:: Kompas Cyber Media ::

[::] Portal Berita Daerah [::]

Metro Banjar • Serambi Ummah Spirit Kalsel • Diafragma • PASAR

Berita Cetak
HOME
Berita Utama

Marhaban Ya Ramadhan
Nusantara
Banjarmasin Plus
Banjarmasin Bungas
BISNIS
Sport Vaganza
Opini-Hot Line

Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah

Hiburan-Gaya Hidup
Internasional
Berita Kemarin
Info Data & Media
Banjarmasin Post
Susunan Redaksi

Pasang Iklan
Order Cetak
Berlangganan
Supporting By

Selasa, 01 Nopember 2005 00:50


Orang-orang Yang Rindu

Oleh: Nasrullah

Ketika Syawal tiba, sebelum atau beberapa hari sesudahnya seperti biasa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bandung dan lain-lain hingga Banjarmasin menjadi sepi. Kesibukan yang melanda kota tersebut seakan beristirahat, tidak ada lagi kemacetan lalu lintas. Kesibukan justru beralih ke pelosok kota, bahkan jauh ke pedalaman.

Selama Ramadhan, muslim menjalani berbagai ibadah, seperti puasa, tarawih, zakat fitrah dan lain-lain. Ketika Idul Fitri yang jatuh bertepatan satu Syawal yang merupakan titik balik manusia, kembali kepada fitrahnya. Pada dasarnya sederhana saja, ketika satu Syawal umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Fitri dengan melaksanakan Shalat Id. Setelah itu, dilanjutkan dengan saling memaafkan, memohon ampun atas kesalahan masing-masing.

Idul Fitri atau lebaran sebenarnya terjadi penguatan hubungan baik antarmanusia (hablumminannas). Sementara Ramadhan, sebagai garis vertikal antara Tuhan dan hamba Nya. Sebab, puasa muslim langsung berhubungan dengan Tuhan (hablumminallah).

Tradisi mudik lebaran, barangkali hanya terjadi di Indonesia. Kita akan menyaksikan ratusan ribu manusia Indonesia, bahkan jutaan mengalir dari kota besar tersedot kembali ke kampung halamannya. Tidak peduli besarnya ongkos pulang kampung, penghasilan didapatkan satu tahun dikorbankan untuk mudik lebaran. Semua jalan menuju luar kota mengalami kemacetan luar biasa, polisi dan pengatur lalu lintas disibukkan melayani arus mudik. Bahkan sniper disiapkan, mengantisipasi upaya yang mengganggu pemudik.

Sulit mengatakan ada keuntungan ekonomi yang didapat pemudik. Mereka harus mengeluarkan biaya transportasi pulang kampung, semakin berat ketika adanya tuslah dan kenaikan tarif akibat calo, ongkos selama diperjalanan, hingga membeli baju baru. Di kampung, status sebagai perantau sangat tidak enak bila memiliki uang lebih, yakni ongkos sosial mesti dibayar. Barangkali menyumbang untuk pembangunan tempat ibadah, memberikan uang kepada sanak saudara sebagai bukti perjuangan di rantau orang.

Secara ekonomi tidak ada keuntungan bagi pemudik, kecuali penyedia layanan. Entah itu, penyedia jasa transportasi darat, laut, udara atau layanan komunikasi seluler yang menurunkan biaya komunikasi berikut bonus pulsa atau SMS. Layanan pemudik mengiklankan jasanya di berbagai media massa, dari ATM hingga telekomunikasi melalui telepon seluler.

Anehnya ketika teknologi telekomunikasi mengalami kemajuan luar biasa, dari telepon, pengiriman pesan pendek, gambar, hingga teleconference, tidak bisa mengubah tradisi manusia Indonesia. Ternyata posisi mudik lebaran tidak tergantikan sedikit pun, untuk memenuhi kebutuhan manusiawi kita mesti bertemu muka, bertatapan, bersentuhan secara langsung. Itulah dilakukan setelah sekian lama manusia berpisah dengan tempat asalnya, mengalami berbagai pengalaman dan kenyataan hidup di perantauan.

Nilai Kemanusiaan

Bagaimanakah menjelaskan tradisi mudik lebaran ini? Apakah bersumber dari budaya Jawa yang sebenarnya bukan perantau, hingga ada filosofis mangan ora mangan yang penting kumpul. Pertanyaan lain, tentang pilihan mudik yang sebenarnya bisa dilakukan setiap saat. Akan tetapi justru pilihan momennya hanya ketika Idul Fitri. Maka, mudik lebaran menjadi siklus tahunan penduduk Indonesia untuk pulang kampung. Ataukah ada persfektif lain yang bisa dijadikan alasan lebih jelas, sebab mudik lebaran maupun halal bi halal hanya terjadi secara luar biasa pada manusia Indonesia.

