ARTIKEL LEPAS, INTISARI NO. 402/DESEMBER 1996
IBU HARTINI
"KAPOK" TINGGAL DI SITU

Selama bertahun-tahun Hartini Soekarno bagaikan ratu tanpa mahkota di Istana Bogor. Tapi mengapa ia menolak seandainya diizinkan kembali tinggal di sana?





"Waktu itu Bapak mampir ke Salatiga, ketika mau buka (meresmikan) Masjid Syuhada di Yogyakarta," kenangnya mengenai awal pertemuannya dengan Bung Karno. "Saat kasih tangan (bersalaman), kok lama. Lalu Bapak bertanya, 'Rumahnya di mana? Anaknya berapa? Suami?"

Bagi Bung Karno pun pertemuan itu meninggalkan kesan mendalam, sehingga ia mengirimkan orang suruhan dan surat untuk Hartini. Rupanya hati keduanya sudah saling bertaut. Toh memutuskan mau menjadi pendamping orang nomor 1 di Indonesia saat itu bukanlah sesuatu yang mudah bagi wanita sederhana ini. "Saya minta restu dulu pada orang tua. Kata orang tua saya, 'Dimadu itu abot (berat), biarpun oleh raja atau presiden. Pikirkan dulu, tidak gampang. Opo kowe kuat?'" kisahnya. Setelah dua tahun, akhirnya Hartini memutuskan menerima pinangan Bung Karno dengan segala konsekuensinya. "Tapi dengan syarat: Ibu Fat tetap first lady, saya istri kedua. Saya tidak mau Ibu Fat diceraikan, karena kami sama-sama wanita," sambungnya.

"Bersilat" di Ruang Raja
Akhirnya, mereka menikah pada tanggal 7 Juli 1952. Perbedaan usia di antara keduanya 23 tahun. Dua tahun setelah menikah, Hartini diboyong ke Bogor. Saat itu, menurutnya, kondisi Istana Bogor baik sekali, karena Bung Karno sering mampir ke sana, sekalian juga ke Istana Cipanas. Namun Hartini tidak tinggal di istana. "Kami tinggal di paviliun. Hanya kalau ada tamu, kami ke atas (ke istana). Setelah acara selesai, kami pun pulang. Sekali-sekali kami makan atau tidur di sana, tetapi pada umumnya istana itu kosong."

Jadi tidak heran jika banyak beredar cerita bahwa istana itu ada "penghuninya".

Menurutnya, pernah ada tamu yang mendengar suara gebyar-gebyur di kamar mandi, padahal tidak ada orang mandi. Bahkan ia pernah bersama Bung Karno, Pak Harjo (kepala rumah tangga), serta para pengawal melihat seorang tamu yang dia lupa namanya, bersilat begitu tamu itu memasuki Ruang Raja.

"Engkau ngapain?" tanya Bung Karno.

"Habis, saya mau diserang, Mas?" sahut tamu tersebut. Namun orang itu juga tidak bisa menceritakan bagaimana tampang penyerangnya, karena matanya terpejam.

Hal ini, menurut Hartini, "Mungkin karena sejak zaman para gubernur jenderal sudut-sudut tertentu istana selalu diberi sesajen. Saya sendiri tidak tahu persis di mana, tetapi para jongos yang sudah bekerja di sana sejak lamal itu tahu persis."

Hartini mengakui tidak berani tinggal sendiri di dalam istana. "Kalau paviliun yang saya tinggali itu 'kan bangunan baru. Setahu saya, bagian istana yang singit (angker) itu hanya Ruang Raja tersebut. Tetapi di Kebun Raya banyak tempat yang angker. Karena itu setiap kali akan mengadakan acara, kami selalu minta izin kepada Mbah Jepra yang dimakamkan di Kebun Raya. Saya sendiri tidak tahu slametan-nya apa, pokoknya banyak macam. Karyawan, apalagi yang tua-tua, sudah tahu semua."

Kemeja dan bahan celana untuk pacar
Dalam hal seni Bung Karno memang berselera tinggi, sehingga Hartini tidak berani mengubah-ubah tata letak dekor istana. "Paling-paling vas atau barang-barang antik, saya masih berani. Tetapi kalau lukisan, saya sama sekali tidak berani mengusiknya. Bapak sudah tahu persis setiap koleksinya. Bahkan ketika mau tidur pun ia kadang-kadang bertanya. 'Tin, saya punya lukisan ini-ini yang saya letakkan di sana-situ, sekarang di mana ya? Kok saya tidak melihatnya?' Benar saja ketika kami mengeceknya pada pukul 05.00 keesokan harinya lukisan itu ternyata masih ada."

"Lukisan kesayangan Bapak itu banyak sekali, sehingga sulit disebutkan satu per satu," ujar wanita yang kini berusia 72 tahun ini. Sementara lukisan Sarinah, yang namanya kemudian diabadikan pada toserba pertama di Jakarta, adalah hasil karya Bung Karno sendiri pada 2 November 1958.

Lukisan itu dibuat saat Bung Karno sedang berada di Bali. Ketika itu seorang wanita lewat dibonceng dengan sepeda oleh pacarnya. Entah mengapa, Bung Karno merasa tertarik untuk menjadikan wanita itu sebagai model lukisannya. Mereka pun diminta berhenti. Gadis itu diminta mengganti kebayanya dengan yang lebih bagus, yang entah dari mana dipinjam oleh Bung Karno. Rambutnya kemudian dirapikan.

