Salah satu
realitas yang menarik dari lebaran adalah mudik. Jutaan migran dari berbagai penjuru kota
besar, akan balik ke kampung. Meskipun aktivitas mudik itu dibungkus dalam berbagai jargon
sakral seperti menyambung silaturahmi, bermaaf-maafan dengan sanak keluarga, mengembalikan
lahir dan bathin ke alam fitri bersama kerabat. Toh mudik tidak sekadar untuk itu semua.
Fenomena mudik sekaligus menjadi indikator dari ketergantungan kampung kepada kota.
Status sosial tengah dan bawah di kampung, tidak mungkin menaiki tangga sosial langsung ke
lapisan elit lokal. Dengan merambah nasib di kota, mobilitas sosial bisa melalui
jalan tol untuk naik tangga sosial. Ketika berada di kota, orang kampung itu
mungkin hanya bisa menempati strata atas dari kelas bawah. Ketika ia kembali ke kampung ,
posisinya langsung masuk strata atas. Jadi, perlu dan bahkan harus mudik, supaya status di
dalam pelapisan sosial di daerah asal menjadi jelas.
Lebih dari itu, mudik rupanya identik dengan pamer keberhasilan pemilikan
kebendaan oleh warga yang merantau kepada kerabat dan sohibnya di kampung.
Maka, ketika masih bocah dulu, saat-saat menjelang lebaran dan beberapa hari
sesudahnya, saya dan teman-teman di kampung selalu mempunyai aktivitas rutin. Mulai pagi
sampai sore begadang di pinggir jalan kampung untuk menghitung, berapa banyak
mobil letter B (Jakarta), L (Surabaya) dan mobil kota besar lainnya yang lewat di
jalan di kampung. Jakarta, Surabaya dan Bandung merupakan nama kota besar yang oleh orang
tua di kampung disosialisasikan kepada anak-anaknya sebagai kota penuh kesuksesan.
Di benak kami, bocah waktu itu, kota besar terbayangkan sebuah kota penuh cahaya
gemerlap dan uang ada di mana-mana. Bayangan kami, kota-kota itulah wujud dari sebuah kota
yang kaya raya, aman sejahtera, seperti yang diajarkan guru selama ini. Bukti kebenaran
anggapan itu, setiap lebaran kami peroleh. Senior-senior kami yang selesai
sekolah kemudian hidup di kota-kota besar itu, setiap mudik banyak yang membawa mobil
bagus, traktir sana sini, kirim bingkisan/parsel ke para sesepuh dengan tubuh beraroma
wangi, yang seumur-umur aroma seperti itu belum pernah mampir ke hidung bocah di kampung.
Jadi tidak ada bukti untuk tidak percaya, kota-kota besar merupakan kota penuh
kesuksesan. Setiap lebaran datang, dari tahun ke tahun, realitas seperti itu terus
berulang. Dan, terus berulang hingga kini. Entah kapan berakhir. Lalu apa setiap mudik
lebaran masih tetap tradisi pamer?
Kebendaan
Tapi, lain dulu lain sekarang. Warga kampung saya sudah berubah. Bukan lagi warga
kampung duapuluh atau tigapuluh tahun lalu, yang belum kenal RCTI, SCTV, TPI, Indosiar,
Metro TV, AnTV, TV 7 atau MTV. Kini mereka sudah melahap iklan darimana saja. Alhasil,
mereka menjadi paham merek mobil, mengerti parsel, tahu bedanya aroma deodoran di
mana saja kapan saja dengan aroma eksklusif, selanjutnya terserah Anda? Akibatnya,
migran yang masih ingin mempertahankan citranya ke warga kampung bahwa hijrah ke kota
besar merupakan kesuksesan, biayanya semakin mahal.
Tentu, bukanlah sebuah persoalan bagi mereka yang sanggup mengikuti derap pembangunan.
Karena, posisinya di kota memang menjanjikan sumber daya ekonomi yang tidak ada habisnya
(entah karena koalisi, entah karena korupsi).
Bagi warga migran yang posisinya tersuruk jauh dari sumberdaya ekonomi, tentu
tertatih-tatih untuk mengikuti laju pembangunan ini. Ironisnya, mereka gengsi kalau mudik
lebaran menunjukkan diri sekadar bisa bertahan hidup di kota besar, apalagi menunjukkan
kekalahannya dalam pergulatan kota besar. Maka, mudik pun harus wah, apa pun kiatnya.
