:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah Spirit Kalsel • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Marhaban Ya Ramadhan
Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Selasa, 01 Nopember 2005 01:59:24

Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan


Mengintip Arus Mudik Di Pelabuhan Trisakti
"Mumpung Ada Rezeki Dan Kangen Keluarga"

WAJAH Widodo, seorang pemudik asal Bitahan, Rantau, tampak berseri-seri, Minggu (30/10) siang. Maklum, sebentar lagi ia akan segera menaiki kapal yang akan membawanya pulang ke kampung halamannya di Malang, Jawa Timur. Tentunya, setelah transit di Pelabuhan Perak Surabaya dan melanjutkan perjalanan dengan bus kota.

Dengan senyum dan tawa lepas, ayah dua anak itu berulang kali bercanda dengan sejumlah penghuni penginapan milik H Ifat di ruas Jl Yos Sudarso. Maklum, domisilinya di Rantau, Kabupaten Tapin, cukup jauh dari pelabuhan yang terletak di ibukota Banjarmasin, hingga dia harus berangkat sejak pagi hari. Takut ketinggalan kapal, katanya.

Apalagi, arus mudik tujuan Surabaya semakin padat sejak H-5 hingga H-3, kemarin. Pantauan BPost, beberapa penumpang ada yang tidak kebagian tiket, sehingga harus menunggu pemberangkatan kapal berikutnya.

Widodo mengaku, meski keluarganya di Jawa, tak setiap tahun ia dapat pulang mudik. Itu semua karena penghasilannya sebagai tukang bengkel las karbit di kawasan Bitahan Rantau tidak mencukupi jika harus mudik setiap tahun.

"Makanya mumpung ada rezeki saya pulang. Saya sudah kangen dengan anak dan istri saya," ucapnya lugu.

Bahkan, saking antusiasnya ia pulang dengan membawa banyak buah tangan. Setidaknya ada dua tas besar yang berisi oleh-oleh untuk anak dan istri serta keluarganya di kampung.

Mudik memang sudah menjadi satu tradisi yang menyatu dengan keseharian masyarakat Indonesia menjelang lebaran Idul Fitri. Hampir setiap tahun, masyarakat dari berbagai suku di Indonesia yang berada di perantauan menyempatkan untuk pulang kampung.

Tak jelas memang siapa yang memulai budaya mudik pertama kali. Namun kebiasaan pulang ke kampung halaman untuk sekadar berjumpa sanak saudara membuat masyarakat rela berpayah-payah untuk dapat mudik.

Seperti halnya yang dilakukan keluarga Usman asal Amuntai yang ingin mudik ke Kediri, Jatim. Tiga beranak yang terdiri atas Usman, istrinya Amanah serta putri mereka Fitri, tampak kelelahan di penginapan yang sama dengan yang ditempati Widodo.

"Kami sudah tiba di sini sejak kemarin. Tapi karena tidak dapat tiket terpaksa harus menginap semalam dulu di sini," ujarnya.

Usman yang sembari rebahan di ruang penginapan yang berukuran 5x3 meter menuturkan bahwa mudik di saat lebaran merupakan ajang yang selalu dinantikan. Selain sebagai sarana liburan bersama keluarga, Usman berharap dapat bertemu dengan anggota keluarga jauh lainnya yang rencananya juga pulang kampung.

"Jadi kalau pulang tahun ini bisa ketemu saudara yang sudah lama nggak ketemu. Maklum, hampir semua anggota keluarga di kampung adalah perantauan," paparnya.

Selain membawa anak dan istrinya, Usman juga banyak membawa barang. Isinya antara lain oleh-oleh khas Banjar untuk keluarga di Jawa, serta beberapa potong pakaian untuk bersilaturrahmi dan persiapan libur selama 12 hari di sana.

Setiap pulang kampung, sebagian besar pemudik memang selalu menyertakan barang bawaan yang banyak jumlahnya. Bahkan, seringkali tampak merepotkan dan memberatkan si empunya.

Seperti pantauan BPost di Terminal Penumpang Bandarmasih Trisakti, Sabtu dan Minggu malam lalu, mayoritas pemudik tampak membawa barang bawaan mereka yang bertumpuk-tumpuk.

Bagi yang memiliki uang berlebih dan tak ingin repot biasanya memanfaatkan jasa portir kapal dengan upah antara Rp15 ribu hingga Rp25 ribu. Sedangkan bagi yang memiliki kantong cekak, nekat membawa sendiri seluruh barangnya dengan dipanggul, dikempit, digendong atau sedikit diseret saat naik ke dak kapal. Yang menarik, jumlah yang nekat itu, justru tampak lebih banyak dari yang memanfaatkan jasa portir. m4


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


Berita Utama
Pelaku Bukan Warga Poso

RI Produsen Bom Rakitan


Kemelut Poso Empat Presiden Gagal


Tragedi Hotel Metro Budi Dan Korban Akan Disketsa


Kalsel Raup DAU Rp3,47 Triliun


Mengintip Arus Mudik Di Pelabuhan Trisakti
"Mumpung Ada Rezeki Dan Kangen Keluarga"


Menpera Siap Mundur Dari Kabinet


Probo Mangkir Di Kejagung


Fenomena Pengemis Kalampayan (1) "Tidak Terpaksa, Hanya Pura-pura"


Minta Bush Toleran Pada Islam


Korupsi, Bupati Blitar Dihukum 15 Tahun


"Gila, Presiden Sengsarakan Rakyat"


Qolbu: Khusnul Khatimah


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123