Bulan ini saat-saat menunaikan ibadah haji. Beberapa waktu
sebelumnya, melalui siaran televisi, pemerintah menganjurkan agar
setiap calon jemaah haji memperoleh vaksinasi untuk mencegah
terjangkitnya penyakit meningitis atau radang selaput otak.
Penyakit yang menyerang selaput otak ini memang bisa
berakibat fatal atau meninggalkan kecacatan (menyerupai cacat
mental), meskipun pada umumnya si penderita bisa disembuhkan
secara total.
Selain meningitis, ada lagi penyakit sejenis yang lebih
membahayakan yakni meningoensefalitis, berupa radang pada otak
dengan penyebab bermacam kuman yang semula menyerang bagian
meninges (selaput otak) kemudian ke substansi otak.
Penyakit radang otak meningitis bisa disebabkan oleh kuman
nonspesifik seperti strastokok, pneumokok, hemofilus influenza,
neisseria meningokok, atau kuman spesifik seperti tuberkulosis
(TBC), virus, jamur, dan protozoa. Jenis meningitis yang dilaporkan menyerang para jemaah haji,
dan dianggap sebagai "kasus impor" karena tidak ditemukan di
Indonesia (pada pemeriksaan klinis maupun laboratoris), adalah
meningitis meningokok (meningococcal meningitis).
Selama ini di Indonesia baru dilaporkan satu kasus biakan
positif pada anak (1976). Namun biakan pada cairan likuor pada
penderita dewasa sampai saat ini tidak pernah ditemukan kuman.
Kemungkinan itu karena sebagian sudah terobati atau terlambat
datang ke rumah sakit.
Meningitis meningokok menular melalui kontak langsung dengan
bakteri lewat sekret hidung atau tenggorokan penderita melalui
droplet infection atau percikan ludah. Umumnya penularan lebih
sering terjadi melalui karier (pembawa) daripada langsung dari si
penderita. Menurut laporan siaran televisi, kebanyakan karier
diduga di antara para jemaah haji asal Afrika.
Dari Afrika
Selaput otak atau meninges terdiri atas 3 selaput jaringan
ikat yang membungkus dan melindungi otak serta sumsum tulang
belakang yang lunak. Ketiga selaput yang dinamai pia mater,
arakhnoid, dan dura mater, itu berupa selaput terpisah tapi
berkesinambungan dari dalam ke luar. Lapisan-lapisan tersebut
menutup otak, berupa pembuluh darah yang memberi makan jaringan
saraf. Selaput itu juga mencegah masuknya bahan-bahan yang
merugikan otak. Apa pun penyebabnya, gejala peradangan otak umumnya mirip:
panas tinggi, sakit kepala, mual dan muntah, disusul kaku pada
tengkuk, kejang dan acap kali terjadi penurunan kesadaran. Namun
pada meningitis meningokok disertai bercak-bercak perdarahan
berwarna kemerahan pada kulit (rash). Bila perdarahannya banyak
(echymosis), bisa membahayakan jiwa penderita (biasanya 50%
meninggal).
Sejak tahun 1993 berdasarkan laporan usap tenggorok para
jemaah haji, memang ditemukan karier kontak primer atau sekunder
dan terjadi peningkatan karier pada tahun-tahun berikutnya.
Sebenarnya kasus meningitis yang menimpa para jemaah haji
sudah mulai dilaporkan sejak 1987 sehingga pada 1988 mulai
dilakukan vaksinasi pada para jemaah haji.
Kasus yang dilaporkan sebagai berikut:
Tahun Kasus Meninggal
1987 92 40
Kementerian Kesehatan Kerajaan Arab Saudi pun mengharuskan
semua orang yang mengunjungi negeri itu untuk menunaikan ibadah
haji agar sebelumnya mendapatkan vaksinasi (yang bertahan 2 - 3
tahun). Setiap orang yang kembali dari Arab Saudi yang dianggap
daerah endemis itu, dianjurkan makan obat Ciprofloxasin 750 mg
(dosis tunggal). Dulu para jemaah haji asal Indonesia hanya dianjurkan makan
obat Sulfa atau Rifampicin yang ternyata kurang efektif. Lebih
tepat apabila mereka diberi vaksinasi (immunoprofilaksis) pencegah
meningitis ditambah obat khemoprofilaksi.
Selain mendapatkan vaksinasi dan obat, para jemaah haji
selama mengadakan perjalanan hendaknya selalu memelihara
kebersihan diri dan lingkungan. Untuk membatasi penularan dari
para karier bisa digunakan masker untuk menghindari percikan ludah
dari jemaah lain dan sedapat mungkin menghindari kepadatan
manusia.
Pencegahan meningitis dengan vaksinasi juga dilakukan pada
anak khusus untuk mencegah meningitis influenza yang merupakan
jenis terbanyak yang menyerang anak.
Pada tahun 1976 - 1977 di RS Cipto Mangunkusumo pada sub-bagian anak dilaporkan terdapat 208 penderita meningitis, 80%
menyerang anak berusia kurang dari 1 tahun. Biakan likuor yang
diperoleh hanya 74 kasus, 1 kasus di antaranya menderita jenis
neisseria meningitidis (0,6%) dari seluruh biakan. Penyakit ini
menyebar secara kontak langsung melalui aliran darah. Sebagai
fokus infeksinya adalah infeksi telinga, paru-paru, dan gigi.
Penyakit meningitis sebenarnya dapat menyerang siapa saja,
namun dalam kenyataan kasus terbanyak pada bayi dan anak-anak.
(dr. H. Jusuf Misbach/Nn)
1988 2 1
1989 - -
1990 - -
1991 - -
1992 2 -
1993 5 3
1994 4 1