:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah Spirit Kalsel • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Marhaban Ya Ramadhan
Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Selasa, 01 Nopember 2005 00:50


Mudiklah Dikau, Kau Kupameri

Oleh : Pribakti B

Salah satu realitas yang menarik dari lebaran adalah mudik. Jutaan migran dari berbagai penjuru kota besar, akan balik ke kampung. Meskipun aktivitas mudik itu dibungkus dalam berbagai jargon sakral seperti menyambung silaturahmi, bermaaf-maafan dengan sanak keluarga, mengembalikan lahir dan bathin ke alam fitri bersama kerabat. Toh mudik tidak sekadar untuk itu semua.

Fenomena mudik sekaligus menjadi indikator dari ketergantungan kampung kepada kota. Status sosial tengah dan bawah di kampung, tidak mungkin menaiki tangga sosial langsung ke lapisan elit lokal. Dengan merambah nasib di kota, mobilitas sosial bisa melalui ‘jalan tol’ untuk naik tangga sosial. Ketika berada di kota, orang kampung itu mungkin hanya bisa menempati strata atas dari kelas bawah. Ketika ia kembali ke kampung , posisinya langsung masuk strata atas. Jadi, perlu dan bahkan harus mudik, supaya status di dalam pelapisan sosial di daerah asal menjadi jelas.

Lebih dari itu, mudik rupanya identik dengan pamer ‘keberhasilan pemilikan kebendaan’ oleh warga yang merantau kepada kerabat dan sohibnya di kampung.

Maka, ketika masih bocah dulu, saat-saat menjelang lebaran dan beberapa hari sesudahnya, saya dan teman-teman di kampung selalu mempunyai aktivitas rutin. Mulai pagi sampai sore ‘begadang’ di pinggir jalan kampung untuk menghitung, berapa banyak mobil letter B (Jakarta), L (Surabaya) dan mobil kota besar lainnya yang lewat di jalan di kampung. Jakarta, Surabaya dan Bandung merupakan nama kota besar yang oleh orang tua di kampung disosialisasikan kepada anak-anaknya sebagai kota penuh kesuksesan.

Di benak kami, bocah waktu itu, kota besar terbayangkan sebuah kota penuh cahaya gemerlap dan uang ada di mana-mana. Bayangan kami, kota-kota itulah wujud dari sebuah kota yang kaya raya, aman sejahtera, seperti yang diajarkan guru selama ini. Bukti kebenaran ‘anggapan’ itu, setiap lebaran kami peroleh. Senior-senior kami yang selesai sekolah kemudian hidup di kota-kota besar itu, setiap mudik banyak yang membawa mobil bagus, traktir sana sini, kirim bingkisan/parsel ke para sesepuh dengan tubuh beraroma wangi, yang seumur-umur aroma seperti itu belum pernah mampir ke hidung bocah di kampung.

Jadi tidak ada bukti untuk tidak percaya, kota-kota besar merupakan kota penuh kesuksesan. Setiap lebaran datang, dari tahun ke tahun, realitas seperti itu terus berulang. Dan, terus berulang hingga kini. Entah kapan berakhir. Lalu apa setiap mudik lebaran masih tetap ‘tradisi’ pamer?

Kebendaan

Tapi, lain dulu lain sekarang. Warga kampung saya sudah berubah. Bukan lagi warga kampung duapuluh atau tigapuluh tahun lalu, yang belum kenal RCTI, SCTV, TPI, Indosiar, Metro TV, AnTV, TV 7 atau MTV. Kini mereka sudah melahap iklan darimana saja. Alhasil, mereka menjadi paham merek mobil, mengerti parsel, tahu bedanya aroma ‘deodoran di mana saja kapan saja’ dengan aroma eksklusif, selanjutnya terserah Anda? Akibatnya, migran yang masih ingin mempertahankan citranya ke warga kampung bahwa hijrah ke kota besar merupakan kesuksesan, biayanya semakin mahal.

Tentu, bukanlah sebuah persoalan bagi mereka yang sanggup mengikuti derap pembangunan. Karena, posisinya di kota memang menjanjikan sumber daya ekonomi yang tidak ada habisnya (entah karena koalisi, entah karena korupsi).

Bagi warga migran yang posisinya tersuruk jauh dari sumberdaya ekonomi, tentu tertatih-tatih untuk mengikuti laju pembangunan ini. Ironisnya, mereka gengsi kalau mudik lebaran menunjukkan diri sekadar bisa bertahan hidup di kota besar, apalagi menunjukkan kekalahannya dalam pergulatan kota besar. Maka, mudik pun harus wah, apa pun kiatnya.

