MENGUBAH PERSEPSI
Sunarya, sebut saja pelajar SMU itu begitu, dikeluhkan orang
tuanya kurang akrab dengan buku pelajarannya. Ia sering keluyuran
bersama teman-temannya pada jam-jam sekolah tanpa tujuan jelas.
Yenny yang sudah mahasiswi juga begitu. Kalau diajak melakukan
diskusi ilmiah, jawabannya sering kali "Ogah ah!". Bahkan, Jono
yang masih menganggur pun enggan bangun pagi untuk segera mencari
informasi lapangan kerja atau berusaha membuka lapangan kerja
sendiri.
MEMERANGI MALAS
Hampir setiap orang pernah dihinggapi "penyakit"
malas terhadap pekerjaan atau tugas tertentu.
Perilaku ini tumbuh lantaran salah persepsi
terhadap pekerjaan tersebut. Pengaruhnya sangat
besar pada produktivitas. Lantas, apa yang harus
dilakukan untuk mengatasinya?
Ilustrasi: Anton
Tampak ketiganya seakan-akan tak memiliki gairah untuk
beraktivitas. Orang menyebut "gejala" macam ini sebagai malas,
yang dalam psikologi dimasukkan sebagai salah satu bentuk
perilaku.
Kalau kita simak Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud
malas adalah tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu, segan,
tidak suka, tidak bernafsu. Dari kacamata psikologi, menurut Dr.
Sukiat, menunda pekerjaan atau menyelesaikan tugas tapi tidak
sesuai waktu yang sudah ditetapkan saja sudah bisa disebut
perilaku malas. Muara perilaku ini sudah tentu penurunan
produktivitas yang bersangkutan.
Pada era globalisasi, perilaku malas bisa merugikan yang
bersangkutan. Sebab, pada era itu berlaku sistem nilai "siapa yang
mampu dan mau bisa produktif dan menyesuaikan diri". Bayangkan
saja, prestasi atau produktivitas macam apa yang bakal dicapai
Sunarya, Yenny, atau Jono bila terus berperilaku semacam itu.
Tapi, perilaku ini bukanlah kartu mati yang tidak bisa diubah.
Persepsi dan niat ingsun
Menurut Dr. Sukiat, seseorang bisa berperilaku malas
terhadap suatu pekerjaan atau kegiatan karena dia tidak memiliki
motivasi untuk melakukan pekerjaan atau kegiatan itu. Dalam
psikologi, seseorang berperilaku tertentu karena adanya energi
yang mendorongnya untuk berperilaku. Energi inilah yang disebut
motivasi, yakni hal yang mendorong seseorang bertingkah laku
mencapai suatu tujuan. "Orang Jawa sering menyebutnya sebagai niat
ingsun," jelas Sukiat.
Motivasi dipengaruhi oleh suatu sikap yang terdapat dalam
diri orang itu. Sikap yang bisa positif atau negatif itu timbul
lantaran adanya persepsi atau pemberian makna terhadap suatu objek
atau peristiwa. Persepsi atau pemberian makna tersebut ditentukan
oleh suatu sistem nilai, yakni suatu patokan untuk berperilaku
yang berlaku pada suatu lingkungan tertentu. Sistem nilai yang
tertanam dalam diri seseorang ini dipengaruhi oleh budaya,
masyarakat, dan orang tua.
Dalam hal ini, malas belajar, berdiskusi, atau mencari
pekerjaan yang ditunjukkan Sunarya, Yenny, atau Jono, terjadi
lantaran mereka tidak memiliki motivasi untuk melakukan tugas di
depan mereka. Ini akibat sikap mereka terhadap kegiatan itu
negatif atau positif-negatif. Sikap tersebut muncul karena di
benaknya tertanam persepsi yang salah terhadap tugas-tugas tadi.
Umpamanya, belajar atau berdiskusi itu melelahkan atau tak ada
gunanya, dan mencari kerja buang-buang tenaga saja bila tidak
punya koneksi. Persepsi macam itu bisa terjadi kalau dalam
keluarga atau lingkungan di sekitar mereka kurang tertanam budaya
belajar, berdiskusi, atau hampir semua rekan mereka memperoleh
pekerjaan berkat bantuan orang lain atau uang sogok.
Sukiat memberi contoh lain. Salah satu etnis di Indonesia
terkenal rajin dan serius dalam bekerja. Perilaku ini muncul
lantaran mereka memiliki suatu sistem nilai bahwa kalau ingin
hidup layak, mereka harus bekerja keras. Sistem nilai itu telah
ditanamkan oleh orang tua sejak kecil dalam perilaku sehari-hari,
baik dalam memarahi, memberi nasihat, atau memberi suatu contoh.
