KEKHAWATIRAN pelaku pasar akan tingginya inflasi Oktober dan naiknya suku bunga The Fed
yang keduanya akan diumumkan 1 November, memicu pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Pada penutupan, Senin (31/10) pukul 17.00 WIB, rupiah terpuruk di level Rp10.115 per
dolar AS atau turun 80 poin dibandingkan penutupan pada Jumat pekan lalu.
Inflasi Oktober diprediksi mengalami tekanan yang cukup besar karena terpengaruh
hebatnya dampak kenaikan BBM per 1 Oktober.
Kenaikan BBM lebih dari 100 persen ini telah melemahkan sendi-sendi perekonomian
masyarakat Indonesia.
Akibatnya tekanan inflasi Oktober cukup besar, dan diperkirakan akan memaksa Badan
Pusat Statistik (BPS) melakukan revisi target karena peluang inflasi tahunan bisa menembus
dua digit.
Selain itu ,investor juga memantau potensi kenaikan bunga the Fed yang saat ini di
level 3,75 persen. Jika the Fed menaikkan suku bunga lagi maka dolar akan menguat
signifikan dan memancing investor untuk berburu dolar.
Sebaliknya pasar saham bergerak positif. Aksi spekulasi sejumlah investor di tengah
sepinya perdagangan saham, membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 7,968 poin pada
level 1.066,224.
Investor melakukan spekulasi beli menjelang libur panjang lebaran terhadap beberapa
saham uggulan. Pasalnya, pascalibur pasar saham diprediksi akan kembali marak
mengantisipasi penutupan akhir tahun.
Indeks LQ-45 naik 1,563 poin pada level 227,828, Jakarta Islamic Index (JII) naik 0,701
poin pada level 181,422, Main Board Index (MBX) naik 2,258 poin pada level 290,538,
sedangkan Development Board Index (DBX) naik 1,291 poin pada level 219,241.
Transaksi saham di pasar reguler berlangsung sepi dengan frekuensi sebanyak 5.366 kali
pada volume 570.908 lot saham, senilai Rp458,241 miliar. Sebanyak 48 saham naik, 30 saham
turun dan 285 saham stagnan.
Saham-saham yang naik harganya di top gainer antara lain Astra Internasinal (ASII) naik
Rp250 menjadi Rp9.300, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp100 menjadi Rp2.450, Medco
Energi Internasional (MEDC) naik Rp100 menjadi Rp3.525, Kalbe Farma (KLBF) naik Rp20
menjadi Rp870 dan Bank Mandiri (BMRI) naik Rp20 menjadi Rp1.320.
Sedangkan saham-saham yang turun harganya di top losser antara lain International
Nickel (INCO) turun Rp359 menjadi Rp14.450, Samudera Indonesia (SMDR) turun Rp 350 menjadi
Rp 7.850, Telkom (TLKM) turun Rp50 menjadi Rp5.000, Indosat (ISAT) turun Rp25 menjadi
Rp4.875, Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) turun Rp25 menjadi Rp3.300, Tambang Batubara
Bukit Asam (PTBA) turun Rp20 menjadi Rp1.780. dtc