Alhasil, lebaran menjadi hari panen raya bagi tukang kredit (uang maupun barang), pegadaian, bank perkreditan rakyat dan persewaan mobil. Persewaan mobil (rent car) misalnya, bahkan seminggu sebelum lebaran tidak bisa menerima pesanan lagi. Mobil-mobil sewa itu akan meluncur di gang-gang kampung yang sempit dan becek. Pengendaranya dan mungkin juga keluarganya, tentu akan berakting sebagai pemilik. Berpuluh cerita mungkin akan dirangkai perihal mobil itu, untuk meyakinkan kesuksesan hidup mereka di kota besar. Para sesepuh di kampung akan percaya saja dan mengelu-ngelukannya.

Tentu saja, kebohongan-kebohongan seperti itu bertentangan dengan esensi lebaran yakni kembali ke fitri, ke kesucian jati diri kemanusiaan. Namun, realitas sosiologis tidak bisa dilihat dari prespekstif idealis. Mau tidak mau harus diakui norma yang paling dekat dan sangat kuat mempengaruhi wujud realitas, yaitu norma ekonomi. Bila dunia ekonomi kita memanjakan kepemilikan terhadap barang luks, maka realitas kehidupan sehari-hari kita adalah lomba keganasan untuk menjadi pemilik barang luks itu. Akibatnya, jadilah kesuksesan diukur dari sejauhmana kepemilikan kebendaan (yang bisa ditunjukkan).

Omong Kosong

Begitulah, kisah sukses harus dipamerkan sang migran ke komunitas asal. Rupanya, penguatan identitas sosial dan kultural melalui identitas ekonomi dan (belakangan) politik. Mereka yang belum sukses, memilih untuk tidak pulang, sampai ada identitas ekonomi atau status yang bisa dipamerkan. Entah siapa dulunya yang merumuskan kebijakan itu, tetapi perangkat psikososial kita mengalir saja mengikutinya.

Sementara norma ideal yang mencoba menahan kita untuk tetap berjiwa fitri dalam menyikapi dunia ini, menjadi kian tertatih-tatih. Padahal, seandainya kita menyadari berupaya membangun pribadi yang rasional (yang tidak larut dalam nafsu hedonis kapitalis di sekitarnya), merupakan omong kosong saja di tengah kehidupan masyarakat yang semua orientasi geraknya menuju ke satu titik itu. Tak pelak lagi, akal budi kita menjadi akal budi intrumenstalis. Menjadi alat saja dari perkembangan keadaan yang kian mengadiluhungkan kebendaan, dan bukan penentu atau pengarah keadaan.

Oleh karena itu, bila hari-hari lebaran banyak tetangga kita yang anak-anaknya mudik dengan mobil pribadi, sementara anak dan kerabat kita naik kendaraan umum, maka minderlah kita. Lebaran depan kita menginginkan anak-anak kita melakukan hal yang sama, kalau bisa merek mobilnya lebih ‘oke’ dan tahunnya lebih mutakhir. Mungkin anak-anak pun dengan antusias atau hanya dalam hati akan menyanggupinya. Tetapi bagaimana memperoleh semua itu?

Kota besar tidak hanya diserbu warga satu atau dua kampung. Berjuta warga kampung menuju kota besar untuk mengejar ‘kue sukses’. Ada yang berhasil, jutaan lainnya terjungkal. Meskipun demikian, semua ingin mudik dengan wajah kesuksesan (kebendaan). Entah kredit, pinjam teman, tipu menipu, korupsi, sewa mobil dan lain-lain.

Menyadari semua itu, setiap Lebaran saya jadi miris melihat mobil letter kota besar yang terus mondar mandir di jalanan kampung. Semua yang dipamerkan mereka itu merupakan kebohongan atau benar-benar hasil kesuksesan? Mudah-mudahan hasil sebuah perjuangan kesuksesan, tanpa memakan korban siapa pun, tanpa menyalahi aturan apa pun. Jadi, mudiklah dikau, kau kupameri! Selamat Lebaran, kawan.

* Dokter RSUD Ulin, tinggal di Banjarmasin


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


O P I N I
Mudiklah Dikau, Kau Kupameri

Orang-orang Yang Rindu


Tajuk: PNS + THR= Kinerja


Hot Line: HSS, Wacana Dan Pandir Warung


Hot Line: Sayembara Rancang Banjarmasin


Hot Line: Terima Kasih Mahasiswa IAIN


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123