KEKACAUAN penerima siswa baru sekolah menengah pertama (SMP) melalui sistem online
di Kota Banjarmasin, merupakan bukti ketidakmampuan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin
menerapkan kemajuan teknologi.
"Bukan kemudahan yang didapat para orangtua siswa. Tapi, kini justru rasa was-was
dan khawatir serta ketidakpastian masa depan pendidikan putra-putra mereka," kata
pakar pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Sutarto Hadi.
Menurut Sutarto kepada BPost, Sabtu (8/7), para orangtua bisa saja menuntut dan
menekan pihak dinas pendidikan. Sebab, harapan manis yang dijanjikan justru menghasilkan
rasa khawatir dan ketidakpastian bagi para orangtua.
"Makanya, kalau sumber daya manusia (SDM)nya belum siap, jangan menggunakan
teknologi tinggi," ujarnya.
Apalagi, sebut Sutarto, dengan memakai sistem online tentu membutuhkan dana yang
tidak sedikit. Dari sini, lanjut dia, Disdik sudah jauh-jauh hari menyiapkan SDM yang
benar-benar punya kompetensi terkait sistem tersebut.
Meski proses pendaftaran calon siswa tidak dikenai biaya, sebut dia, namun ada dana
yang berasal dari program kompensasi pengurangan subsidi (PKPS) BBM bidang pendidikan,
yang menjadi hak para siswa baru. Artinya, biaya dari pemerintah pusat itu memang
diperuntukkan siswa yang diwujudkan dalam program tersebut.
"Sangat wajar jika orangtua melakukan protes. Sebab Disdik selain menjanjikan
kemudahan, juga memberi harapan manis. Tapi hasilnya tidak pasti. Malah menjadi hambar
dengan adanya pengunduran pengumuman tersebut," kata staf pengajar FKIP Unlam itu.
Mengatasi kebuntuan dan kemoloran PSB SMP, Sutarto menyarankan agar Disdik menggunakan
pola lama yakni manual.
Meski pola itu ketinggalan zaman, namun sistem itu akan lebih memberikan kepastian dan
kenyamanan bagi orangtua terhadap nasib pendidikan putra putri mereka.
"Lha justru dengan kecanggihan teknologi yang kini dipakai, justru
menimbulkan masalah," katanya.
Jika kejadian ini berlangsung terus, menurut Sutarto akan memberi dampak psikologis
bagi calon siswa. Kondisi ini bisa berakibat tidak baik pada pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar nantinya. Siswa menjadi depresi, atau malah malas sekolah.
"Jadi, jujur saja. Jangan dipaksakan. Sebab dampaknya adalah kepada siswa yang
langsung menjadi obyek kebijakan. Dan anak-anak sangat rawan terhadap masalah seperti
itu," jelas Sutarto.
Maksud Baik
Terpisah, Wakil Ketua DPR Kalsel, Riswandi juga menyayangkan terjadinya kekacauan PSB
SMP di Banjarmasin. Menurut dia, Disdik Kota semestinya tidak melakukan praktik coba-coba
jika menyangkut kepentingan orang banyak.
"Bayangkan sampai ribuan orang dikecewakan karena pelayanan yang didapat tidak
maksimal. Apalagi sampai diundur-undur karena datanya masih belum valid. Orangtua siswa
tentu resah," ujarnya dihubungi BPost, malam tadi.
Menurut Riswandi, kurang baiknya kinerja panitia PSB itu dapat menurunkan citra
pemerintah khususnya diknas di mata masyarakat. "Karenanya Pemda setempat harus turun
tangan melakukan evaluasi agar permasalahan yang sama tidak terulang," cetus dia.
Riswandi mengakui PSB online itu maksudnya baik demi pelayanan dan transparansi.
Namun, sekarang ini perlu diperhatikan adalah bagaimana solusinya bagi masyarakat
dengan cepat dan sempurna.
Dia mengingatkan pihak Disdik, di masa datang, jika suatu program pemerintah menyangkut
teknologi dan kepentingan orang banyak harus dilakukan trial and error terlebih
dahulu. "Sebab tanpa ujicoba ya hasilnya seperti yang dialami PSB SMP online
itu." tandasnya.
A Salim Fachry, anggota Komisi D --membidangi masalah pendidikan-- DPRD Banjarmasin,
menilai kekacauan pelaksanaan PSB online tingkat SMP, sebagai sesuatu yang wajar.
"Sesuatu yang biasa jika suatu sistem baru, dan belum pernah dilaksanakan
sebelumnya, terjadi kendala dan permasalahan ketika diterapkan di lapangan," jelas
dia.
Yang penting, sebuf dia, kekacauan yang terjadi dalam PSB SMP bisa diambil sebagai
pelajaran dalam menentukan pilihan penggunaan dan pelaksanaan sistem PSB ke depan.
"Saya meminta masyarakat bersabar menantikan hasil pengumuman PSB. Kekacauan yang
terjadi bukan semata-mata kesalahan disdik, tetapi juga disebabkan gangguan dalam jaringan
online," ujarnya.
Disdik, sebut Salim, telah berusaha keras agar bisa mewujudkan sistem online
yang baik. Hanya saja, hasil yang diperoleh masih jauh dari kata memuaskan.
Komisi D sendiri, menurut dia, sempat memberikan masukan agar pelaksanaan pengumuman
PSB SMP jangan dahulu dilakukan jika data yang ada masih belum valid. "Jadi, saya
minta bersabar hingga panitia PSB benar-benar memberikan hasil terbaik untuk
masyarakat," katanya. coi/ais/ck6