"Saya menangis, terharu, tapi bersyukur membaca buku itu.
Tiba-tiba saja saya merasa banyak dosa, dan cara mendidik anak-anak saya selama ini salah." Buku yang dimaksud ialah Menjadi
Orang Tua Efektif, Petunjuk Mendidik Anak Yang Bertanggung Jawab,
karangan Thomas Gordon, ahli psikologi klinis dari AS.
Kalimat di atas datang dari Ir. Ciputra pada seminar setengah
hari Menjadi Orang Tua Efektif hasil kerja sama antara Yayasan
Pendidikan Jaya dengan Majalah Intisari akhir bulan Februari lalu.
Kalau kata-kata di atas, yang notabene tidak berhubungan dengan
perkara realestat diungkapkan oleh raja realestat Indonesia itu,
pasti ada apa-apanya.
Keluar batas
Bapak empat anak pemegang Satya Lencana Pembangunan bidang
koperasi ini pun mengungkapkan pengalamannya bagaimana dirinya bisa sampai pada kesimpulan seperti itu. Sebagai orang tua yang
sukses dan amat mencintai keluarganya, ia punya cita-cita anak-anaknya juga sukses dan mengikuti jejaknya sebagai pengusaha. Pak
Ci, panggilan akrabnya, pun mendidik keras dan sering keluar
batas. Barangkali karena ia berasal dari keluarga Sulawesi yang
dikenal berkarakter keras.
"Tiap hari yang saya lakukan terhadap anak-anak tak jauh dari
nada memerintah, mengancam, memberi khotbah, mempersalahkan,
memberi julukan, menganalisis, mendesak, mengalihkan perhatian,"
kata Ci. Namun, katanya mereka tidak mendengar nasihat itu malahan
memusuhinya. Saat Ci pulang kantor, anak-anaknya tak ada yang
berani setor muka. Mereka lebih suka "bersembunyi" di balik pintu
kamarnya. "Gimana mau menemui, kalau setiap kali pulang saya
selalu tanya sudah belajar belum ... , sudah olahraga belum ... ,"
ujar Ci yang di masa kecil pernah diasuh oleh tante-tantenya yang
"bengis".
|
|
Foto: Dok. Intisari
|
|---|
Sikap otoriter Pak Ci ujung-ujungnya malah memicu perlawanan
diam-diam anak-anaknya. Mereka di luaran berani ngomong, kalau
sudah selesai sekolah, mereka tak mau bekerja bersama dengan
ayahnya, bahkan sampai enggan pulang ke Indonesia dan berkumpul
dengan ayahnya. Komunikasi keluarga pun jadi macet, anak-anak
menjadi sangat tertutup dan tidak mau mengungkapkan masalah karena
takut kena marah.
Gelagat perlawanan putra-putrinya ini ditangkap oleh Ciputra.
Tapi sebagai orang tua yang mendidik anaknya secara alami, ia tak
bisa berbuat banyak dan tetap meneruskan cara pendidikan yang "kuno" itu. Kerisauan ini akhirnya memaksa Ci untuk mendatangi
seorang pakar psikologi. Pakar ini memberikan beberapa nasihat.
Beberapa buku tentang psikologi anak dari dalam serta luar negeri
juga dilahap namun kesulitan komunikasi bukannya reda. Sampai
suatu saat pemegang 15 yayasan pendidikan dengan jumlah murid dan
mahasiswa hampir 30.000 ini kemudian meminta pertimbangan pada
salah seorang psikolog di perusahaannya. Ia kemudian diberi
sembilan buku, salah satunya Menjadi Orang Tua Efektif, Petunjuk
Terbaru Mendidik Anak yang Bertanggung Jawab karangan Thomas
Gordon itu.
Titik balik terjadi di sini. "Saya tergugah setelah
membacanya. Betapa beda apa yang telah saya lakukan dengan apa
yang dianjurkan di dalam buku itu," ungkap Ci.
