POTRET, INTISARI NO. 401/DESEMBER 1996
WONDER BOY MENUJU KANDIDAT JUARA DUNIA

Sebagai pecatur prestasinya luar biasa untuk ukuran indonesia dan julukan Anak Ajaib pun melekat padanya. Mengaku sudah berhadapan dengan semua pecatur beken kecuali Garry Kasparov, targetnya hanya sampai kandidat penantang juara dunia. "Kalau saya ada di sana saya sudah meninggalkan jejak yang jauh," katanya.


Tahun 1986 Utut Adianto baru saja duduk dibangku kuliah pada jurusan hubungan internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Padjajaran, Bandung. Namun kepiawaiannya bermain catur telah mengantar anak muda kelahiran Jakarta, 16 Maret 1965 ini meraih gelar Grand Master (sebutan pecatur dengan peringkat tertinggi) di Dubai, Uni Emirat Arab.

Kala itu ia memberanikan diri menghadap ketua umum persatuan catur seluruh indonesia (Percasi), yang juga menteri luar negeri sekaligus guru besar Unpad, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja untuk berhenti kuliah dan berkonsentrasi bermain catur. Ia juga berharap pak Mochtar mau membiayai beberapa kejuaraan catur di luar negeri yang akan ia ikuti. Permintaan Utut itu ditolak. Pak Mochtar tetap menyarankannya melanjutkan kuliah. Usai kuliah tahun 1989, ia langsung bekerja di salah satu perusahaan pengembang terkemuka.

Yang terjadi kemudian peringkat Elo-nya, satu-satunya ukuran kemampuan obyektif pemain catur, perlahan turun dari 2.525 menjadi 2.470 dalam waktu setahun terhitung sejak ia bekerja.

Maka pada tahun 1991 ia mengambil keputusan berani, terjun sebagai pecatur profesional. "Awalnya sangat sulit, saya harus menabung dan menghemat," ujar olahragawan terbaik Indonesia tahun 1995 ini. Tapi ia merasa beruntung mendapat dukungan dari calon isteri dan mertua yang tidak berkeberatan punya mantu pecatur. Kendati belum jelas masa depannya dibandingkan dengan profesi lain yang lebih gemerlap.

"Keputusan itu saya ambil hanya sebulan sebelum menikah. Jadi bisa dibayangkan betapa rumitnya pergumulan hidup. Saya hanya punya satu keyakinan there is a will there is a way," kenang Utut.

Sepuluh besar kaya
Keteguhan hatinya untuk terus bermain catur didorong oleh keinginannya yang besar untuk bermain sekuat Kasparov atau sehebat Karpov. Soalnya dalam jagad percaturan hanya mereka yang masuk dalam kelompok 10 besar yang tergolong kaya. Tidak seperti tenis di mana peringkat 50 besar saja sudah kaya.

"Bagaimana bisa kesana itulah persoalannya. Kalau nggak coba seumur-umur, kita tidak tahu apakah bisa sekuat mereka," ujar Grand Master dengan peringkat Elo 2.615 ini.

Ia tidak peduli andai keinginannya kandas. "Paling 'kan jadi orang sedang-sedang saja, rada susah dikit. Di Jakarta ini yang susah sudah banyak, kenapa mesti takut," ujar ayah Mekar Melati Mewangi ini.

Tekad Utut nampaknya mulai terwujud sejalan dengan keseringannya ia melanglang buana. Kesempatan bertanding itu tak lepas dari dua bersaudara Santoso Wirya dan Eka Putra Wirya yang menanggung seluruh biaya. Pada awal Juni 1994 pertama kali ia ke AS mengikuti pertandingan New York Terbuka dan Kejuaraan Dunia Terbuka di Philadelphia. Terus melanglang ke beberapa negara Eropa, mengikuti Grand Prix PCA di London. Hasilnya, ia menjuarai Biel Open, juara II di Luzern, dan juara III Biel Master.

