Oleh: KH Abdullah Gymnastiar
SAHABAT, ajal ternyata tidak pandang bulu merenggut nyawa makhluk. Terutama
manusia, siapa pun ia, dalam posisi apa pun: kaya-miskin, tua-muda, bahkan anak-anak tidak
luput dari sergapan sang malaikat maut. Tidak ada yang mampu menangkal ajal bila telah
tiba saatnya. Yang hanya mungkin kita lakukan ialah, menyiapkan diri menyambut kedatangan
sang ajal dengan khusnul khatimah.
Ajal sudah ditetapkan oleh Allah ketika kita di dalam kandungan empat bulan dalam perut
ibu. Tidak akan bisa dimajukan sedetik pun, tidak akan bisa mundur sedikit pun.
Sebagaimana firman-Nya dalam Alquran surat al-Araaf [7] ayat 34, "Dan setiap
umat mempunyai batas waktu; maka apabila ajal telah datang kepada mereka, sedikit pun
mereka tidak akan mampu memundurkannya barang sesaat dan juga tak dapat
memajukannya."
Pergi berobat kemana saja kalau sudah waktunya akan wafat jua. Banyak orang yang
sakitnya parah kalau belum ajalnya akan hidup pula. Bunuh diri, kalau belum ajal juga
tidak akan membuatnya mati.
Ini bukan berarti kita tidak boleh berobat dan ikhtiar. Karena bagi kita, berobat dan
berikhtiar, itulah amal-amal kita. Mudah-mudahan dengan kesungguhan kita berobat dan
ikhtiar menjadikan pahala dari ikhtiar kita dan membuat ladang amal bagi dokter-dokter
yang merawat kita. Semuanya akan menjadi amal saleh. Perkara kematian memang kuasa Allah
yang menetapkan, tapi ikhtiar kita itulah yang mudah-mudahan membawa keberkahan bagi ajal
kita.
Kalau ajal kita menjemput, waktunya tepat sesuai dengan rencana Allah. Tempatnya juga
Allah yang menentukan. Wallahu alam. Mungkin ada yang di darat, ada yang di lautan,
dimana saja, namun yang penting menjelang ajal kita khusnul khatimah. Ketika dicabut nyawa
Allah ridha, kita pun ridha.
Tidak perlu rekayasa lisan. Walaupun kita saat sakaratul maut berusaha menyebut asma
Allah kalau mulut kita juga penuh kebusukan mungkin saat ajal, naudzubillah, tidak bisa
menyebut asma Allah.
Wahai sahabat, menjelang ajal sebuah riwayat menyebutkan, kalau kita calon ahli kubur,
kita bisa melihat malaikat maut yang mendatangi kita, meski orang-orang sekitar kita tidak
melihatnya. Bagi yang tidak bisa melihat, mungkin bisa menyaksikan bagaimana responsi
orang saat sakaratul maut. Seorang dokter yang menangani pasien saat-saat terakhirnya,
terkadang mempunyai pengalaman menyaksikan peristiwa sakaratul maut. Kalau dokter itu
beriman, maka pasti keyakinannya akan bertambah.
Sabda Rasullah SAW, "Seorang Mukmin, saat menjelang kematiannya, akan didatangi
oleh malaikat sambil menyampaikan dan memperlihatkan kepadanya apa yang bakal dialaminya
setelah kematian. Ketika itu tidak ada yang lebih disenanginya kecuali bertemu dengan
Tuhan (mati). Berbeda halnya dengan orang kafir yang juga diperlihatkan kepada apa yang
bakal dihadapinya, dan ketika itu tidak ada sesuatu yang lebih dibencinya daripada bertemu
dengan Tuhan." (HR Imam Ahmad)
Waspadalah sahabat, begitu banyak perkara yang membuat kita bisa tersiksa di sana (di
alam kubur). Beruntung orang-orang yang bagus persiapannya ketika ajal. Bayangkan orangtua
kita. Bayangkan anak-anak kita. Orang-orang yang ketika hidupnya indah akhlaknya,
cemerlang memelihara diri, dan mereka banyak bertobat. Nanti shalat akan mendampingi kita
di atas. Shaum akan mendampingi kita di sebelah kiri. Zakat di sebelah kanan. Shaum kita,
haji, dan semua amal-amal kita, akan menemani kita, sehingga kubur itu menjadi saat yang
indah, lapang sekali. Itulah yang harus kita persiapkan menjelang ajal.
Wahai sahabat, bersiaplah. Kain kafan selalu siap menyambut tubuh kita, mungkin esok
lusa semuanya akan berakhir. Mudah-mudahan Allah yang Maha Mendengar menolong kita untuk
melihat kini adanya kematian. Meyakini adanya siksa kubur dan meyakini bahwa kita harus
menolong orangtua kita baik hidup maupun wafat dengan doa dan kesalehan kita.Amin.