Banjarmasin, BPost
Tiga hari menjelang Idul Fitri 1426 H (H-3) harga sejumlah bahan kebutuhan pokok di
kota Banjarmasin makin melonjak.
Pantauan di beberapa pasar tradisional di Banjarmasin, Senin kenaikan harga kebutuhan
pokok tersebut hampir semua jenis dan terlihat mencolok pada kelompok sayuran dan
lauk-pauk.
Harga kelompok sayuran naik tajam terjadi pada cabe merah dan cabe rawit lokal.
Sedangkan sayuran lainnya juga naik, seperti kentang, kacang panjang patahan dan kol
bulat.
Kelompak lauk-pauk naik sangat berati terjadi pada daging sapi tadinya Rp46.000 per kg
kini naik menjadi Rp50.000 per kg, daging ayam ras, dan telur ayam ras kenaikannya
mencapai Rp1.000 per kg.
Ayam kampung (ayam buras) tampaknya kini menjadi buruan banyak pembeli, dan harga jual
hewan ternak itu juga melabung capai harga tertinggi dengan kenaikan sekitar Rp15.000 per
ekor.
Komoditi palawija, seperti kacang tanah naik sangat tajam, karena permintaan meningkat,
seperti kacang tanah lokal asal kabupaten Tapin, Rantau naik Rp2.000 per kg, emping
belinjo juga naik Rp2.500 per kg.
Sedangkan beras juga naik tadinya beras lokal siam unus gambut, beras kualitas terbaik
tadinya Rp56.000 per blek (kaleng isi 20 liter/16 kg) kini naik menjadi Rp60.000 per
kaleng, gula pasir tadinya Rp6.300 per kg kini naik menjadi Rp6.500 per kg, dan serupa
dengan tepung terigu cap Kompas tadinya Rp3.750 per kg kini naik menjadi Rp4.000 per kg.
Sejumlah pedagang di Banjarmasin membenarkan, harga kebutuhan pokok belakangan ini
melonjak, karena persediaan menipis dengan meningkatnya permintaan pasar menjelang
lebaran, hari raya Idul Fitri 1426 H, sedangkan pasokan stabil.
Kenaikan sejumlah kebutuhan pokok tersebut, diperkirakan akan terus berlanjut, dan
puncaknya pada H-1, dan H+2 hingga H+3, dan tingkat kenaikan itu capai 20 hingga 50
persen, karena persediaan barang pada saat itu terbatas, dan sejumlah pedagang belum
banyak yang membuka tokonya, kata salah seorang pedagang Sembako di Pasar lama, salah satu
pasar tradisional tertua di Banjarmasin.
Pemerintah daerah melalui instansi terkait Kanwil Depperindag Kalsel, sebelumnya juga
melakukan operasi pasar (OP) dan termasuk menggelar pasar murah yang berlangsung tanggal
25 hingga 28 Oktober lalu, tampaknya kurang berhasil untuk menekan tingkat lonjakan harga.
Misalnya gula pasir pada pasar murah itu dijual hanya Rp5.500 per kg, namun karena
persediaan terbatas, 100 kilogram per hari itu, hanya 1 jam gula pasir murah itu sudah
habis terjual, sementara harga gula pasir di pasaran saat ini sudah mencapai Rp6.300
hingga Rp6.500 per kg.
Sedangkan Data Depperindag Kalsel, stok gula pasir yang terhimpun dari 13 anggota
Asosiasi Pedagang Gula Bersatu (APGB) aktif tercatat 7 ribu ton, dan diperkirakan mampu
memenuhi kebutuhan 1 hinga 2 bulan ke depan dari kebutuhan 4 ribu-5 ribu ton per bulan. ant