Kandangan, BPost
Wajah nenek Khadijah begitu sumringah saat menerima dana Subsidi Langsung Tunai
(SLT). Kini uang senilai Rp300.000 sudah di tangannya. Janda warga Desa Telaga Bidadari,
Kecamatan Sungai Raya ini pun mengucap lirih "Alhamdulillah".
Berjalan tertatih-tatih dituntun petugas, wanita yang sudah memasuki usia di atas 80
tahunan ini pun duduk sejenak. Saat dihampiri dan ditanya, untuk apa uangnya itu, jawaban
singkat Nini Khadijah begitu mengejutkan.
Subhanallah, saat orang banyak berlomba-lomba mengaku miskin setelah ada program
humanis SBY, nenek ini ternyata memiliki cita-cita mulia untuk memanfaatkan dana SLT yang
diterimanya di penghujung Ramadhan.
Pokoknya, semua kesusahan yang telah dialaminya diidam-idamkannya akan berakhir dengan
Rp300.000 tersebut. Tapi, jangan salah di antara kegembiraannya tersebut, saat menyongsong
hari lebaran yang fitri, ia masih teringat dengan nasib teman-temannya yang terkadang
makan terkadang tidak.
Ingin tahu apa yang dicita-citakanya? Nini Khadijah, wanita renta yang mencari
nafkah sebagai petani penggarap sawah milik orang lain yang notabene tercap sebagai
orang yang layak menerima zakat fitrah-- ternyata masih ingat untuk menyisihkan uangnya
untuk memenuhi rukun Islam ke empat, berzakat fitrah.
Bukan kesenangan pribadi yang dipikirkannya. Tapi jauh dari itu, ia masih berpikir
bagaimana agar teman sekitarnya dapat juga menikmati Rp300.000 tersebut.
Alih-alih berpikir membeli baju, baginya mencukupi keperluan akan makan sendiri dan
satu saudaranya, uang tersebut jauh lebih dari cukup. Karena itu, akunya ia pun ingin
berfitrah mensucikan hati dengan rezeki yang diterimanya, berbagi dengan sesama kaumnya.
"Napang-ada, gasan bafitrah ai. Gasan kawal nang kada dapat," ujarnya
masih dengan suara pelannya. Ia terus saja memegang erat KKB dan tiga lembar uang
Rp100.000-an yang baru saja diterimanya, sambil tersenyum penuh arti.
Sempat, ia merasa ketakutan, tidak dapat mengambil dana yang belakangan memunculkan
ekses sosial ini. Banyak peringatan yang didengarnya dari kanan dan kiri. Namun dengan
jalan yang Kuasa lah, dalam dirinya pun terbersit niat yang sangat mulia.
Kalau orang lain yang lebih mampu terjadang lupa akan kewajiban ini, Nini
Khadijah justru mengagendakan zakat fitrah di baris teratas. Jauh dari nafsu duniawi,
sebagaimana kebanyakan dilakukan tidak sedikit orang. anita k wardhani