INAH bergegas bangun pagi. Setelah menyuci wajahnya, dia segera mengambil
jeriken dan berlari-lari kecil ke pangkalan minyak tanah (mitan) yang tak jauh dari
rumahnya.
Ternyata, Inah masih kalah cepat dengan tetangganya. Sebab meski jam belum menunjukkan
pukul 07.00 WIB, ratusan jeriken telah berjejer di pangkalan itu. Jeriken milik Inah pun
terpaksa ditaruh di belakang jeriken lainnya.
Hampir tiga jam menunggu, warga Pahandut, Palangka Raya ini, tak mendapat satu liter
mitan pun. Ibu satu anak ini kembali pulang ke rumah dengan tahan hampa.
"Terpaksa hari ini saya tak memasak, setetes mitan pun tak lagi saya miliki. Lalu
mau masak pakai apa," keluhnya.
Keluhan seperti itu tak hanya terlontar dari mulut Inah, namun hampir setiap hari
ratusan ibu-ibu di Palangka Raya menggerutu gara-gara tak mendapatkan bahan bakar untuk
kompor minyak itu.
Hampir satu bulan mitan di Palangka Raya memang sulit didapat. Kalau pun ada harganya
sangat tinggi yakni Rp5.000 per liter, padahal sesuai harga eceran tertinggi (HET) yang
dikeluarkan Pemko setempat harga mitan Rp3.250 per liter.
Untuk mengatasi kelangkaan itu, dinas terkait telah melakukan operasi pasar di berbagai
pangkalan yang ada, namun hingga, Jumat (7/7), ini ternyata kelangkaan tersebut juga belum
bisa diatasi.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Palangka Raya Drs Burhanudin mengaku, sudah
membentuk tim yang mengawasi distribusi mitan di agen dan pangkalan.
"Apabila ada agen atau pengecer yang menjual mitan melebihi yang ditetapkan atau
menimbun mitan akan kita tindak," kata Burhanudin.
Menurutnya, sejak kelangkaan mitan di kota Palangka Raya, tim yang terdiri dari
Disperindagkot, Pol PP dan polisi sudah memantau ke lapangan serta menghimbau pengecer dan
agen agar menjual mitan sesuai HET.
Selain melakukan pengawasan, lanjutnya, tim juga membuka pintu bagi pengaduan atau
laporan masyarakat, apabila di lapangan dijumpai ada agen atau pengecer yang menjual harga
minyak tanah tidak sesuai dengan ketentuan. "Mereka bisa melapor kepada pihak
kami," imbuh Burhan.
Menurutnya, mereka akan berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, sesuai
dengan visi Perindakop Kota Palangka Raya yaitu menjadi Pendorong tumbuh dan berkembangnya
industri perdagangan dan koperasi yang berdaya saing, tertata dan tertib.
Awi, penjaga pangkalan mitan 76 Jalan S Parman mengaku pihaknya sebulan ini baru
mendapatkan satu kali jatah mitan dari Pertamina, padahal yang dibutuhkan warga RT 10
cukup banyak.
"Sejak pagi tadi pangkalan Mitan PT Bersama diserbu warga, bahkan menimbulkan
antrean panjang," ujar Awi. ck1