"Kami menemukannya beberapa bulan yang lalu," kata Menteri Pertahanan Israel Yitzhak Mordechai kepada para wartawan.
Mordechai mengomentari satu laporan oleh surat kabar Haaretz, bahwa Suriah sedang memproduksi semacam gas syaraf yang disebut VX yang bereaksi pada kulit dan sangat sulit dihilangkan.
"Saya telah berbicara dengan Menhan William Cohen selama kunjungan saya ke Washington. Saya juga berunding dengan pemerintah Inggris dan saya pikir semua negara Barat tahu Suriah memang memproduksi gas semacam itu," kata Mordechai.
Haaretz menampilkan tulisan analis militer Zeev Schiff, mengutip sumber intelijen Barat, yang mengatakan Suriah sebelumnya sudah menciptakan rudal berkepala hulu ledak darat ke darat yang bisa menyebarkan gas tersebut.
Suriah sudah pula memiliki gas Sarin yang bereaksi lewat sistem pernapasan, tulis Schiff. "Sekarang mereka sudah memasuki era baru, gas baru yang disebut VX," katanya kepada Radio Israel.
Menteri Luar Negeri Israel David Levy, yang ditanya mengenai gas tersebut, mengatakan "Setiap orang yang bisa mengerti efeknya akan bisa pula membayangkan akibatnya."
Kepada Radio Israel, Levy mengatakan Israel akan terus dengan hal-hal penting yang sedang dikembangkan untuk tujuan yang baik.
Di samping itu, kata Levy, harus pula dimengerti bahwa sendirian akan terasa sulit untuk bisa mengawasi hal sesulit ini, karena itu harus dipikirkan tujuh kali lipat.
Baik Mordechai maupun Levy menyeru Suriah agar kembali ke pembicaraan damai yang terhenti di awal tahun 1996 ketika pemerintahan Israel berada di tangan pemerintahan Netanyahu.
Pembicaraan damai antara Israel dan Suriah berlangsung saat pemerintahan Partai Buruh pimpinan Shimon Peres.
Bulan Mei lalu, Perdana Menteri Netanyahu yang memenangkan Pemilu menegaskan Israel akan tetap menduduki Dataran Tinggi Golan yang dicaploknya dari Suriah tahun 1967. Sedangkan Damaskus menuntut Israel menarik diri dari seluruh wilayah tersebut.
"Kami sedang mencari cara untuk mempercepat perdamaian, perdamaian yang sebenarnya, tapi pada saat yang sama kami tahu ada ancaman yang cukup kuat terhadap kami di wilayah Timur Tengah. Kami tidak inginkan perang bagaimanapun," kata Mordechai.
Israel membantah berkomentar atas laporan yang berkembang di Perancis dan tempat lainnya, bertahun-tahun yang lalu, bahwa di sebuah kota di pinggiran Tel Aviv sedang dilakukan produksi senjata kimia dan senjata biologi.
Masih menurut laporan tersebut, Israel menyimpan dalam gudang senjatanya sedikitnya 200 buah bom.
Israel hanya mengatakan nuklir bukan hanya diperkenalkan sebagai senjata, tetapi untuk keperluan lainnya.
Pengenduran penutupan wilayah tersebut juga akan memungkinkan 650 pekerja pada Wilayah Otorita Palestina, termasuk sejumlah dokter, guru, pemimpin keagamaan dan pekerja di sektor pariwisata, melakukan perjalanan antara Jalur Gaza dan Tepi Barat serta memasuki Jerusalem Timur.
Kawasan itu ditutup setelah terjadi serangan bom pada 21 Maret lalu oleh seorang militan Islam yang menewaskan tiga warga Israel di Tel Aviv dan untuk mencegah adanya serangan lebih lanjut bersamaan dengan liburan Paskah Yahudi yang berakhir Senin, kata pihak militer.
Sejak perintah penutupan ditetapkan, sekitar 3.000 pekerja diijinkan memasuki zona industri Israel di sepanjang perbatasan wilayah Palestina. Sekitar 700 pedagang Palestina juga diijinkan untuk memasuki negara itu.
Pihak Palestina mengaku harus memikul kerugian sebesar 12 miliar rupiah sehari akibat penutupan tersebut. Israel sejak 1993 berkali-kali membuka dan menutup kawasannya bagi warga Palestina untuk mengenyahkan mereka yang memiliki potensi menyerang Israel.(Reuter/ria)