"Bos, lawas nih kada talihat, kayapa habar?" sapa pria di sebuah petak
berukuran 2x2 meter kepada BPost. Sapaan bersahabat diiringi senyum khas memikat
ini yang selalu ia ucapkan pada setiap tamu yang mengunjungi petak usahanya.
Dialah Andi (33), seorang tukang cukur yang menempati blok kasbah No 10 Plaza Barabai.
Sikapnya yang senantiasa ceria membuat tukang cukur yang satu ini banyak mempunyai
pelanggan, terlebih saat-saat seperti sekarang ini.
Lebaran tinggal beberapa hari lagi, umat muslim tidak hanya disibukkan dengan
mempercantik rumah dengan aksi bersih-bersih, atau mempercantik tubuh dengan baju dan
sepatu baru, penampilan wajah juga tidak luput dari perhatian mereka.
Beruntunglah bagi para tukang cukur. Bulan Ramadhan ini memang bisa dikatakan bulan
yang benar-benar baik, terlebih bagi mereka. Karena diakhir bulan ini mereka akan
kebanjiran tamu yang ingin menggunting atau sekadar merapikan rambutnya.
Menggantungkan hidup dari menjual jasa sebagai tukang cukur bukan pekerjaan baru lagi
bagi Andi, Selama 11 tahun ia sudah menggeluti usaha ini. Dalam rentang waktu itu pula ia
bisa menghidupi istri dan ketiga anaknya.
"Anakku yang paling besar sudah SD dan yang paling kecil masih satu tahun,"
ujarnya saat bercakap-cakap sembari tetap terampil memainkan tangannya di atas kepala tamu
yang menggunakan jasa cukurnya.
"Nah sudah selesai," ujarnya. Hanya dalam waktu sekitar 10 menit satu kepala
manusia berhasil ia kuasai. Hitung saja kalau ia sudah membuka petaknya dari pukul 07.00
Wita dan menutupnya pada pukul 18.00 Wita, berapa kepala yang telah tunduk di balik jemari
dua tangannya.
"Kada kaawakan lagi bos sai, hitung ha sorang, pelanggannya kada sing putusan, mun
hari biasa kawa haja baistirahat, handak hari raya nang kaya ngini bilang banyak banar
urang nang handak bagunting," ujarnya dalam Bahasa Banjar yang dibumbui Bahasa
Indonesia sekali-kali.
Memang dalam 10 hari terakhir ini Andi mengaku kebanjiran tamu, karenanya untuk menjaga
kondisi tubuh Andi tidak buka malam, ia hanya buka sampai sore hari sedang malam untuk
istirahat dan berkumpul keluarga.
"Rezeki memang rezeki, tetapi kalau hari raya awak garing, lebih baik mansyukuri
nang ada haja kelo," ujarnya sambil tertawa lepas. Paling tidak penghasilannya
menjelang lebaran ini benar-benar mengalami kenaikan hingga beratus-ratus persen.
Kalau biasanya sekitar Rp50 ribu perhari sekarang bisa Rp200 ribu lebih perhari.
"Alhamdulillah hasilnya bisa hagan manukarakan baju kakanakan," ujarnya seraya
tetap sibuk dengan tugasnya. wahyudi rachman