Banjarmasin, BPost
Tekad Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalimantan Selatan untuk
mengutamakan kepentingan atlet dan pelatih bukan sekedar slogan. Lihat saja anggaran
insentif atlet yang telah dicairkan sejak tahap satu hingga dua sudah mencapai Rp240 juta.
Jika dikalkulasikan sampai pencairan insentif tahap ketiga, maka seorang atlet peraih
emas di PON XVI Palembang mendapat Rp7,5 juta pertahun, perak memperoleh Rp6 juta dan
atlet perunggu membungkus Rp5 juta pertahun.
Di Kalsel, terdapat 32 atlet peraih medali di PON XVI Palembang yang berasal dari
cabang catur, binaraga, angkat besi, angkat berat, gulat, renang, loncat indah tinju dan
wushu.
Untuk sepuluh peraih emas masing-masing mendapatkan Rp600 ribu dengan total pengeluaran
Rp6 juta per bulan. Sedangkan duabelas peraih perak mendapat Rp500 ribu dengan total Rp6
juta dan perunggu mendapat Rp400 ribu dengan total Rp4 juta per bulan.
Dana juga buat 16 pelatih cabang berprestasi sebesar Rp250 ribu perbulan dengan total
pengeluaran per bulan Rp4 juta. Kalau insentif per bulan ini ditotal selama satu tahun,
berarti Rp20 juta perbulan dikali duabelas bulan menghasilkan total pengeluaran Rp240 juta
per tahun.
Insentif ini menduduki pos anggaran terbesar KONI, jika dibandingkan dengan anggaran
dana lain dari total bantuan dana bantuan yang ada sebesar Rp550 juta. Dana tersisa
sebesar Rp300 juta akan digunakan untuk bantuan Kejurnas dan Kejurwil tiap cabang,
kesekretariatan, litbang dan program lainnya.
Sekretaris Umum KONI Kalsel, Drs H Sarmidi MKes, Senin (31/10) mengatakan jumlah besar
dana insentif atlet nyaris tidak bermasalah, karena masih ada dana tersisa buat anggaran
lainnya.
"Bantuan atlet memang menjadi prioritas utama, karena sudah sesuai dengan komitmen
KONI sekarang. Total dana yang telah dicairkan selama 2005 baru sembilan bulan, tiga bulan
tahap pertama dan enam bulan tahap kedua. Sisa tiga bulan lagi akan dibayar pada awal
2006," ungkapnya.
"Pembayaran tahap ketiga sama dengan dua tahap sebelumnya. Tapi kami menunggu
hasil rapat KONI, apakah insentif berasal dari anggaran bantuan yang diajukan KONI senilai
Rp18 miliar atau dari pos lainnya," tambah Sarmidi.
Ia mengakui anggaran insentif untuk atlet Bumi Lambung Mangkurat belum sebanding daerah
lain yang mematok insentif tinggi, Tapi paling tidak sudah menunjukkan kepedulian KONI
yang cukup besar terhadap atlet berprestasi.
Catatan buat KONI, karena baru kepengurusan kali ini ada insentif buat atlet. Bahkan,
kabarnya pengurus KONI juga mendapat honor bulanan demi kelancaran tugas.
"Andai KONI punya cadangan dana sendiri dari Anggaran Pembangunan dan Belanja
Daerah (APBD), kemungkinan besar insentif akan dinaikkan. Sayang, dana bantuan KONI masih
berada di bawah Kesra Pemprov, sehingga cadangan dana cukup terbatas," jelas Sarmidi.
Sebagai bahan perbandingan, Kalimantan Tengah sudah memiliki cadangan dana tersendiri
buat KONI. Bahkan, dayung dan catur langsung mandapat bantuan dari APBD. Wajar, jika
prestasi kedua cabang tersebut bisa melebihi Kalsel.
"Oleh karena itu, dalam rapat dengar pendapat dengan gubernur mendatang, kami akan
mengeluarkan usulan pengelolaan dana KONI. Apakah tetap mengandalkan Kesra atau bisa
mendapat bantuan dana langsung dari APBD," tandasnya.
Selain itu, KONI akan menunggu realisasi Undang-undang Sistem Keolahragaan Nasional (UU
SKN) yang akan disahkan Januari mendatang. "Salah satu esensi UU itu menegaskan dana
keolahragaraan berasal dari APBN dan APBD," pungkasnya. c6