Buku ajaib
Sadar akan kekeliruannya Ci mulai mendekati dan berkomunikasi
dengan anak-anaknya dengan lebih arif. Di sela-sela kesibukannya
yang luar biasa sebagai chief executive officer (CEO) grup
Pembangunan Jaya, Ci bersama dengan Dian Sumeler, istrinya, rajin
mengunjungi putra-putrinya yang bersekolah di luar negeri. Sedikit
demi sedikit kebekuan mulai mencair. Akhirnya, mereka mencoba
pulang. Bahkan akhirnya membentuk perusahaan bersama Ciputra.
"Kini di kantor saya bersama dengan empat orang anak dan dua
menantu saya. Jadilah kami tujuh orang di satu ruangan, dan tiga
dari empat keluarga itu masih tinggal bersama saya di satu rumah,"
ungkap Ci.
|
|
Foto: G. Sujayanto
|
|---|
Kini di rumahnya yang asri di kawasan elite Pondok Indah,
Jakarta, mereka tinggal sebagai keluarga besar yang rukun dan
damai. Lantaran masing-masing punya kesibukan, tak ada jam makan
khusus, siapa lapar bisa makan lebih dulu tanpa harus menunggu
anggota keluarga yang lain. "Kita dekat tapi ada udara," ujar Ci
puitis menggambarkan suasana rumahnya.
Tergugah oleh buku sakti itu, pengusaha properti terkemuka
ini kontan mengirimkan satu orang ke AS mempelajari program khusus
menjadi orang tua efektif yang dibikin Thomas Gordon. Sekembalinya
dari negeri Paman Sam disusunlah sebuah program pendidikan Menjadi
Orang Tua Efektif (Motif) di Indonesia. Program yang
diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Jaya ini tahun 1993
memperoleh lisensi dari Gordon Training International, AS untuk
menyebarkan Parent Effectiveness Training (PET) di Indonesia.
Sejak dibuka pesertanya sudah mencapai kira-kira 6.000 orang.
Ciputra adalah salah seorang peserta pertamanya.
"Dengan pendidikan tersebut singkat kata saya menganggap
anak-anak saya sebagai saudara. Di tempat kerja mereka mitra saya.
Kalau saya bermain golf, mereka itu teman saya. Tidak lagi
menganggap orang tua yang selalu benar dan tidak bisa dibantah,"
ujar Ci kelahiran Parigi, Sulawesi Tengah.
Pendekatan kekuasaan yang sebelumnya dilakukan langsung ia
tinggalkan. Dulu kalau bermain olahraga, Ci merasa harus menang,
supaya kelihatan hebat di mata anak-anaknya. Tetapi sekarang ia
selalu mengalah, kendati cucu-cucunya tahu kalau itu cuma bohong-bohongan belaka.
Dalam bahasa Gordon, seperti dikutip Ciputra, orang tua harus
lebih bersikap sebagai seorang konsultan terhadap anaknya. Dengan
begitu orang tua tidak berdiri sebagai penguasa yang memberi
petunjuk, namun berani mendiskusikan setiap persoalan yang muncul
dalam hubungan kekeluargaan. Kalau ini semua dibarengi keramahan
dan keteladanan pada anak, niscaya akan tercipta hubungan harmonis
di antara seluruh keluarga.
Toh sikap itu tidak otomatis muncul. Menurut pengembang
kawasan Ancol, Pondok Indah, dan Bintaro ini, cita-cita keluarga
bahagia tetap tinggal di awang-awang kalau seseorang tidak
mempunyai keinginan yang menggebu-gebu. "Kalau Anda tidak punya
keinginan itu percuma saja. Sebab itu menjadi dasar motivasi.
Dengan kemauan tersebut saya mau ke mana saja, mau mencium kaki
anak saya akan saya lakukan. Asalkan mereka dan saya bahagia,"
katanya.