Setelah selesai dilukis, Bung Karno bertanya apa yang diinginkan gadis itu sebagai imbalan. Ternyata wanita lugu itu cuma minta kemeja dan bahan celana untuk pacarnya. Permintaan ini diluluskan oleh Bung Karno yang juga menyertakan sedikit uang. Hasil goresan tangan Bung Karno itu kini masih tersimpan di Istana Bogor.

Salah seorang seniman yang sering datang ke Istana Bogor adalah mendiang Basuki Abdullah. Bahkan jika datang ke rumah Basuki, Soekarno sudah tahu kebiasaan si pelukis, yaitu menyimpan hasil-hasil karya yang terbaiknya di kolong ranjang, sehingga Bung Karno memintanya untuk mengeluarkan lukisan-lukisan tersebut. Hartini juga pernah menjadi model pelukis beken ini. "Saat itu Basuki Abdullah melihat saya keluar dengan berkebaya hijau muda. Ia langsung berkata, 'Nah, saya mau melukis Ibu dengan pakaian ini.' Lima belas menit lukisan itu jadi karena ia sedang ada niat," jelas Hartini. Lukisan itu kini masih menghiasi ruang tamu rumahnya di Jl. Proklamasi, Jakarta.

Mengomentari patung Si Denok yang terkenal itu, Hartini mengatakan, memang modelnya khusus, tetapi bukan karyawan istana. Pembuatnya Trubus. Menurutnya, dalam hal patung Bung Karno lebih banyak membeli jadi, misalnya The Hand of God yang kini menghiasi halaman belakang Istana Bogor.

Makannya muluk
Selain lukisan dan patung, Bung Karno juga senang pada wayang dan keroncong. "Sebulan sekali wayangan. Karena saya juga orang Jawa, saya mengerti wayang, tapi tidak hafal seperti Bapak. Jadi menjelang wayangan, saya belajar dulu, karena takut kalau Bapak bertanya. Kalau saya tak dapat menjawab, Bapak akan bekomentar, 'Wong Jowo, ora Jowo!'"

Selain wayang, Hartini juga harus mempelajari keroncong. "Bapak senang keroncong sejak semasa di pembuangan (Bengkulu dan Ende). Jadi beliau pintar sekali menyanyi keroncong. Mana suara saya begini, sampai anak-anak menertawakan. Meskipun demikian saya harus ikut menyanyi, kalau ndak 'kan ndak enak. Istri harus dapat menyesuaikan, sehingga kalau diajak itu enak. Saya tidak dapat main golf, karena Bapak tidak suka. Paling-paling kami bersepeda saja keliling Kebun Raya."

Untuk belajar menyanyi keroncong, Hartini sampai memanggil Fetty Fatimah dan Titik Puspa. "Saya senang menyanyi, senang mendengarkan, tapi saya toh bukan penyanyi. Jadi ketika semua tamu disuruh menyanyi, saya pun sudah kongkalikong dengan Bapak. Dia akan bertanya, 'Tin, nanti engkau mau nyanyi apa?' 'Wah, Sapulidi aja deh.' Tapi saya katakan kepada Fetty Fatimah, 'Nanti kalau saya akan menyanyi, beri saya komando, ya kapan harus mulai.' Kalau memberi komando sambil mesem 'kan tidak kentara," kata Hartini membuka rahasia.

Acara keroncongan ini tidak tentu, sesuka Bung Karno. "Kalau tidak ada film bagus, tak ada acara, malam Minggu santai, kami keroncongan atau lenso. Kalau lenso, saya bisalah," katanya. Yang menjadi grup pemain keroncong itu ya para pengawal presiden sendiri.

Hartini mengakui dirinya banyak belajar dari Bung Karno. "Dari bodoh sampai pintar. Misalnya saja makan. Jika ada state dinner, saya harus belajar. Saya juga memanggil guru bahasa Inggris. Meski pada dasarnya saya sudah bisa, saya toh harus belajar percakapan yang halus, yang tinggi. Kalau makan juga harus tertib. Sendoknya ada lima, dipakai dari luar ke dalam. Biasanya saya tengok kiri-kanan dulu, meniru orang lain yang sudah biasa. Maklumlah, meski bukan dari desa, saya 'kan rakyat biasa yang masuk istana," akunya terus terang.

Untuk para tamu negara biasanya dihidangkan makanan Eropa, paling-paling ditambah sate. "Mereka sendiri biasanya bisik-bisik kepada duta besarnya masing-masing supaya dikirimi makanan khas negera mereka sendiri ke kamar. Sama saja dengan kami. Kalau jamuan makan resmi, kami makan hanya untuk formalitas. Ambil sedikit saja, jangan pilih daging yang sulit dipotongnya, nanti mencelat. Di rumah kami baru menikmati makan. Bapak memang biasa, di rumah makannya muluk (tanpa sendok-garpu)."

Makanan kesukaan Bung Karno antara lain botok, buntil, sayur asam, rawon, pecel. "Dalam soal makanan ini saya mesti turun tangan sendiri, karena Bapak itu rewel. Kalau mau makan mangga pun, jika belum selesai makan, jangan dikupas, nanti bau angin dan tidak enak. Begitu pun dengan sambal, baru diulek jika Bapak sudah duduk. Cobeknya dialasi piring yang bagus dan diletakkan di meja." Hartini mengaku dirinya bisa masak, "Tapi terus terang masakan saya tidak sedap," katanya.

Bersambung!