:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah • BëBAS • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
MAIN PAGE
Berita Utama
FEMALE
Nusantara
B O R N E O
Trans Kalimantan
Banjarmasin Plus

Persona
Olahraga
Ragam
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Sunday, 09 July 2006 02:42


EQ Pemimpin Kita Rendah

>> Tika Wibisono <<KECERDASAN emosional atau EQ (Emotional Quotient) para pemimpin kita rendah. Pernyataan sinis ini dilontarkan psikolog Tika Bisono dalam perbincangan mengenai situasi pendidikan di Indonesia.

"Coba cek menteri-menteri itu, EQ-nya rendah semua. Kemampuan berempatinya nggak ada. Skill untuk menomorsatukan rakyat tidak ada. Jadi menomorsatukan orang lain sangat nol!" tegas lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Jakarta ini.

"Lihat Mahathir (Mahathir Mohammad, mantan PM Malaysia, Red), terserah orang mau bilang dia diktator atau apa, tapi rakyatnya makmur. Kenapa? Karena dia punya EQ tinggi. Ada keseimbangan antara perhatian terhadap individu (diri sendiri) dan orang lain. Di EQ itu namanya kearifan. Itu tidak ada fakultasnya, tapi diperoleh di jalanan," tambah Tika di Jakarta, kemarin.

Rendahnya EQ para pemimpin itu, menurut konsultan dan dosen psikologi beberapa perguruan tinggi ini, ada kaitannya dengan sistem pendidikan yang chaotic, amburadul.

"Pondasi pendidikan dasar kita tidak diperhatikan. Sistem pendidikan kita seperti cetakan kue. Siswa tidak boleh berbeda pendapat dengan guru, dianggap mbalelo kalau bertanya di luar buku, yang sejatinya itu adalah pelanggaran HAM dalam pendidikan," tegasnya.

Akibat dari sistem pendidikan yang amburadul itu, orang tidak mampu membuat keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan orang lain. "Sistem pendidikan kita tidak membuat anak didik senang belajar, bertoleransi dengan orang lain, sebaliknya malah membuat mereka terbebani," kata perempuan yang dulu pernah dikenal sebagai penyanyi ini.

Yang lebih membuat Tika geregetan, para pemimpin itu kalau dikritik tidak melakukan perubahan.

Di negara maju, kalau dikritik, pemimpin akan melakukan sesuatu untuk menjawab kritik itu.

"Di sini, dikritik marah tapi nggak melakukan sesuatu. Bangsa ini terbelakang sekali, cuma kemasannya saja yang dipentingkan," ucap Tika yang menghabiskan masa remajanya di Houston, Texas, AS ini.

Jadi, katanya lagi, ketika dikritik para pemimpin kita itu seperti orang bebal.

"Media massa seolah juga tidak cukup powerfull untuk memberi pengaruh," tambahnya.

Tika memberi ilustrasi, di Depdiknas ia pernah melihat kliping koran berisi kritik-kritik, dibundel berdasarkan jenis-jenis masalahnya. Sayangnya, kliping itu tetap rapi tersimpan karena tidak pernah dibaca.

"Saya pernah nanya, dijadikan apa kliping itu? Mending saya ambil, saya jadikan tema-tema seminar, minimal jadi sesuatu yang berguna," kata Tika yang kerap diundang menjadi pembicara dalam talk show masalah pendidikan. WK

Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Disdik Kacaukan PSB

Orangtua Bisa Menuntut


PHK Picu Serangan Jantung


SENATOR AS RASA INDONESIA (2-HABIS)
Bocah Negro Gemuk Itu Rajin Ke Mushala


Megaduel All-Star!


EQ Pemimpin Kita Rendah


Kejagung Bentuk Pasukan Khusus


DERITA ORTU SEKOLAHKAN ANAK
Nggak Enak Makan Dan Tidur


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123