Alhasil, lebaran menjadi hari panen raya bagi tukang kredit (uang maupun barang),
pegadaian, bank perkreditan rakyat dan persewaan mobil. Persewaan mobil (rent car)
misalnya, bahkan seminggu sebelum lebaran tidak bisa menerima pesanan lagi. Mobil-mobil
sewa itu akan meluncur di gang-gang kampung yang sempit dan becek. Pengendaranya dan
mungkin juga keluarganya, tentu akan berakting sebagai pemilik. Berpuluh cerita mungkin
akan dirangkai perihal mobil itu, untuk meyakinkan kesuksesan hidup mereka di kota besar.
Para sesepuh di kampung akan percaya saja dan mengelu-ngelukannya.
Tentu saja, kebohongan-kebohongan seperti itu bertentangan dengan esensi lebaran yakni
kembali ke fitri, ke kesucian jati diri kemanusiaan. Namun, realitas sosiologis tidak bisa
dilihat dari prespekstif idealis. Mau tidak mau harus diakui norma yang paling dekat dan
sangat kuat mempengaruhi wujud realitas, yaitu norma ekonomi. Bila dunia ekonomi kita
memanjakan kepemilikan terhadap barang luks, maka realitas kehidupan sehari-hari kita
adalah lomba keganasan untuk menjadi pemilik barang luks itu. Akibatnya, jadilah
kesuksesan diukur dari sejauhmana kepemilikan kebendaan (yang bisa ditunjukkan).
Omong Kosong
Begitulah, kisah sukses harus dipamerkan sang migran ke komunitas asal. Rupanya,
penguatan identitas sosial dan kultural melalui identitas ekonomi dan (belakangan)
politik. Mereka yang belum sukses, memilih untuk tidak pulang, sampai ada identitas
ekonomi atau status yang bisa dipamerkan. Entah siapa dulunya yang merumuskan kebijakan
itu, tetapi perangkat psikososial kita mengalir saja mengikutinya.
Sementara norma ideal yang mencoba menahan kita untuk tetap berjiwa fitri dalam
menyikapi dunia ini, menjadi kian tertatih-tatih. Padahal, seandainya kita menyadari
berupaya membangun pribadi yang rasional (yang tidak larut dalam nafsu hedonis kapitalis
di sekitarnya), merupakan omong kosong saja di tengah kehidupan masyarakat yang semua
orientasi geraknya menuju ke satu titik itu. Tak pelak lagi, akal budi kita menjadi akal
budi intrumenstalis. Menjadi alat saja dari perkembangan keadaan yang kian
mengadiluhungkan kebendaan, dan bukan penentu atau pengarah keadaan.
Oleh karena itu, bila hari-hari lebaran banyak tetangga kita yang anak-anaknya mudik
dengan mobil pribadi, sementara anak dan kerabat kita naik kendaraan umum, maka minderlah
kita. Lebaran depan kita menginginkan anak-anak kita melakukan hal yang sama, kalau bisa
merek mobilnya lebih oke dan tahunnya lebih mutakhir. Mungkin anak-anak pun
dengan antusias atau hanya dalam hati akan menyanggupinya. Tetapi bagaimana memperoleh
semua itu?
Kota besar tidak hanya diserbu warga satu atau dua kampung. Berjuta warga kampung
menuju kota besar untuk mengejar kue sukses. Ada yang berhasil, jutaan lainnya
terjungkal. Meskipun demikian, semua ingin mudik dengan wajah kesuksesan (kebendaan).
Entah kredit, pinjam teman, tipu menipu, korupsi, sewa mobil dan lain-lain.
Menyadari semua itu, setiap Lebaran saya jadi miris melihat mobil letter kota
besar yang terus mondar mandir di jalanan kampung. Semua yang dipamerkan mereka itu
merupakan kebohongan atau benar-benar hasil kesuksesan? Mudah-mudahan hasil sebuah
perjuangan kesuksesan, tanpa memakan korban siapa pun, tanpa menyalahi aturan apa pun.
Jadi, mudiklah dikau, kau kupameri! Selamat Lebaran, kawan.
* Dokter RSUD Ulin, tinggal di Banjarmasin