Namun demikian, apa yang telah diraihnya, hingga
kini memiliki pangkat dan jabatan tinggi di militer, semuanya tak lepas atas prestasi dan
kerja kerasnya.
Ia anak seorang buruh tani, sejak kecil sudah menjadi anak yatim. Kehidupan serba
kekurangan membuat Waris kecil harus berjuang dan mencari nafkah hidup sendiri.
Bekerja sebagai peternak ayam, kelinci, marmut hingga kambing cukup membuatnya bisa
bertahan hidup. Bahkan, bersumber atas pekerjaannya itu, Ia pun bisa menamatkan SD dan SMP
di kampungnya Desa Sumber Pucung kabupaten Malang Jatim.
Hidup serba kekurangan, tak menyurutkan Waris untuk meraih prestasi. Sejak menamatkan
dari bangku SD dan SMP, pria kelahiran Malang, 12 Desember 1957 tahun lalu, sering
menggondol prestasi luar biasa dalam belajar.
Kendati sempat dilarang oleh neneknya untuk melanjutkan ke bangku SMP --lantaran hidup
keluarganya yang serba kekurangan, tak membuat mantan wakil komandan Paspamres ini
berkecil hati.
Pada 1970-1973, Ia berhasil menamatkan sekolah. Lagi-lagi, bakat dan kemampuannya dalam
proses belajar sangat bagus. Waris pun kembali meraih predikat siswa teladan.
Minat untuk melanjutkan kejenjang pendidikan lebih tinggi masih menjadi lirikannya.
Sadar bahwa kemampuannya cukup diperhitungkan, Ia pun ikut dan tinggal bersama pamannya di
Surabaya. Namun, bercita-cita ingin masuk ke SMU favorit kandas, karena kemampuan sang
paman juga serba pas-pasan, akhirnya, Waris pun masuk ke SMU di yayasan Nahdlatul Ulama
(NU) di Blitar.
Setelah tamat dari SMU NU 1976, nilai dan prestasi sekolahnya yang tak pernah menurun,
membuatnya berniat untuk ikut tes Akabri satu tahun kemudian Ia mengawali tahun akademik
di dunia kemiliteran.
Semula, ia berniat ingin menjadi seorang anggota marinir. Saking berambisi ingin
mewujudkan impiannya itu, Waris pun nyaris dipecat dan dikeluarkan dari pendidikan
kemiliteran. Tepat pada 1 Maret 1981, Waris bersama prajurit lainnya diwisuda oleh mantan
Presiden Soeharto.
Baru lulus di Angkatan Darat, Waris sudah menerima tugas dan pekerjaan yang cukup
berat, Ia langsung didinaskan ke Timor-Timor, tepatnya di Batalyon Infanteri 745. Hampir
delapan tahun (1981-1989) Ia bertugas disana, mulai dari pangkat Letda, Lettu hingga
Kapten, bahkan bahasa daerah di sana bisa dikuasainya.
Karirnya di militer semakin menanjak, setelah dinas di Timtim, Ia kembali ditugaskan di
Denpasar Bali menjabat sebagai Wadan Secapa. Pada 1990, Ia sekolah kursus lanjutan perwira
di Bandung, setelah itu, Ia dipercaya menjadi Wadanyon Infanteri 507 Surabaya.
Tiga tahun bertugas disana, Waris kembali ditugaskan ke Timor-Timor selama 1 tahun.
Setelah pulang dari Timtim, Waris diberi jabatan menjadi Kasdim di Kediri, pernah juga
menjadi Komandan Batalyon Inf. 315 Bogor, Komandan Paspampres 1 tahun di era Orba, Kodim
Jombang, di era kepresidenan Habibi dan Gus Dur, Ia pernah menjabat Wadan Grup Paspampres.
Saat Ia menjabat Komandan Brigadir, Waris pun sempat ditugaskan membawa pasukan
Rajawali ke Aceh (2001-2003) dalam rangka pasca DOM. Pulang dari Aceh, Ia menjabat
Komandan Resimen Secapa AD di Bandung (8 bulan), setelah itu Ia ditugaskan kembali
memimpin darurat militer di Aceh saat itu menjabat Asops Kasdam di penguasa darurat
militer Aceh.
Beberapa sekolah, ujian dan pendidikan militer lanjutan diikutinya, mulai Seskowad,
Sesko TNI gabungan, tes komandan Brigadir hingga menjabat Komandan Brigadir Inf.13 Kostrad
Tasiklamaya, dan tes komandan Korem. Sebelum menjadi Danrem 101/Ant, Waris pernah menjabat
Danrindam II Sriwijaya di Palembang. maisuri