Banjarmasin, BPost
Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel mendesak kepada pemerintah daerah untuk
mengkaji ulang rencana pembangunan pabrik bubur kertas (pulp) di Kalsel. Selain tidak
memenuhi syarat penyediaan bahan baku, umumnya para kreditor atau penananam modal kurang
memperhatikan soal standar pengelolaan lingkungan yang baik.
Hal tersebut disampaikan Walhi bersama sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM), guna
menyikapi rencana pembangunan pabrik pulp di Kalimantan dalam waktu dekat. Jaringan LSM
yang menandatangani siaran pers, Rabu (12/10) kemarin antara lain Community Alliance for
Pulp-Paper Advocacy (CAPPA), Yayasan Keadilan Rakyat (YKR), Walhi Kalteng, Walhi Kalbar,
Walhi Katim, dan sejumlah LSM lingkungan.
Diperoleh keterangan, di Kalimantan akan dibangun 3 buah industri pulp, yakni di Kalsel
oleh United Fibre System (UFS), sebuah grup usaha yang berkantor di Singapura, di Kalteng
oleh Korindo Group, dan sekelompok investor dari Malaysia dan India akan membangun pabrik
di Kalimantan Barat atau Kalimantan timur. Selama ini telah berdiri tiga pabrik bubur
kertas PT Kiani di Kaltim.
Menurut Ketua Walhi Kalsel, Berry Nahdian Forqan, pembangunan industri pulp bukan
pekerjaan mudah. Selain membutuhkan suntikan modal besar dengan durasi investasi yang
panjang, perlu didukung pula infrastruktur pendukung seperti listrik, unit pengelolaan
limbah dan lain-lain.
Dikatakan, dari pengalaman selama ini, industri kehutanan merupakan aktor utama
terjadinya kerusakan hutan tropis di Indonesia. Bahkan di situ juga memunculkan konflik
sosial dan tenurial, serta penurunan kualitas lingkungan.
"Di Kalsel sendiri memang baru rencana di Sungai Cukak. Tapi sekarang sudah muncul
bentuk-bentuk konflik di masyarakat, mereka sudah saling klaim soal kapling lahan,"
katanya.
Untuk itu, kata Berry, program percepatan pembangunan hutan tanaman industri (HTI) dan
pembangunan industri pulp-- sebagai jawaban atas kebangkrutan sektor kehutanan, sangat
tidak rasional. "Daripada mengembangkan pembangunan HTI yang monokultur dan riskan
terhadap situasi ekonomi global, lebih baik mendukung dan mengembangkan sistem kelola
hutan rakyat yang arif, kemudian membangun strategi pemasaran bagi produk-produknya,"
katanya.
Secara umum, Walhi bersama CAPPA dan jaringannya juga mendesak kepada pemerintah untuk
menghentikan pengalihan kawasan eks HPH menjadi kawasan HTI, tetapi perlu mewajibkan
pengusaha HTI agar mengelola dengan baik kawasan konsesi mereka terlebih dahulu. pwk