Palu, BPost
Hingga kemarin, polisi masih belum berhasil mengungkap kasus pembunuhan keji tiga
siswi sebuah sekolah menengah atas (SMA) swasta di Kota Poso, Kabupaten Sulawesi Tengah,
Sabtu (29/10) lalu. Sejauh ini kepolisian baru sebatas mengidentifikasi para pelaku
pembunuhan yang diyakini bukan warga Poso.
Sementara Kapolri Jenderal Sutanto sendiri tidak bisa menjawab saat disinggung apakah
pihaknya sudah menemukan kawanan pembunuh tersebut. "Sabar. Tunggu hasilnya,"
ucap Sutanto usai buka puasa bersama dengan jajaran wartawan, di Mabes Polri, Senin
(31/10).
Informasi kemajuan pemeriksaan kasus Poso justru diungkapkan Kepala Badan Reserse
Kriminal Polri Komisaris Jenderal Makbul Padmanagara. Jenderal bintang tiga ini mengklaim
bahwa kepolisian sudah mengetahui identitas pelaku pembunuhan tiga siswi tersebut.
Hanya saja, dengan alasan kepentingan penyidikan, Makbul menolak menyebut identitas
pelaku. "Itu data intelejen yang akan kita tindaklanjuti dengan penangkapan,"
beber mantan Kapolda Metro Jaya itu.
Makbul juga meyakinkan bahwa para pelaku adalah orang luar Poso. Saat ini kepolisian
masih melakukan pengejaran terhadap kelompok tersebut. "Pengejaran terus kita
lakukan, mereka bertujuan mengacaukan dan mengacaukan Poso," imbuhnya.
Meski Kabareskrim menyebut telah mengetahui identitas pelaku, namun jurubicara Mabes
Polri Inspektur Jenderal Aryanto Boedihardjo mengaku belum bisa memastikan kebenaran
mereka adalah pelakunya. Pasalnya, sebut dia, polisi masih dalam tahap penyelidikan.
Terkait kasus pembunuhan tiga siswi itu, sejauh ini polisi baru memeriksa enam orang
saksi. Namun Aryanto mengelak menyebut idenitas para keenam saksi itu dengan alasan demi
keamanan saksi dan keluarganya. "Mereka adalah penduduk setempat," ungkapnya.
Aryanto menduga pelaku pembunuhan terhadap tiga siswi SMU di Poso dilakukan oleh orang
terlatih. Pasalnya, jelas dia, pembunuhan itu dilakukan pagi hari ketika situasi sudah
ramai.
"Paling tidak, mereka sudah melakukan analisis siatuasi terlebih dulu dan sudah
melihat jika terjadi perlawanan harus seperti apa," cetusnya.
Informasi Saksi
Jurubicara Polda Sulteng, Ajun Komisaris Besar Rais Adam tak menepis kepolisian telah
mengidentifikasi para pelaku pembunuhan tiga siswi di Poso. Identifikasi itu, sebut dia,
diperoleh setelah polisi memeriksa enam orang saksi.
"Yang pasti, pelaku terorganisir dan mereka mengetahui situasi Poso," jelas
Rais, di Mapolda Sulteng, kemarin.
Meski sudah mengindentifikasi pelaku, Polda Sulteng belum bersedia membeberkan ciri
pelaku pembantaian sadis itu. "Untuk sementara siapa saksi yang kita periksa dan
ciri-ciri pelaku tidak bisa disebutkan, ini menyangkut keselamatan saksi yang selama ini
menjadi incaran di Poso," ungkap Rais.
Salah satu saksi kunci adalah Noviana Malewa, korban yang masih hidup setelah dia
membuang diri ke jurang. Namun, sekujur tubuhnya dipenuhi luka.
Sedangkan tiga korban tewas dalam pemantaian itu adalah Theresia Morangki (16), Yarni
Sambue (15), dan Alfitha Poliwo (19). Mereka dibantai saat dalam perjalanan dari rumahnya
di kawasan Bukit Bambu menuju ke sekolahnya di Kasiguncu.
Menurut koresponden The Jakarta Post, Ruslan Sangaji, aparat kepolisian masih
melakukan perburuan di wilayah Poso dan sekitarnya untuk menangkap para pelaku pembantaian
sadis tersebut.
"Namun situasi di Poso relatif aman dan terkendali. Jumlah polisi yang dikerahkan
terbilang cukup besar dan mencolok, namun aktivitas warga tetap normal," ucap Ruslan
yang dihubungi BPost, tadi malam.
Saat ini polisi melakukan penjagaan ketat terhadap semua pintu masuk-keluar Poso.
Polisi menduga pelaku pembunuhan tersebut masih berada di wilayah Poso. Polri telah
meminta satu batalyon TNI karena dianggap keberadaan TNI sangat diperlukan di Poso untuk
kerjasama dengan polisi.
Tidak Becus
Lambannya aparat kepolisian mengungkap setiap kasus pembunuhan di Poso, tak pelak
menuai kritik banyak kalangan. Anggota Pansus Poso DPR RI, Rendy Lamadjido, misalnya,
menilai aparat kepolisian tidak becus memberikan rasa aman kepada warga warga Poso yang
jumlahnya hanya sekitar 6.000 jiwa.
"Ironis sekali. Poso itu lebih kecil dari kecamatan di Jakarta tapi pelaku
kriminal sulit ditangkap. Tampak sekali ketidakseriusan pihak keamanan dalam menangani
kasus-kasus di Poso," tandas Rendy, di Jakarta, kemarin.
Ketidakseriusan pemerintah, menurut dia, sangat mencolok. Hal ini tergambar belum
pernahnya aparat berhasikl mengungkap para pelaku peledakan bom di Poso. "Ini kan
aneh. Para pelaku peledakan bom di Bali dan Kuningan yang begitu sulit, bisa ditangkap,
tapi di Poso belum satu pun pelaku peledakan bom yang ditangkap," tegasnya.
Rendy yakin insiden di Poso punya kaitan politis lebih besar dari sekadar konflik
kriminal biasa. Menurut dia, kasus terakhir berupa pembantaian tiga siswi SMA di Poso
merupakan upaya provokasi paling mutakhir untuk membangkitkan konflik berdarah di Poso.
"Saya percaya pembantaian siswi itu dilakukan untuk memancing konflik yang lebih
besar," kata Rendy seraya menegaskan sebenarnya warga Poso sendiri sudah bosan dengan
konflik berdarah di daerahnya. JBP/aco/TT/opi/tnr/dtk/kcm/mi/ant