KABUPATEN Banjar bukan hanya terkenal dengan makam Datuk Kalampayan atau Syekh
Muhammad Arsyad Al Banjary, yang terletak di Desa Kalampayan Kecamatan Astambul. Namun,
wilayah ini juga terkenal dengan banyaknya pengemis yang berjejer di bahu jalan menuju
makam.
Jika tiba hari besar Islam seperti hari raya Idul Fitri, maka bahu jalan sepanjang
ratusan meter menuju makam Datuk Kalampayan itu bakal disesaki ratusan pengemis yang
berbaju compang-camping, baik tua ataupun muda, laki-laki maupun perempuan.
Mereka berjejer sambil menadahkan tangan mengharap belas kasih dan lemparan uang receh
dari para peziarah, yang datang tidak hanya dari Kalsel, tetapi juga datang dari luar
propinsi.
Para pengemis juga tidak hanya berasal dari Astambul, konon juga ada yang datang dari
Martapura dan sekitarnya, guna mengais rezeki atas belas kasih peziarah.
Jika pengemis tersebut benar-benar kaum dhuafa, tentu saja hal itu dianggap biasa.
Namun, sebagaimana diakui sendiri oleh warga setempat, kebanyakan pengemis justru adalah
orang yang kuat fisiknya dan mampu bekerja.
"Namun, supaya penampilannya sebagai pengemis lebih meyakinkan, mereka sengaja
membuat dirinya kotor dengan baju compang-camping. Bahkan, ada yang sengaja melipat kaki
ke bagian paha dibalut celana panjang seolah-olah kakinya buntung," tutur Subli (60),
warga Sungai Tuan.
Ditambahkan, para pengemis jadi-jadian ini sudah tidak malu lagi, apakah dia pantas
sebagai pengemis atau tidak. "Mereka sebenarnya hanya malas bekerja. Padahal, selain
bertani, mereka juga bisa saja ikut menggarap kebun jeruk yang banyak terdapat di
kecamatan ini. Mungkin karena lebih gampang dapat duit dengan mengemis sehingga mereka
tidak lagi merasa malu," tuturnya.
Sementara seorang pengemis yang sudah renta, Radiah (75) asal Desa Munggu Raya mengaku
dirinya terpaksa mengemis, karena ketiga anaknya juga tergolong orang miskin. "Jadi
supaya dapat makan, terpaksa nenek mengemis. Memang banyak yang mengemis di sini
sebenarnya orangnya masih kuat, tetapi sengaja membuat dirinya tampak miskin dan
cacat," ungkapnya.
Radiah menambahkan, di kampung asalnya, ia dan anaknya hanya memiliki sebidang tanah
yang kecil untuk bertani. "Hasilnya memang tidak seberapa. Memang hal itu coba
diakali dengan menjadi buruh tani, namun tetap saja hidup kami susah," akunya.
Jika hari-hari biasa, Radiah mengaku bisa dapat Rp4.000 sampai Rp5.000. "Tetapi,
jika hari Minggu, nenek bisa saja mendapat uang sampai Rp20.000," tuturnya.
Nah, biasanya, pada hari raya, peziarah ramai ke sini, maka para pengemis pun bakal
makin ramai memadati sepanjang jalan menuju makam. Fenomena tersebut memang cukup
mengganjal bagi orang yang peduli. Meskinya Pemkab Banjar mesti bersikap dan membuat
program terpadu guna mengatasinya.
Karena bukan mustahil, justru tren mengemis semakin meningkat di masa-masa mendatang,
mengingat sekarang saja, sudah banyak anak-anak usia sekolah yang terbiasa menadahkan
tangan kepada peziarah. adi