Lingkungan budaya etnis ini juga memberikan teladan. Mereka yang
hidup layak ya karena mereka bekerja keras. Sebaliknya, yang
berkekurangan lantaran tidak mau bekerja keras.
Dengan sistem nilai itu, mereka mempunyai persepsi atau
memberi makna bahwa pintar menjahit, membuat tahu, atau berdagang,
bakal bisa menghidupi mereka. Bukan menyengsarakan. Jadi mereka
akan serius dalam melakukan tugas itu. "Mereka percaya, apa saja
bisa menjadi duit, asal dikerjakan dengan sungguh-sungguh."
Dengan begitu, sikap mereka dalam bekerja sangat positif.
"Kalau mengerjakan sesuatu, niat mereka sangat kuat, energinya
kuat. Akhirnya, mereka berperilaku rajin bekerja."
Contoh lainnya, karyawan suatu kantor yang "menganut" nilai
RMS (rajin malas sama saja) bakal menjadi malas melakukan
tugasnya. Ketika pindah ke kantor yang nilai profesionalismenya
dijunjung tinggi, perilakunya pasti berubah. "Karena di kantor
seperti itu sistem nilainya: 'Kamu bekerja baik, imbalannya baik.
Kamu tidak bekerja, prestasi rendah, imbalannya juga rendah, kalau
perlu di-PHK'. Jadi persepsinya, pekerjaan adalah sesuatu yang
bisa meningkatkan penghasilan saya dan bisa menghidupi saya.
Karena pemberian maknanya seperti itu, maka sikapnya terhadap
suatu pekerjaan jadi positif. Akhirnya, motivasi jadi kuat,
kerjanya rajin. Tetapi kalau sikapnya positif, sedangkan
lingkungannya tidak mendukung, ada diskriminasi misalnya, sikapnya
bisa menjadi negatif, motivasinya berkurang, sehingga dia bisa
menjadi malas, bahkan keluar," jelas psikolog yang penah mengasuh
rubrik pasutri di sebuah majalah ibu kota ini.
Bisa diubah
Kalau seseorang malas terhadap suatu pekerjaan, artinya
motivasi dia terhadap pekerjaan tersebut sangat rendah. Sikapnya
terhadap pekerjaan itu negatif akibat persepsi yang diberikannya
terhadap pekerjaan itu kurang baik. Ini lantaran sistem nilai yang
ada dalam dirinya membuat dia berperilaku malas untuk melakukan
pekerjaan itu. Sementara terhadap pekerjaan lainnya mungkin tidak
begitu.
Jadi, perilaku malas, menurut Sukiat, merupakan hasil suatu
bentukan. Artinya, perilaku itu bisa dibentuk kembali menjadi baik
atau tidak malas.
Salah satu bukti bahwa perilaku bisa dibentuk lagi bisa
ditemukan pada pelaku tindak kriminal seperti pembunuh atau
perampok. Ada mantan narapidana kini menjadi tokoh agama atau
pengusaha yang baik. Padahal, dulunya mereka perampok, pembunuh,
atau pelaku tindak kriminal lain. Atau sebaliknya, orang baik-baik
berubah jadi berperilaku buruk.
Pembentukan kembali perilaku seseorang tadi sebetulnya sangat
besar dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya, bisa orang tua,
teman, atau orang lain di sekitarnya. Lingkungan yang bisa memberi
pengaruh lebih kuatlah yang bisa membentuk seseorang. Umpamanya,
seorang remaja lebih banyak waktunya bertemu atau lebih dekat
dengan teman-temannya ketimbang orang tuanya. Teman-temannya
termasuk kelompok remaja yang malas. Maka, dia lebih mudah
terbentuk menjadi anak malas ke sekolah meskipun sebelumnya dia
termasuk murid yang tak pernah bolos.
Biasanya, kalau itu terjadi, orang tua lalu menyalahkan si
anak karena tidak mau mencontoh orang tua. "Padahal, si orang tua
sendiri lupa untuk menanamkan persepsi bahwa belajar itu penting
atau mempunyai arti bagi hidup si anak. Biar disuruh belajar,
belajar, anak bisa saja menolak karena tidak tahu tujuan belajar
itu untuk apa?" tambah Sukiat.
