Oleh: Irfan Noor Laily Mansur
Mahasiswa S3 Universitas Utara Malaysia asal Banjar
Tragedi kemanusian kembali menimpa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.
Sebagaimana diberitakan, seorang TKW asal Brebes bernama Ceriyati mencoba lari dari lantai
15 sebuah kondominium di Kuala Lumpur. Aksi nekat itu terpaksa dilakukannya, karena ia
sudah tidak tahan atas perlakuan majikannya yang sering menyiksanya.
Mengapa kehadiran TKI seharusnya mewujudkan adanya hubungan simbiosis mutualisme antara
Indonesia sebagai negara pengirim dan Malaysia sebagai penerima? Pertanyaan ini bisa
dijawab dengan menarik persoalan ini kepada akar historis keberadaan TKI di Malaysia.
Keberadaan TKI di Malaysia tidak bisa dilepaskan dari pertemuan rahasia Presiden
Soeharto dengan PM Tun Abdul Razak awal 1974. Pertemuan politis itu memutuskan perlunya
mendatangkan TKI ke Malaysia. Pemerintah Malaysia hendak mengimbangi jumlah etnik China
yang dikhawatirkan bisa mengancam ketahanan politik etnik Melayu. Soalnya, Pemilu 1969
menunjukkan indikasi politik demografi yang mencemaskan Partai UMNO. Kerusuhan rasial 13
Mei 1969 memunculkan formula baru Pemerintah Malaysia yang bertuankan, dan memberi hak
istimewa kepada etnik Melayu.
Pascapertemuan dua pemimpin negara serumpun itu, sekitar 1975 gelombang pertama ratusan
ribu TKI menyeberang ke Malaysia. Semula mereka bekerja di sektor pendidikan, perdagangan,
jasa dan pertanian. Malaysia bahkan mengimpor ratusan guru dan dosen untuk membantu
ketahanan politik Melayu.
Pada dekade 1930-an hingga 1950-an negeri bekas koloni Inggris ini memiliki perkebunan
karet amat luas, namun tidak membutuhkan banyak tenaga kerja. Tetapi sejak 1960-an,
Malaysia melakukan diversifikasi ke tanaman Sawit. Semula hanya seluas 20.000 hektare,
lalu berkembang cepat jadi 2,47 juta hektare. Hal ini membuat Malaysia mengalami
kekurangan tenaga kerja di 226 ladang kelapa sawit dan karet. Minimnya tenaga kerja itu
mengakibatkan Malaysia rugi lebih 31 juta RM dalam perdagangan karet, dan lebih dari 26
juta RM dalam perdagangan kelapa sawit.
Keadaan itu yang memaksa Pemerintah Malaysia membuka pintu bagi TKI gelombang kedua
yang diplot bekerja kasar sebagai pekerja di perkebunan. Malaysia memberi iming-iming
kontraprestasi tinggi; gaji PRT sekitar 400 RM atau setara Rp 1 juta per bulan. Besarnya
gaji ini yang menjadi magnet bagi TKI merantau ke Malaysia.
Ekonomi Malaysia pada paro kedua 1980-an melejit berkat TKI gelombang kedua, yang
diperkuat perjanjian Indonesia-Malaysia pada 1985 di Medan. TKI gelombang kedua ini yang
mulai membawa implikasi sosial, politik dan keamanan terhadap Malaysia. Orang Melayu
merasa mulai tersaingi. TKI gelombang pertama pun menganggap mereka sebagai kompetitor.
Pada 1990-an terjadi gelombang ketiga kedatangan TKI. Sejak gelombang ketiga ini muncul
istilah pendatang haram. TKI yang menyerbu Malaysia jauh lebih besar dari jumlah
sebelumnya. Mereka kebanyakan hanya bermodal dengkul. Mereka ini yang hingga kini
menimbulkan persoalan serius. Kini, etnik Melayu menganggap mereka melulu sebagai beban
baik bidang sosial, ekonomi, maupun keamanan.
Habis manis sepah dibuang. Begitu simpul Alfitra Salam, peneliti Puslitbang Politik dan
Kewilayahan-LIPI (Tempo, 22/7/01). Sesudah Malaysia menikmati penguatan politik
berkat TKI gelombang pertama dan pertumbuhan ekonomi berkat TKI gelombang kedua, kini TKI
gelombang ketiga diuber-uber.
Malaysia berkali-kali menggelar operasi besar-besaran untuk menghadang TKI. Wilayah
operasi memanjang dari Pulau Langkawi sampai Tanjung Piai di Johor. Pada 2000, operasi
berhasil mendeportasi 88.000 pendatang haram Indonesia.
Dengan kenyataan demikian, patut kiranya Pemerintah Indonesia menunjukkan sikap politik
yang tegas terhadap Malaysia untuk memberikan perlindungan hukum kepada pekerja kita di
sana.
Dengan ketegasan sikap politik dari Pemerintah Indonesia ini, diharapkan pemerintah dan
rakyat Malaysia menyadari bahwa kehadiran TKI merupakan kebutuhan riil mereka dalam
membangunan bangsanya. Kebutuhan riil itu yang menjadi dasar terjadinya pertemuan
bersejarah antara Presiden Soeharto dengan PM Tun Abdul Razak awal 1974. Itu artinya,
terlepas dari berbagai persoalan yang ada, kehadiran TKI merupakan sumbangan terbesar
Indonesia terhadap kemajuan Malaysia. Malaysia, sebagai suatu negara yang membangun dengan
pesat, memerlukan pekerja asing karena kapital pekerja di Malaysia itu jelas tidak
mencukupi. Dengan demikian, kemegahan dan kejayaan Malaysia dicapai bukan dengan tenaga
rakyat Malaysia semata.
Apa balasan Malaysia? Yang ada hanyalah kampanye besar-besaran untuk mengusir TKI
setelah mereka merasa menjadi negara maju. Pada saat yang sama, seorang warga Malaysia
bernama Dr Azahari justru datang ke Indonesia untuk menjalankan teror bom di mana-mana.
Aksinya, justru membuat citra Indonesia di mata internasional menjadi buruk.
Oleh karena itu, dengan momentum Ceriyati ini sepatutnya Pemerintah Indonesia bersikap
tegas untuk sebuah harga diri bangsa di mata bangsa lain.
e-mail: irfan_al.alabij@yahoo.com.my