
hutan, mengurangi polusi udara dan air, penghematan pemanfaatan SDH, menanam pohon dan
sebagainya. Upaya itu bisa dilakukan baik secara perorangan maupun kolektif. Upaya lembaga
pemerintah dan nonpemerintah yang selama ini mendorong, memfasilitasi dan menjadi teladan
dalam menyukseskan gerakan ini harus kita dukung sepenuh hati.
Seandainya, satu manusia di muka bumi ini melakukan gerakan menanam pohon, cukup satu
pohon. Berarti, satu manusia telah menyumbangkan sebuah mesin/produsen oksigen. Dengan
asumsi di muka bumi ini terdapat sekitar lima miliar manusia, maka akan ada lima miliar
pohon baru yang nantinya otomatis berfungsi sebagai penyuplai oksigen bagi semua organisme
di muka bumi.
Juga, seandainya saja hutan di muka bumi ini dipertahankan sekitar 40% dari luas
daratan, pepohonan yang ditanam manusia dapat membuat kita sedikit bernafas lega. Satu
pohon yang kita tanam itu, akan menghasilkan oksigen bersama pohon lainnya. Secara tidak
langsung kita juga memberikan kontribusi nyata dalam memperbaiki kualitas lingkungan dan
atmosfer, serta siklus air dan alam lainnya. Bahkan bukan itu saja. Secara ekonomis di
masa akan datang, pohon itu dapat diambil manfaat ekonomisnya. Jadi, menanam pohon untuk
kehidupan, mengapa tidak!
e-mail : alip_winarto@yahoo.com