Agak sulit mencari jawaban tepat atas pertanyaan itu, tetapi pada hakikatnya manusia adalah kembali. Ada ungkapan kembali ke pangkuan ibu pertiwi, kembali ke masyarakat, kembali kepada fitrah hingga tingkat tertinggi adalah kembali kepada Tuhannya. Sebagaimana panggilan Allah dalam Al Fajr ayat 27- 30.

Fungsi mudik lebaran sendiri, ada yang mengatakan sebagai suatu terapi untuk mengukuhkan hubungan kekeluargaan (to revitalize family relationships). Emha Ainun Nadjib mengatakan, kerinduan untuk pulang ke kampung halaman dan bersilaturahmi dengnan sanak famili sesungguhnya adalah episode awal dari teater kebutuhan batin manusia untuk kembali ke asal usulnya. Mudik lebaran itu episode pulang secara geografis dan kultural.

Manusia adalah makhluk sosial, artinya ia tidak mungkin bisa hidup sendiri. Manusia memerlukan pendamping hidup, dari kekasih menjadi istri sampai terciptanya sebuah keluarga hingga kerabat. Manusia juga memerlukan teman untuk berinteraksi dalam hidup bermasyarakat. Perlu identitas diri, sampai dalam bentuk lebih luas, manusia perlu bermasyarakat hidup bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Tanpa hal itu, orang akan terpenjara dalam kesunyian sebagai makhluk sosial. Barangkali itulah fungsi penjara. Menurut Sjafri Sairin (2005), orang diasingkan dari masyarakat agar ia menyadari diri untuk kembali kepada nilai kemanusiaannya.

Tidak mudik lebaran, seseorang akan merasakan penjara batin dalam kebudayaan Indonesia. Cobalah tinggal di perantauan yang kental suasana islami, tahan diri diri untuk tidak pulang, dengarlah suara takbir, menyaksikan orang saling bersalaman antarteman dan kerabat, ketika itu sungguh manusia akan mengalami kesepian dan kerinduan mendalam teringat kampung halaman. Kita merasakan desakan luar biasa dari dalam diri, untuk kembali berkumpul dengan keluarga.

Sesampainya Di Kampung

Sesampainya di kampung, pemudik entah itu profesinya pejabat, penjahat, pedagang, buruh, mahasiswa dan sebagainya akan larut dalam suasana romantika masa lalu. Mereka menggali kenangan yang dilewati, kemudian bertanya sebanyaknya tentang kejadian di kampung halaman. Bahkan mereka pergi ke kubur untuk ziarah, mendekatkan diri pada kehidupan asalnya. Terjadi peristiwa saling memberi dan menerima informasi. Orang kampung mengabarkan keadaan daerah, perantau menceritakan kehidupan dunia luar.

Namun bagaimana setelah mudik lebaran, ketika terjadinya arus balik. Apakah siklus pulang kampung terus bergulir hanya sebagai suatu tradisi, demi membayar sebuah kerinduan. Selama di kampung hendaknya proses informasi dunia luar memberikan pengetahuan bagi penduduk, untuk memilih dan menilai kehidupan luar yang cocok bagi kemajuan diri dan masyarakat setempat.

Bagi pemudik, mesti lebih menyadari mudiknya manusia tidak hanya merindukan kembali ke kampung halaman dan sanak kerabatnya. Suatu saat yang tak terduga, siap atau tidak dia harus ‘dimudikkan’ ke kampung akhirat untuk kembali kepada Tuhannya. Beruntunglah orang-orang yang bisa kembali dengan modal kerinduan, bertemu Tuhannya dengan jiwa yang tenang.

* Mahasiswa Pascasarjana Antropologi UGM Yogyakarta
e-mail: eje_jela@yahoo.com


Copyright © 2003 Banjarmasin Post


O P I N I
Mudiklah Dikau, Kau Kupameri

Orang-orang Yang Rindu


Tajuk: PNS + THR= Kinerja


Hot Line: HSS, Wacana Dan Pandir Warung


Hot Line: Sayembara Rancang Banjarmasin


Hot Line: Terima Kasih Mahasiswa IAIN


Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No16 Banjarmasin 70111 Phone: +62-511-3354370 Fax: +62-511-4366123