Bagi orang tua yang mengalami masalah seperti itu tak perlu
risau. Seseorang yang telanjur berperilaku malas bisa dibentuk
kembali menjadi tidak malas. Namun, itu tergantung anak atau
orangnya. "Kalau anaknya masih SD, ya masih mudah dibentuk. Tapi
kalau anak remaja, umumnya apa yang dikatakan orang tua, masuk
telinga kanan keluar telinga kiri. Jadi, yang harus kita bentuk
adalah lingkungan teman. Peer group-nya kita rangkul dan pemberian
makna terhadap suatu pekerjaan atau sekolah harus kita ubah. Yang
tadinya 'belajar itu suatu kewajiban sekolah' diubah menjadi
'dengan belajar di sekolah dia bisa hidup'," jelas dosen Fak.
Psikologi UI ini.
"Jadi dalam mengubah perilaku seseorang, yang paling mendasar
adalah mengubah persepsinya. Untuk itu, perlu mempelajari dan
mengambil sistem nilainya yang bisa mengubah persepsinya atau
memberikan sistem nilai lain yang baru baginya," tambahnya.
Jadi, perilaku manusia pada dasarnya dapat diubah. "Namun,
ada hal yang tidak dapat diubah, yakni perilaku-perilaku yang erat
kaitannya dengan fisik," jelas Sukiat. Misalnya, seseorang yang
berkaki panjang sebelah. Kalau dia disuruh berperilaku jalan
normal, dia tidak bakal bisa melakukannya. Seseorang yang memiliki
penyakit tekanan darah tinggi, dia akan mudah marah atau waswas.
Ini juga tidak dapat diubah. Seseorang yang kecerdasannya rendah
karena sel-sel otaknya tidak berkembang dengan baik ketika masih
kecil, sulit melakukan pekerjaan yang mengandung pemecahan
masalah. Jangan beri dia tugas seperti itu.
Anak yang tingkat kecerdasannya rendah, relatif sulit untuk
di-charge (dimotivasi) menjadi rajin. Kalau dia tidak mampu dalam
hal pelajaran matematika, sudah tentu energi untuk belajar
matematikanya juga kurang. Ujung-ujungnya, perilaku yang
ditampilkan adalah malas belajar matematika atau bahkan malas
sekolah.
Ada juga anak yang mampu, tapi orang tuanya membandingkan
kepintarannya dengan kakak atau adiknya. Lama-lama akan terbentuk
konsep diri yang negatif. Akhirnya, dia memberikan makna pada
matematika sebagai sesuatu yang sulit. "Padahal sebenarnya dia
mampu. Tapi karena lingkungannya menganggap dia tidak mampu,
sikapnya terhadap matematika menjadi negatif, energinya kurang
dalam mengerjakan matematika, sehingga dia jadi malas-malasan
terhadap pelajaran itu."
Teori pembiasaan
Ada beberapa teori yang bisa digunakan untuk melakukan
pembentukan perilaku seseorang, di antaranya dua teori pembiasaan
yang dikemukakan oleh Dollard & Miller dan Bandura, ketiganya
psikolog dari AS. Teori ini kira-kira senada dengan pepatah "Ala
bisa karena biasa".
"Yang paling cocok untuk saya, teori belajar. Bagaimana kita
memberikan stimulus (rangsangan) supaya terbentuk suatu respons
atau perilaku. Bagaimana stimulus itu menjadi cue (stimulus dalam dirinya yang mengarahkan untuk berbuat), sehingga menimbulkan
suatu drive (dorongan) untuk berperilaku. Kalau berhasil, dia akan
mendapatkan reward (imbalan)." Ini teori Dollard & Miller.
Teori lain yang dikemukakan Bandura sering disebut teori
panutan. Dalam teori ini ada stimulus dalam bentuk oral atau
visual yang diberikan oleh seorang model atau tokoh. Stimulus ini
disimpan atau diingat, dan suatu saat akan dilakukan sebagai suatu
perilaku. Dari tindakannya dia akan mendapatkan suatu reward. "Ini
lama-lama menetap," kata Sukiat.
Contohnya, dalam suatu keluarga orang tua giat bekerja dan
selalu menasihati anak untuk mencapai prestasi. Anak, yang melihat
orang tuanya bekerja keras (visual) dan sering memberikan nasihat
atau cerita (oral) soal perlunya bekerja keras, akan timbul
persepsi bahwa sesuatu itu dapat diperoleh dengan kerja keras.
Dari sana bakal terbentuk tingkah laku kerja keras dalam diri
anak. Bisa jadi pemberian makna atau persepsi soal pentingnya
belajar, mengikuti diskusi ilmiah, atau berusaha mencari
pekerjaan, tidak ditemukan dalam diri Sunarya, Yenny, ataupun
Jono. (Gde/Masitoh EO)
Converted by WPAHTML