KECERDASAN emosional atau EQ (Emotional
Quotient) para pemimpin kita rendah. Pernyataan sinis ini dilontarkan psikolog Tika
Bisono dalam perbincangan mengenai situasi pendidikan di Indonesia.
"Coba cek menteri-menteri itu, EQ-nya rendah semua. Kemampuan berempatinya nggak
ada. Skill untuk menomorsatukan rakyat tidak ada. Jadi menomorsatukan orang lain
sangat nol!" tegas lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Jakarta ini.
"Lihat Mahathir (Mahathir Mohammad, mantan PM Malaysia, Red), terserah
orang mau bilang dia diktator atau apa, tapi rakyatnya makmur. Kenapa? Karena dia punya EQ
tinggi. Ada keseimbangan antara perhatian terhadap individu (diri sendiri) dan orang lain.
Di EQ itu namanya kearifan. Itu tidak ada fakultasnya, tapi diperoleh di jalanan,"
tambah Tika di Jakarta, kemarin.
Rendahnya EQ para pemimpin itu, menurut konsultan dan dosen psikologi beberapa
perguruan tinggi ini, ada kaitannya dengan sistem pendidikan yang chaotic,
amburadul.
"Pondasi pendidikan dasar kita tidak diperhatikan. Sistem pendidikan kita seperti
cetakan kue. Siswa tidak boleh berbeda pendapat dengan guru, dianggap mbalelo kalau
bertanya di luar buku, yang sejatinya itu adalah pelanggaran HAM dalam pendidikan,"
tegasnya.
Akibat dari sistem pendidikan yang amburadul itu, orang tidak mampu membuat
keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan orang lain. "Sistem
pendidikan kita tidak membuat anak didik senang belajar, bertoleransi dengan orang lain,
sebaliknya malah membuat mereka terbebani," kata perempuan yang dulu pernah dikenal
sebagai penyanyi ini.
Yang lebih membuat Tika geregetan, para pemimpin itu kalau dikritik tidak
melakukan perubahan.
Di negara maju, kalau dikritik, pemimpin akan melakukan sesuatu untuk menjawab kritik
itu.
"Di sini, dikritik marah tapi nggak melakukan sesuatu. Bangsa ini
terbelakang sekali, cuma kemasannya saja yang dipentingkan," ucap Tika yang
menghabiskan masa remajanya di Houston, Texas, AS ini.
Jadi, katanya lagi, ketika dikritik para pemimpin kita itu seperti orang bebal.
"Media massa seolah juga tidak cukup powerfull untuk memberi
pengaruh," tambahnya.
Tika memberi ilustrasi, di Depdiknas ia pernah melihat kliping koran berisi
kritik-kritik, dibundel berdasarkan jenis-jenis masalahnya. Sayangnya, kliping itu tetap
rapi tersimpan karena tidak pernah dibaca.
"Saya pernah nanya, dijadikan apa kliping itu? Mending saya ambil, saya jadikan
tema-tema seminar, minimal jadi sesuatu yang berguna," kata Tika yang kerap diundang
menjadi pembicara dalam talk show masalah pendidikan. WK