WAJAH Widodo, seorang pemudik asal Bitahan, Rantau, tampak berseri-seri, Minggu
(30/10) siang. Maklum, sebentar lagi ia akan segera menaiki kapal yang akan membawanya
pulang ke kampung halamannya di Malang, Jawa Timur. Tentunya, setelah transit di Pelabuhan
Perak Surabaya dan melanjutkan perjalanan dengan bus kota.
Dengan senyum dan tawa lepas, ayah dua anak itu berulang kali bercanda dengan sejumlah
penghuni penginapan milik H Ifat di ruas Jl Yos Sudarso. Maklum, domisilinya di Rantau,
Kabupaten Tapin, cukup jauh dari pelabuhan yang terletak di ibukota Banjarmasin, hingga
dia harus berangkat sejak pagi hari. Takut ketinggalan kapal, katanya.
Apalagi, arus mudik tujuan Surabaya semakin padat sejak H-5 hingga H-3, kemarin.
Pantauan BPost, beberapa penumpang ada yang tidak kebagian tiket, sehingga harus
menunggu pemberangkatan kapal berikutnya.
Widodo mengaku, meski keluarganya di Jawa, tak setiap tahun ia dapat pulang mudik. Itu
semua karena penghasilannya sebagai tukang bengkel las karbit di kawasan Bitahan Rantau
tidak mencukupi jika harus mudik setiap tahun.
"Makanya mumpung ada rezeki saya pulang. Saya sudah kangen dengan anak dan istri
saya," ucapnya lugu.
Bahkan, saking antusiasnya ia pulang dengan membawa banyak buah tangan. Setidaknya ada
dua tas besar yang berisi oleh-oleh untuk anak dan istri serta keluarganya di kampung.
Mudik memang sudah menjadi satu tradisi yang menyatu dengan keseharian masyarakat
Indonesia menjelang lebaran Idul Fitri. Hampir setiap tahun, masyarakat dari berbagai suku
di Indonesia yang berada di perantauan menyempatkan untuk pulang kampung.
Tak jelas memang siapa yang memulai budaya mudik pertama kali. Namun kebiasaan pulang
ke kampung halaman untuk sekadar berjumpa sanak saudara membuat masyarakat rela
berpayah-payah untuk dapat mudik.
Seperti halnya yang dilakukan keluarga Usman asal Amuntai yang ingin mudik ke Kediri,
Jatim. Tiga beranak yang terdiri atas Usman, istrinya Amanah serta putri mereka Fitri,
tampak kelelahan di penginapan yang sama dengan yang ditempati Widodo.
"Kami sudah tiba di sini sejak kemarin. Tapi karena tidak dapat tiket terpaksa
harus menginap semalam dulu di sini," ujarnya.
Usman yang sembari rebahan di ruang penginapan yang berukuran 5x3 meter menuturkan
bahwa mudik di saat lebaran merupakan ajang yang selalu dinantikan. Selain sebagai sarana
liburan bersama keluarga, Usman berharap dapat bertemu dengan anggota keluarga jauh
lainnya yang rencananya juga pulang kampung.
"Jadi kalau pulang tahun ini bisa ketemu saudara yang sudah lama nggak ketemu.
Maklum, hampir semua anggota keluarga di kampung adalah perantauan," paparnya.
Selain membawa anak dan istrinya, Usman juga banyak membawa barang. Isinya antara lain
oleh-oleh khas Banjar untuk keluarga di Jawa, serta beberapa potong pakaian untuk
bersilaturrahmi dan persiapan libur selama 12 hari di sana.
Setiap pulang kampung, sebagian besar pemudik memang selalu menyertakan barang bawaan
yang banyak jumlahnya. Bahkan, seringkali tampak merepotkan dan memberatkan si empunya.
Seperti pantauan BPost di Terminal Penumpang Bandarmasih Trisakti, Sabtu dan
Minggu malam lalu, mayoritas pemudik tampak membawa barang bawaan mereka yang
bertumpuk-tumpuk.
Bagi yang memiliki uang berlebih dan tak ingin repot biasanya memanfaatkan jasa portir
kapal dengan upah antara Rp15 ribu hingga Rp25 ribu. Sedangkan bagi yang memiliki kantong
cekak, nekat membawa sendiri seluruh barangnya dengan dipanggul, dikempit, digendong atau
sedikit diseret saat naik ke dak kapal. Yang menarik, jumlah yang nekat itu, justru tampak
lebih banyak dari yang memanfaatkan jasa portir. m4