LAGA puncak dari perhelatan Piala Dunia 2006 segera digelar. Dua tim penguasa
sepakbola dunia, Italia dan Prancis, Senin (10/7) dinihari bakal bertarung mempertaruhkan
segala yang mereka punya demi prestasi maupun harga diri.

Megaduel all-star dipastikan berlangsung dahsyat. Gli Azzurri melaju
dengan kemenangan yang cukup meyakinkan atas Jerman dan Ukraina. Gawang mereka yang dijaga
Gianluigi Buffon belum pernah kebobolan sekali pun oleh kaki pemain lawan. Satu-satunya
bola yang nyasar adalah bunuh diri pemain Italia saat mereka meladeni Amerika Serikat.
Di pihak lawan, Prancis melaju ke babak final dengan terseok-seok setelah gagal
memenangkan dua laga awal. Kehebatan Prancis terlihat setelah Zidane cs menundukkan juara
bertahan Brasil dan Portugal.
Saat ini kedua tim sama-sama menunjukkan grafik permainan yang terus membaik. Italia
sangat tangguh di daerah pertahanan. Prancis sangat solid di lini tengah. Menjelang partai
pamuncak, kedua tim juga dalam kondisi utuh.
Italia memang kehilangan bek, Alessandro Nesta, tetapi penggantinya, Marco Matterazi
tak kalah hebat. Di kubu Prancis hanya kehilangan Luis Saha yang terkena akumulasi kartu
kuning. Tetapi Saha bukanlah pemain yang berpengaruh karena ia sangat jarang turun sejak
menit awal.
Siapa yang pantas sebagai kampiun? Dari catatan sejarah, Italia telah bertemu Prancis
sebanyak 32 kali dan menang 17 kali, seri 8 kali, dan kalah 7 kali. Jika statistik itu
dipakai sebagai acuan, maka Italia layak diunggulkan. Hanya saja, dalam catatan sejarah
kemenangan terakhir Italia diraih sudah cukup lama yakni tahun 1978.
Pengalaman Euro 2000 adalah kenangan pahit bagi Negeri Pasta itu. Les Bleus
berhasil menaklukkan Gli Azzurri dengan skor 2-1. Italia menyerah setelah satu gol
bersarang ke gawang mereka pada perpanjangan waktu.
Kini, mereka bertemu kembali di final Piala Dunia 2006. Angin berhembus cukup nyaman di
anak-anak asuhan Raymond Domenech. Mereka datang ke Olympiastadion Berlin dengan kepala
ringan. Tak seperti kubu Italia yang menanggung beban berat.
Hal itu diakui pula striker Italia Alessandro Del Piero. Ia mengatakan, ada faktor lain
yang menyebabkan Italia stres menjelang laga puncak, termasuk skandal pengaturan skor
dalam Seri A.
"Saya pikir Prancis lebih favorit karena memasuki pertandingan dalam keadaan
kurang stres dibanding kami," katanya.
"Di Prancis tidak ada kekacauan seperti kami alami di Italia yang melibatkan
klub-klub dan tidak ada liputan yang sama dari pers dan televisi seperti di negeri
kami," kata Del Piero yang punya hubungan kurang harmonis dengan media Italia.
Toh demikian pemain depan Juventus itu mengatakan, senang bertemu dengan rekan lamanya,
Zinedine Zidane. Reuni itu pun dinilai sarat dengan emosi.pwk/ant/rtr/pdc