Tahun 1995, ia menjuarai Zona Asia Pasifik di Genting Highland, Malaysia dan menyandang predikat Super Grand Master dengan peringkat Elo 2.600. "Boleh dibilang angka 2.600 itu angka magis, masuk kedalam kelompok elit 60 pecatur top. Disitu gua nggak susah lagi, ceritera daginglah, yang enak-enak. Kalau dulu tulang melulu," ujar Utut dengan logat Jakarta yang kental.

Dengan itu ia mulai bisa merasakan buahnya. "Saya bukan orang kaya, cuma hidup cukup. Punya rumah dan keluarga. Transportasi tidak masalah, mau liburan terjamin. Mungkin saya setingkat manajer pratama," katanya menganalogikan.

Saya cuma "jenderal" kebanyakan
Harapan ke depan masih terkuak sepanjang ia masih mau belajar dan bekerja keras.

Juara dunia? "Terus terang juara dunia sudah no way buat saya. Bukan saya pesimistis. I belong to the optimistic group. Tapi untuk menjadi juara dunia perjalanan hidupnya kelihatan," katanya. Ia mencontohkan perjalanan seorang Panglima ABRI. Kalau memang sudah dipatok kesana, arahnya jelas. Mulai dari komandan Korem, meningkat menjadi Pangdam, terus Kasad, lalu Pangab. "Lha kalau saya, seandainya tentara cuma jenderal-jenderal kebanyakan. Bisa juga nggak Pangdam, ha ... ha ... ha...."

Masyarakat catur Indonesia suka menjuluki Utut sebagai Wonder Boy. Ini tentu berdasarkan catatan prestasi yang mengesankan. Mulai bisa bermain catur pada umur 6 tahun. Utut merebut posisi Juara Junior Jakarta pada tahun 1978 atau umur 13 tahun. Juara Junior Nasional tahun 1979. Juara II Dunia (dibawah usia 16 tahun) di Puerto Rico. Gelar Master Internasional didapat tahun 1985 dan Grand Master tahun 1986.

Tetapi untuk ukuran negara-negara Barat, apalagi Rusia, ia merasa hanya golongan biasa. Karenanya ia hanya mematok target penantang juara dunia. "Kalau saya masuk grup ini saya sudah meninggalkan jejak yang jauh. Ibarat naik gunung saya sudah sampai Jayawijaya lebih dikit lagi," katanya.

Untuk ke sana, perjalanan yang ditempuh masih harus melewati berbagai ujian. Sebagai juara Asia Pasifik (zonal), Utut akan diadu dengan juara zonal lain yang berjumlah 70 orang. Pertarungan itu menghasilkan 12 orang pemenang yang disebut kandidat. Dua belas orang itu bermain satu sama lain dalam 8 partai. Dari sini muncul seorang kandidat penantang melawan juara dunia yang akan bermain dalam 24 partai.

Agaknya target itu cukup realistis bagi Utut. Apalagi banyak pengamat memperkirakan masa kejayaan seorang pemain catur berkisar antara 35 - 45 tahun. Masa itu diperkirakan emosi seseorang sudah stabil dan kondisi ekonomi sudah lumayan mapan. Karena catur bagaimanapun erat kaitannya dengan kestabilan emosi.

Sayangnya, sebagai Grand Master hingga saat ini Utut tak memiliki pelatih tetap. Ia hanya berlatih menghadapi komputer catur dan menambah ilmu dengan mempelajari buku catur yang jumlahnya seabrek.

Ia mengaku jika sedang berada di tanah air jadwal latihannya suka kacau. Ada saja kesibukannya, teman-teman pada datang atau dia harus ngantor dan mengajar catur di sekolah catur Enerpac sebagai ketua dewan pelatih.

Lantaran itu dalam usaha meningkatkan kemampuannya, 4 - 17 November lalu selama 10 jam nonstop selama 10 hari manajernya mendatangkan pelatih beken asal Rusia Mark Dvoretsky. Kehadiran pelatih Rusia itu guna memacu Utut menembus peringkat 30 besar dunia. Di samping persiapan menghadapi dwitarung melawan Judit Polgar. "Mark memperhatikan permainan saya, lalu melihat titik lemahnya di mana, misalnya di permainan tengah saya kurang banyak ide atau memaksakan kemenangan," jelas Utut. Latihan itu sifatnya diskusi, dan Mark lebih sebagai konsultan memberi terapi pemecahan atas masalah yang diajukan Utut.

