1009mas.JPG (20973 bytes)

BPOST/TRI

PENAMPUNGAN - Inilah penampungan para pedagang Pasar Kuripan di Jalan Veteran yang menjadi salah satu penyebab Kepala Dinas Pasar Kodya Banjarmasin di tahan oleh kejaksaan negeri dan kasusnya masih bergulir.


Presiden Habibie Didemo di Surabaya

SURABAYA - Presiden Habibie yang kemarin (9/9), berkunjung ke Surabaya dalam rangka Haornas ( hari olahraga nasional), menghadapi demonstrasi yang dilakukan oleh sekelompok pengunjuk rasa yang diidentifikasi sebagai massa Pro-Megawati.

Bentrokan fisik dengan aparat keamanan tidak terhindar ketika massa mencoba memasuki gedung Grahadi, saat Presiden Habibie dan Ny Hasri Ainun Habibie tengah mendengarkan penjelasan rencana pelaksanaan PON (Pekan Olahraga Nasional) 2000 yang akan dilangsungkan di ibukota propinsi Jawa Timur.

Akibat bentrokan itu, beberapa demonstran dan aparat keamanan luka-luka, bahkan ada yang harus dilarikan ke rumah sakit. Sejumlah mobil militer pecah kacanya. Praktis selama sekitar lima jam, jalan-jalan protokol di Surabaya macet.

Menurut keterangan yang diperoleh di lapangan, sekitar 1.000 massa Pro Mega jalan kaki dari Jl Pandegiling menuju Jl Pemuda. Ketika tiba di persimpangan Jl Tunjungan-Jl Pemuda, massa dihadang pasukan Dalmas (pengendali massa). Setelah terjadi aksi saling mendorong, barikade pasukan Dalmas berhasil dibobol massa, karena didorong mobil pick up yang membawa pengeras suara.

Massa langsung berjalan menuju sasaran tempat acara. Namun tepat di depan Hotel Simpang, sekitar 50 meter dari Grahadi, massa kembali tertahan ratusan Dalmas yang menutup jalan.

Berhubung tidak bisa bergerak, akhirnya massa hanya berkumpul dan bernyanyi di tengah jalan. Massa Pro-Mega membawa sejumlah spanduk yang satu di antaranya bertuliskan "Turunkan Habibie yang tetap mengakui PDI Soerjadi".

Ketika massa sedang mendengarkan orasi seorang rekan mereka dari atas mobil, secara tiba-tida dari arah belakang Jl Tunjungan, delapan buah truk yang mengangkut pasukan dari Kodam Brawijaya langsung menerobos kerumunan. Pasukan yang membawa pentungan itu dari atas truk langsung memukuli massa yang memadati jalan.

Tindakan keras petugas keamanan itu mengakibatkan massa berhamburan ke segala penjuru dan berusaha mengamankan diri masing- masing. Berbagai tempat sekitar lokasi seperti Hotel Simpang, Tunjungan Plaza dan Hotel Tunjungan menjadi sasaran massa untuk mencari tempat aman.

Dari peristiwa itu, tiga aparat keamanan mengalami luka di kepala, dan tiga orang lain berasal dari massa.

Diganti

Setelah massa bubar, di lokasi ditemukan puluhan batu koral serta kayu balok yang ujungnya diruncingkan. Bahkan dua sepeda motor masing-masing L 5347 AH dan L 8053 AW dan satu sedan L 6752 DM rusak berat karena ditabrak truk aparat keamanan. Salah satu sepeda motor itu milik wartawan Surya Budi Satrio. Tetapi Pangdam V Brawijaya Mayjen Djoko Subroto menyatakan akan mengganti sepeda motor milik Budi.

Aparat juga tidak pandang bulu, kamera wartawan disita dan dihancurkan. Pedagang nasi soto juga ikut dihajar termasuk dua becak hancur setelah tertabrak truk aparat keamanan yang jalan mundur.

