:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah Spirit Kalsel • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Marhaban Ya Ramadhan
Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Selasa, 01 Nopember 2005 01:58:20

Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan


Pelaku Bukan Warga Poso

Palu, BPost
Hingga kemarin, polisi masih belum berhasil mengungkap kasus pembunuhan keji tiga siswi sebuah sekolah menengah atas (SMA) swasta di Kota Poso, Kabupaten Sulawesi Tengah, Sabtu (29/10) lalu. Sejauh ini kepolisian baru sebatas mengidentifikasi para pelaku pembunuhan yang diyakini bukan warga Poso.

Sementara Kapolri Jenderal Sutanto sendiri tidak bisa menjawab saat disinggung apakah pihaknya sudah menemukan kawanan pembunuh tersebut. "Sabar. Tunggu hasilnya," ucap Sutanto usai buka puasa bersama dengan jajaran wartawan, di Mabes Polri, Senin (31/10).

Informasi kemajuan pemeriksaan kasus Poso justru diungkapkan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Makbul Padmanagara. Jenderal bintang tiga ini mengklaim bahwa kepolisian sudah mengetahui identitas pelaku pembunuhan tiga siswi tersebut.

Hanya saja, dengan alasan kepentingan penyidikan, Makbul menolak menyebut identitas pelaku. "Itu data intelejen yang akan kita tindaklanjuti dengan penangkapan," beber mantan Kapolda Metro Jaya itu.

Makbul juga meyakinkan bahwa para pelaku adalah orang luar Poso. Saat ini kepolisian masih melakukan pengejaran terhadap kelompok tersebut. "Pengejaran terus kita lakukan, mereka bertujuan mengacaukan dan mengacaukan Poso," imbuhnya.

Meski Kabareskrim menyebut telah mengetahui identitas pelaku, namun jurubicara Mabes Polri Inspektur Jenderal Aryanto Boedihardjo mengaku belum bisa memastikan kebenaran mereka adalah pelakunya. Pasalnya, sebut dia, polisi masih dalam tahap penyelidikan.

Terkait kasus pembunuhan tiga siswi itu, sejauh ini polisi baru memeriksa enam orang saksi. Namun Aryanto mengelak menyebut idenitas para keenam saksi itu dengan alasan demi keamanan saksi dan keluarganya. "Mereka adalah penduduk setempat," ungkapnya.

Aryanto menduga pelaku pembunuhan terhadap tiga siswi SMU di Poso dilakukan oleh orang terlatih. Pasalnya, jelas dia, pembunuhan itu dilakukan pagi hari ketika situasi sudah ramai.

"Paling tidak, mereka sudah melakukan analisis siatuasi terlebih dulu dan sudah melihat jika terjadi perlawanan harus seperti apa," cetusnya.

Informasi Saksi

Jurubicara Polda Sulteng, Ajun Komisaris Besar Rais Adam tak menepis kepolisian telah mengidentifikasi para pelaku pembunuhan tiga siswi di Poso. Identifikasi itu, sebut dia, diperoleh setelah polisi memeriksa enam orang saksi.

"Yang pasti, pelaku terorganisir dan mereka mengetahui situasi Poso," jelas Rais, di Mapolda Sulteng, kemarin.

Meski sudah mengindentifikasi pelaku, Polda Sulteng belum bersedia membeberkan ciri pelaku pembantaian sadis itu. "Untuk sementara siapa saksi yang kita periksa dan ciri-ciri pelaku tidak bisa disebutkan, ini menyangkut keselamatan saksi yang selama ini menjadi incaran di Poso," ungkap Rais.

Salah satu saksi kunci adalah Noviana Malewa, korban yang masih hidup setelah dia membuang diri ke jurang. Namun, sekujur tubuhnya dipenuhi luka.

Sedangkan tiga korban tewas dalam pemantaian itu adalah Theresia Morangki (16), Yarni Sambue (15), dan Alfitha Poliwo (19). Mereka dibantai saat dalam perjalanan dari rumahnya di kawasan Bukit Bambu menuju ke sekolahnya di Kasiguncu.

Menurut koresponden The Jakarta Post, Ruslan Sangaji, aparat kepolisian masih melakukan perburuan di wilayah Poso dan sekitarnya untuk menangkap para pelaku pembantaian sadis tersebut.

"Namun situasi di Poso relatif aman dan terkendali. Jumlah polisi yang dikerahkan terbilang cukup besar dan mencolok, namun aktivitas warga tetap normal," ucap Ruslan yang dihubungi BPost, tadi malam.

Saat ini polisi melakukan penjagaan ketat terhadap semua pintu masuk-keluar Poso. Polisi menduga pelaku pembunuhan tersebut masih berada di wilayah Poso. Polri telah meminta satu batalyon TNI karena dianggap keberadaan TNI sangat diperlukan di Poso untuk kerjasama dengan polisi.

Tidak Becus

Lambannya aparat kepolisian mengungkap setiap kasus pembunuhan di Poso, tak pelak menuai kritik banyak kalangan. Anggota Pansus Poso DPR RI, Rendy Lamadjido, misalnya, menilai aparat kepolisian tidak becus memberikan rasa aman kepada warga warga Poso yang jumlahnya hanya sekitar 6.000 jiwa.

"Ironis sekali. Poso itu lebih kecil dari kecamatan di Jakarta tapi pelaku kriminal sulit ditangkap. Tampak sekali ketidakseriusan pihak keamanan dalam menangani kasus-kasus di Poso," tandas Rendy, di Jakarta, kemarin.

Ketidakseriusan pemerintah, menurut dia, sangat mencolok. Hal ini tergambar belum pernahnya aparat berhasikl mengungkap para pelaku peledakan bom di Poso. "Ini kan aneh. Para pelaku peledakan bom di Bali dan Kuningan yang begitu sulit, bisa ditangkap, tapi di Poso belum satu pun pelaku peledakan bom yang ditangkap," tegasnya.

Rendy yakin insiden di Poso punya kaitan politis lebih besar dari sekadar konflik kriminal biasa. Menurut dia, kasus terakhir berupa pembantaian tiga siswi SMA di Poso merupakan upaya provokasi paling mutakhir untuk membangkitkan konflik berdarah di Poso. "Saya percaya pembantaian siswi itu dilakukan untuk memancing konflik yang lebih besar," kata Rendy seraya menegaskan sebenarnya warga Poso sendiri sudah bosan dengan konflik berdarah di daerahnya. JBP/aco/TT/opi/tnr/dtk/kcm/mi/ant


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Pelaku Bukan Warga Poso

RI Produsen Bom Rakitan


Kemelut Poso Empat Presiden Gagal


Tragedi Hotel Metro Budi Dan Korban Akan Disketsa


Kalsel Raup DAU Rp3,47 Triliun


Mengintip Arus Mudik Di Pelabuhan Trisakti
"Mumpung Ada Rezeki Dan Kangen Keluarga"


Menpera Siap Mundur Dari Kabinet


Probo Mangkir Di Kejagung


Fenomena Pengemis Kalampayan (1) "Tidak Terpaksa, Hanya Pura-pura"


Minta Bush Toleran Pada Islam


Korupsi, Bupati Blitar Dihukum 15 Tahun


"Gila, Presiden Sengsarakan Rakyat"


Qolbu: Khusnul Khatimah


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123