Alumnus jurusan Arsitektur ITB tahun 1960 ini punya prinsip,
keluarga adalah benteng utama. Tidak mungkin seseorang akan sukses
kalau ia tidak sukses dalam keluarga. Itulah sebabnya Presiden
Direktur PT Ciputra Development (CD) dan Presiden Komisaris PT
Jaya Realty (JR) dan yang baru saja dinobatkan sebagai CEO publik
terbaik tahun 1997 versi Majalah Swa Sembada dan Konsultan
Pemasaran Mark Plus ini, amat peduli dengan anak-anaknya dan
mendorong seluas-luasnya agar mereka sukses.
Membagi saham
Caranya? Berdiskusi tentang nilai-nilai. Bercerita tentang
sejarah dan perjuangan di masa lalu. "Tapi jangan mengatakan anak
harus demikian. Yang penting anak harus punya cita-cita dan
mempunyai prestasi. Mau jadi petani atau pelukis silakan,"
tuturnya.
Ia juga getol mendampingi anak-anaknya ke proyek-proyek yang
sedang ia bangun karena yakin dengan demikian akan menggugah anak-anaknya meneruskan cita-cita yang telah dicanangkannya.
Untuk itu Ci juga tahu diri. Ia tak mau egois dengan memegang
seluruh kepemilikan saham atas semua perusahaannya. Pada usia yang
65 tahun, ia memberikan pada anak-anaknya masing-masing 15% saham.
Limpahan saham ini juga dimaksudkan agar anak-anaknya merasa
memiliki dan merasa mempunyai tanggung jawab untuk memajukan
perusahaan. Kini setelah tugas pelimpahan itu usai, ia tampak
lebih berhati-hati. "Saya tak berani mengambil keputusan
menyangkut perusahaannya, tanpa mereka menyetujui," ujar Ci.
Agaknya pelepasan kepemilikan grup Jaya yang telah
melambungkan namanya tak membuatnya terkena sindroma kehilangan
kekuasaan. Ia mengaku sudah mempersiapkan mental, fisik, dan
material sejak puluhan tahun sebelumnya. "Waktu umur 50 tahun saya
sudah berketetapan hati meninggalkan Jaya 5 tahun lagi. Ternyata
saya masih sehat. Enam puluh tahun, masih bisa dan pada umur 65
tahun apa pun yang terjadi saya harus melakukannya," ujar bos
ribuan karyawan dan memulai usaha hanya dengan 5 karyawan ini.
Menyangkut ide pengembangan perusahaan ia lebih suka gagasan
itu datang dari anak-anaknya. Kalaupun kebetulan ide itu berasal darinya, ia tetap akan menggiring mereka agar seolah-olah ide itu
dari mereka. "Soalnya, kalau ide itu datang dari orang lain,
biasanya malas mengerjakan. Tetapi kalau dari diri mereka sendiri,
mereka akan mati-matian mewujudkannya," kata Ci yang masih rajin
main golf dan senam waitankung ini.
Tentang olahraga golf, menurutnya tak cuma membuat pikiran
rileks, namun juga menguatkan mental dan menyehatkan badan.
Kesehatan juga akan tercipta bila terdapat keseimbangan antara
jiwa, tubuh, dan pikiran. Menurutnya, makin tinggi mutu tiap
unsur, maka orang akan makin sehat.
Ia mengaku sekarang 75% pikirannya tercurah ke anak. Anak
baginya adalah segala-galanya. Seperti kutipan puisi favoritnya
dari penyair Libanon ternama Kahlil Gibran yang berbicara tentang
anak.
Anakmu bukanlah anakmu
Mereka adalah putera kerinduan diri Sang Hidup
Melaluimu mereka tiba, namun bukan darimu asalnya
Meskipun mereka bersamamu, tapi mereka bukan milikmu
Berikan kasih sayangmu, tetapi jangan paksakan pikiranmu
Sebab mereka berbekal alam pikiran sendiri
Berikan rumah untuk raganya, tetapi bukan untuk jiwanya
Sebab jiwa mereka adalah penghuni masa depan
Yang tiada dapat kau gapai sekalipun dalam impian
(Yan/Nn)