Dia juga akan melatih taktik, penilaian posisi, dan menciptakan langkah baru, jelas Utut, karena dunia catur juga terus berkembang, kendati tidak revolusioner. Yang berkembang subvarian. Di dalam subvarian seorang pemain menemukan langkah yang kuat. Itulah yang membuat catur tetap hidup. Dalam pengembangan langkah ini Utut dikenal sebagai jago Varian Caro-Kann. Kekampiunannya, menurut para pengamat, hanya bisa ditandingi oleh Anatoly Karpov.

Tapi para pemerhati catur juga menilai Utut kurang sabar. Ini juga diakui Utut. Contohnya, waktu melawan Grand Master Jerman Jorg Hickl pada turnamen catur kategori 12 di Universitas Gunadarma Oktober lalu. Rekor selama ini dari 3 kali main Utut 2 kali menang dan 1 kali remis. "Di situ saya pegang buah hitam. Dengan buah ini prosedur normal sebenarnya bertahan dulu, kalau ada kesempatan baru menyerang. Tapi sejak awal saya sudah menyerang, mengakibatkan rapuh, dan mudah diserang," katanya.

Ia punya keyakinan kalau mau menjadi besar, harus berani mengambil inisiatif. Kalau mau remis, ya main aman-aman saja, tongkrong-tongkrongan. Sementara bila ingin menang harus berani bikin api, mengkreasi langkah baru. Sehingga antisipasi lawan keliru ia kalah.

Karena itu banyak orang yakin catur merupakan perpaduan antara seni, ilmu, dan sedikit gambling. "Pada posisi tertentu saya sering gambling. Siapa tahu lawan tidak menghitung yang terbaik. Sering perhitungan saya salah, jadi dia menang. Tapi sering juga perhitungan saya benar. Cuma itu dilakukan pemain yang levelnya tinggi sekali," kata suami dr. Tri Hatmanti ini.

Tak bisa hanya mengandalkan bakat
Catur menurutnya memang sangat tergantung pada kelas seseorang. Melawan seorang master nasional, ia merasa yakin di pembukaan bisa unggul tipis. Keunggulan ini akan terus diperbesar di babak tengah, sehingga di babak akhir lawan bisa dimatikan. Namun jika kelasnya sama, umumnya hanya babak akhir yang menentukan.

Adakah catur punya hubungan nyata dengan tingkat kecerdasan seseorang? Utut yang ber IQ 128 ini punya pandangan, seorang pecatur umumnya mempunyai kemampuan berfikir lebih. Bakat saja tak bisa mengantar orang ke jenjang yang lebih tinggi. "Seorang pecatur yang cuma mengandalkan bakat akan mencari langkah-langkah sendiri di papan. Sementara mereka yang didukung teori akan dengan cepat mengantisipasi langkah lawan."

Pecatur yang memperoleh anugerah Parama Krida Utama dari Presiden ini berkeyakinan, mereka yang disiapkan akan tampil lebih baik dibandingkan dengan pemain yang hanya mengandalkan bakat. Ia kemudian mencontohkan Upi Damayana Tamin yang muncul sebagai juara catur wanita Asia. Kemunculannya telah disiapkan sejak Oktober 1995. "Artinya, potensi catur kita sebenarnya tidak pernah kering. Kalau cuma urusan mikir, main kartu, gaple, dan ngakalin kita sudah terbiasa."

Menyinggung perkembangan catur di Indonesia menurutnya sekarang sudah sangat bagus kalau dibandingkan dengan 10 tahun silam. Hanya saja karena prestasinya sudah mendunia, ia mengharapkan pemerintah bisa menyediakan dana yang cukup untuk membiayai 5 - 10 orang pecatur berbakat melanglang buana ke luar negeri. "Jangan seperti sekarang, mereka yang mensponsori catur kayak mensponsori balap burung saja. Yang kebetulan hobi dan punya duit," katanya. (G. Sujayanto/Mayong Suryolaksono)