DEPOL,
SUDAH GEDE MASIH NGOMPOL
Anak yang sulit menahan kencing sewaktu tidur malam (enuresis
nokturnal), menurut Sigmund Freud, ahli psikoanalisis, berhubungan
erat dengan faktor gangguan psikologis si anak. Namun ahli lain
menyatakan, faktor lain seperti keturunan atau adanya kelainan
pada kandung kencing penderita bisa juga menjadi penyebab.
Pada umumnya anak pengompol atau enuretik selama satu periode
tertentu sulit menghentikan kebiasaan ini. Namun pertolongan untuk
menghilangkan kebiasaan buruk ini dapat dicoba dengan memberikan motivasi, komitmen, dan antusiasme. Sebaliknya, memarahi atau
menghukum anak ngompol justru tidak akan menyelesaikan masalah.
Malah sering kali membuat anak menjadi tegang atau merasa serba
salah sehingga menambah beban psikologisnya.
Paket pertolongan
Belum diketahui dengan pasti apa penyebab ngompol yang
sebenarnya. Namun faktor jenis kelamin (dalam hal ini anak laki-laki tukang ngompol lebih banyak jumlahnya daripada anak
perempuan), riwayat keluarga, ketidakdewasaan dalam perkembangan
mentalnya, tipe kepribadian serta pengalaman psikologis traumatik
bisa merupakan penyebabnya. Sementara dari segi kedokteran
dikatakan, faktor kelainan pada kandung kemih atau kencing
penderita bisa pula menjadi biang keladinya.
Banyak orang tua melaporkan, anak enuretik pada umumnya juga
anak yang penidur berat. Tapi dugaan ini pun dibantah para ahli.
Kata mereka berdasarkan penelitian belum ada bukti adanya hubungan
antara kedalaman tidur dan mengompol di waktu malam. Kebiasaan
mengompol sampai usia 5 tahun, menurut para ahli, tidak perlu
dikhawatirkan. Tetapi kalau hal itu terjadi di atas usia tersebut,
perlu diteliti penyebabnya.
Riwayat keluarga merupakan salah satu faktor yang cukup
berpengaruh. Bila salah satu atau kedua orang tuanya sewaktu kecil
mempunyai kebiasaan tersebut, kemungkinan besar akan menurun pada
anak-anaknya. Sebaliknya, bila kedua orang tuanya bukan pengompol, kecil kemungkinan keturunannya mempunyai kebiasaan ini di atas
usia 5 tahun.
Statistik menunjukkan, 25% anak pengompol pada usia 5 tahun
akan menurun menjadi 5% pada usia sampai 10 tahun, dan tinggal 2%
pada usia 10 - 15 tahun.
Paket pertolongan untuk para enuretik bisa berupa latihan
menahan kencing, melakukan catatan, penetapan target, pembayangan
diri serta sugesti diri positif. Untuk memahami program
pertolongan ini, paling tidak si anak sudah berusia 6 tahun.
Luka psikologis
Latihan menahan kencing berguna untuk membantu kandung kemih
menampung urine lebih banyak, memperkuat otot sfingter (otot yang
membuka-tutup aliran kencing), serta menyadarkan anak akan sinyal
kandung kemihnya. Latihan ini dilakukan dengan cara meningkatkan
masukan cairan: minum 1 gelas lebih banyak dari biasanya untuk
setiap kali minum; menahan kencing lebih lama: setiap hari 2 menit
lebih lama sampai maksimal 30 menit; beberapa kali menghentikan
aliran kencing: untuk menguatkan otot sfingter; mengukur kapasitas
isi kandung kemih: target 30 ml per tahun usia. Misalnya, anak
usia 6 tahun = 6 x 30 ml = 180 ml tiap kali kencing.
Anak diminta membuat catatan dengan menandai kalender dengan
sticker menarik setiap kali ia berhasil tidak mengompol pada malam
hari supaya si anak mempunyai motivasi pada hasil yang positif.
Selanjutnya gunakan pembayangan positif dan sugesti diri
positif. Misalnya, mengajarkan kepada si anak setiap kali naik ke
tempat tidur untuk menenangkan pikiran, menutup mata dan
membayangkan sejelas mungkin tentang perasaan ingin kencing, yang
kemudian disusul dengan bangun, turun dari tempat tidur, lalu
masuk ke kamar mandi untuk mengeluarkan kencingnya.
Setelah melakukan keempat tahap tersebut, anak diminta untuk
meyakinkan kepada dirinya dengan mengulang-ulang ucapan: "Malam
ini saya tidak akan mengompol" sampai 10 kali. Supaya berhasil
tentunya orang tua harus rajin mengajarkan, membantu, serta
mendampingi latihan psikologis sederhana ini.
Bila kasus mengompol merupakan akibat dari stres atau trauma
emosional, misalnya ketika anak akan menjalani ulangan umum atau
ujian, terapi sebaiknya lebih diarahkan untuk menyembuhkan luka
psikologisnya daripada mengobati enuresisnya.
Obat yang dapat membantu program pertolongan enuresis
nokturnal ini adalah imipramin sebanyak 25 mg yang diberikan 1 jam
sebelum waktu tidur pada anak usia 6 - 8 tahun dan 50 mg pada anak
yang lebih besar. Pemberian obat ini dilakukan sekurang-kurangnya
2 sampai 3 minggu. Bila hasilnya cukup memuaskan, pengobatan dapat
dipertahankan selama 4 - 5 bulan. Penghentian obat dilakukan
secara bertahap. Tidak boleh secara mendadak. Jadi, sebaiknya
dikonsultasikan ke dokter.
Karena penyebab mengompol cukup bervariasi dan individual,
paket pertolongannya pun terdiri atas kombinasi sejumlah faktor.
Faktor-faktor tersebut harus diperkuat dengan penciptaan antusiasme, komitmen pada program, serta secara aktif melibatkan
si anak dan seluruh anggota keluarganya. (dr. SK Budijanto)
Sita sudah berusia 10 tahun tapi hampir setiap malam seprai
dan kasurnya selalu basah. Ia sendiri sebenarnya malu, apalagi
adiknya yang usianya berselisih 4 tahun, tidak pernah ngompol
lagi. Teman-temannya sampai mengolok-oloknya, "Depol, depol. Sudah
gede masih ngompol!" Ibunya pun sering mengomel, "Sudah besar kok
masih saja ngompol! Apa tidak malu sama adik?" Kalau sudah begitu,
sambil membersihkan tempat tidurnya sendiri karena merasa
bersalah, ia tidak bisa membantah. Kadang kala airmatanya
berlinang.
Ilustrasi: Anton Nugroho