Setelah aparat membubarkan massa Pro Mega, ternyata dari Jl Pemuda dan Jl Yos Sudarso sekitar 300 meter dari Hotel Simpang, muncul secara serentak sekitar ribuan massa yang merupakan gabungan dari seluruh mahasiswa perguruan tinggi swasta dan negeri serta sejumlah organisasi kepemudaan, dan unsur-unsur Arek Surabaya Pro Reformasi (ASPR).

Massa yang umumnya mengenakan jaket almamater kampus masing- masing terus bertambah dan berkumpul di persimpangan Balai Pemuda. Ratusan spanduk dan poster dibawa yang antara lain bertuliskan, "aku nggak butuh Habibie tapi butuh sembako murah, kembalikan kedaulatan rakyat, tegakkan kedaulatan rakyat dan beberkan kekayaan pejabat karena itu uang rakyat". Selama berada di tempat tersebut mahasiswa terus menyanyikan berbagai lagu termasuk lagu "Rakyat Bersatu Tak Bisa Dikalahkan"

Massa tertahan di depan Balai Pemuda karena dihadang ratusan pasukan Dalmas. Akibat aksi unjuk rasa mahasiswa yang hendak bertemu Presiden Habibie itu, hampir seluruh ruas jalan di Surabaya macet total. Toko, perkantoran dan pusat perbelanjaan ditutup rapat sampai aksi unjuk rasa bubar, sejak pukul 09.00-14.30 WIB.

Seusai acara, rombongan Presiden BJ Habibie langsung meninggalkan Grahadi melalui Jl Tunjungan dengan melawan arah arus lalu lintas dan menuju jalan tol Demak. Setelah rombongan meninggalkan tempat acara, mahasiswa secara perlahan berusaha menjebol barikade Dalmas dan masuk ke halaman Grahadi. Dalam selebaran yang dibagikan, mahasiswa menuntut penghapusan Dwi Fungsi ABRI. Selain meminta penurunan harga, mahasiswa juga menuntut turunnya Habibie dari kursi kepresidenan untuk digantikan dengan pemerintahan oleh "Dewan Rakyat".

Semula massa berkumpul di depan Grahadi dan mencoret baliho lukisan Presiden Habibie, Gubernur Iman Oetomo dan Menpora Agung Laksono. Beberapa dari mahasiswa masuk ke halaman gedung dan berusaha menurunkan bendera Merah Putih. Penurunan bendera itu digagalkan oleh aparat keamanan. Saat bersamaan massa berhasil memasuki halaman gedung setelah aksi saling dorong dengan petugas keamanan.

Sambil berorasi beberapa diantaranya naik di baliho besar yang terpapang di depan Grahadi, baliho tertuliskan Hari Olahraga Nasional XV dengan gambar wajah Presiden Habibie, Menpora, Agung Laksono dan Gubernur Jatim Imam Utomo pada bagian matanya ditutup cat warna merah.

Bagian atas pojok kanan baliho dengan cat warna merah para pengunjuk rasa menulis Hidup Mahasiswa/Rakyat, sementara tulisan Mega Yes setelah itu diblok cat lagi dan topi yang dikenakan gambar wajah Presiden Habibie ditulis KKN.

Selama satu jam lebih mahasiswa berkumpul dan memadati halaman serta teras Grahadi. Di tempat ini, Desta, mahasiswa Fisip Universitas Airlangga berorasi dan ditutup dengan doa bersama. Massa membubarkan diri setelah pukul 13.30 WIB dan menuju kampus masing- masing.

Sebelum meninggalkan Grahadi, Desta berpesan agar seluruh mahasiswa dan rakyat yang ikut domonstrasi tidak melakukan perusakan dan kerusuhan. "Kita menggelar reformasi damai, jadi jangan ada yang melakukan perusakan, jika ada yang merusak baik mahasiswa, rakyat atau aparat keamanan sekalipun langsung ditangkap dan segera diadili," katanya disamput tepuk tangan seluruh massa. kompas


updated: 09/10/98 03:15:54 AM