Badan gemuk lambang kemakmuran. Anggapan itu kini sudah berubah total. Pasalnya,
berat badan berlebih erat kaitannya dengan penyakit. Kegemukan yang secara umum ditandai
dengan perut buncit telah menjadi wabah baru di dunia, tak terkecuali Indonesia.
Menurut dr Adiputro SpJP, perut buncit membuat tubuh rentan terhadap penyakit jantung,
stroke dan diabetes mellitus yang berkaitan dengan risiko kardiometabolik.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RSUD Ulin Banjarmasin tersebut mengatakan,
penyakit jantung dan stroke merupakan penyebab kematian paling tinggi dibandingkan kanker,
diabetes dan penyakit saluran napas bagian bawah.
Untuk mengetahui risiko kardiometabolik, caranya cukup mudah dan murah tanpa memerlukan
pemeriksaan laboratorium, yaitu dengan mengukur lingkar pinggang.
Ukuran lingkar pinggang bisa digunakan sebagai parameter untuk mengetahui risiko
terhadap penyakit akibat gaya hidup tidak sehat tersebut.
Pada pria, umumnya kegemukan terjadi lebih awal, yakni pada usia sekitar 25 tahun.
Sementara pada wanita biasanya setelah 40 tahun atau memasuki masa menopause. Peningkatan
berat badan ini terjadi karena adanya penumpukan lemak. Pada pria, penumpukan lemak
terjadi di daerah perut, sedangkan wanita di pinggul dan paha.
Untuk pria Indonesia, disebut kegemukan bila lingkar pinggangnya di atas 90 cm,
sedangkan wanita dianggap gemuk bila lingkar pinggangnya melebihi 80 cm. Cara mengukurnya,
dengan cara mengukur lingkar pinggang tepat melewati pusar.
Penetapan angka 90 cm bagi pria, karena pada batas angka tersebut telah ditemukan
berbagai risiko penyakit degeneratif, misalnya kadar gula darah melebihi batas normal.
Dari berbagai penelitian didapatkan adanya peningkatan risiko diabetes melitus tipe dua
pada orang-orang dengan lingkar pinggang 90 cm.
Selain itu, pada orang gemuk ditemukan peningkatan trigliserida yang lebih menonjol
dibanding kolesterol total, penurunan HDL (kolesterol baik) dan peningkatan LDL
(kolestenol jahat), resistensi insulin (ketidakmampuan tubuh merespon dan menggunakan
insulin secara semestinya).
Pada keadaan resistensi insulin tersebut diperlukan lebih banyak insulin agar darah
bisa masuk ke dalam sel. Keadaan ini akan membuat kadar insulin meningkat untuk
mengimbangi resistensi insulin. Padahal, insulin juga berkaitan dengan pembentukan lemak
tubuh (lipogenesis).
Karena itu, penyandang sindroma metabolik akan bertubuh gemuk, karena darahnya banyak
mengandung insulin. Penumpukan lemak yang berisiko ke arah diabetes akan terjadi bukan
hanya di dalam jaringan bawah kulit di daerah perut, tetapi juga di sekeliling organ-organ
yang ada di dalam perut. Sehingga tubuh penderita diabetes berbentuk buah apel. Selain
itu, tekanan darah juga tinggi.
Penyakit yang berkaitan dengan kegemukan disebut sindroma metabolik yang akan
meningkatkan risiko kardiometabolik, kata Adiputro.
Risiko kardiometabolik bukanlah penyakit, tapi merupakan sekelompok gangguan yang
secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama dapat meningkatkan risiko terhadap penyakit
jantung koroner (PJK) dan diabetes.
Ada lima hal yang bisa menjadi indikasi terjadinya sindroma kardiometabolik, yakni
berlebihnya ukuran lingkar pinggang, tekanan darah, kadar glukosa darah, kadar
trigliserida dan menurunnya kadar HDL.
Kalau Anda mengalami tiga hal saja di antara lima indikator tersebut, sudah dapat
dikatakan Anda menderita sindroma metabolik, kata Adiputro.
Jika dikaitkan dengan penyakit jantung koroner, maka terdapat peningkatan 1 persen
risiko terkena PJK untuk setiap kenaikan 1 mg/dl kolesterol LDL.
Oleh karena itu, usahakan untuk selalu rendah kadar kolesterol LDL Anda (di bawah 130
mg/dl) dan rendah kolesterol total (di bawah 200 mg/dl)
Disebutkan, risiko terjadinya sindroma kardiometabolik makin muda, karena sekarang ini
banyak anak-anak yang kurang bergerak. Mereka juga tidak memperhatikan makanan. Anak-anak
sering tidak bisa mengontrol cara makan dan jenis makanan, karena mereka masih
menggantungkan perhatian orangtuanya. Jadi, orangtualah yang harus jeli mengontrol makanan
anak, tandasnya. drt