MAHMUDI terlihat kebingungan. Wajahnya pucat pasi. Ia tengah menanggung masalah
yang cukup pelik. Dengan napas yang masih ngos-ngosan, warga Jalan Cendrawasih itu
mendatangi kerumunan orangtua calon siswa yang tengah berdiskusi dengan Kepala SMPN 1
Banjarmasin, Suhardi.
Kemudian ia menyodorkan secarik kertas lembar pendaftaran Penerimaan Siswa Baru (PSB)
atas nama Andry Chlara Dewanti yang tidak lain adalah anaknya tersayang. Ia mengadu bahwa
anaknya tidak diterima di lima sekolah yang dipilihnya.
"Mau tanya pak, nama anak saya kok tidak ada di semua sekolah yang saya
pilih. Padahal nilainya cukup untuk menempati pilihan kedua dan seterusnya. Kalau begini,
anak saya sekolah di mana?" ujarnya kebingungan.
Mahmudi mengaku telah keliling ke lima sekolah yang dipilih. Mulai dari SMPN 2 sebagai
pilihan pertama, kemudian SMPN 1, SMPN 9, SMPN 5, dan SMPN 12. Sudah dipelototi sampai
habis tetap saja nama anaknya tidak ada di papan pengumuman sekolah tersebut.
Memang dengan nilai 28,95, Andry Chlara Dewanti tidak masuk di SMPN 2 yang memiliki
syarat nilai lebih tinggi. Namun di pilihan kedua dan seterusnya nilai yang diperoleh
lulusan SDN Belitung 2 ini sangat memenuhi syarat.
"Saya tidak tahu bakal begini jadinya. Kalau tahu, mending mendaftar di sekolah
yang pasti masuk saja. Sistem yang sekarang aneh, lebih bagus yang dulu meskipun harus
bayar dan keliling ke sekolah-sekolah," sesal Mahmudi penuh jengkel.
"Padahal waktu mendaftar mau pilih dua sekolah saja, tapi oleh petugas disarankan
untuk mengisi semuanya saja. Mereka mengatakan, kalau di pilihan pertama nggak masuk
ada 4 cadangan. Tapi nyatanya kok seperti ini, nggak ada gunanya kan
pilihan 2,3, 4 dan 5," ujarnya lagi.
Mahmudi tidak sendirian. Puluhan ibu juga mengadu hal sama kepada Suhardi. Kepala SMPN
1 Banjarmasin itu hanya bisa menjawab, selama ini dirinya tidak pernah dilibatkan
mengurusi PSB Online.
"Artinya, ada apa gerangan. Katanya hari ini datanya sudah final, tapi kok
kesalahan yang sama dari hari kemarin masih ada. Apa memang Disdik belum siap, kalau
begini kami sebagai orangtua siswa sangat dirugikan," timpal salah seorang ibu.
Selang beberapa menit kemudian, seorang ibu bersama suaminya ikut bergabung. Ia
menyampaikan masalahan yang sama. Ibu tersebut mengatakan, jika di salah satu pilihan saja
nama anaknya muncul, ia akan merasa lega.
"Ini kok tidak satupun dari lima pilihan nama anak saya muncul. Padahal
nilainya cukup di pilihan kedua dan seterusnya, lalu salahnya apa? Saya tunggu-tunggu
melalui internet juga tidak ada perubahan, saya tidak bisa tenang kalau begini. Mungkin
seminggu ini nggak enak makan, nggak nyenyak tidur," ujarnya.
"Mau sekolah saja susahnya seperti ini, apalagi cari kerja. Katanya wajib belajar
9 tahun, nyatanya sulit sekali," lanjut sang suami.
Perasaan senasib membuat mereka kompak. Para orangtua calon siswa baik ibu-ibu maupun
bapak-bapak saling bertukar pikiran. Pada intinya mereka khawatir anaknya tidak dapat
melanjutkan sekolah di SMP negeri.
"Saya setiap hari ke sini melihat sudah masuk belum nama anak saya. Saya lihat di
sekolah yang dipilih, nama anak saya tetap belum muncul. Sistem online malah
mempersulit," kata salah satu orangtua calon siswa.ais