DEPOL,
SUDAH GEDE MASIH NGOMPOL

Anak mengompol sampai usia 5 tahun masih dianggap normal. Namun kalau sudah di atas usia itu, perlu mendapat perhatian khusus. Mungkin kiat-kiat berikut ini dapat membantu.

Ilustrasi: Anton Nugroho
     Sita sudah berusia 10 tahun tapi hampir setiap malam seprai dan kasurnya selalu basah. Ia sendiri sebenarnya malu, apalagi adiknya yang usianya berselisih 4 tahun, tidak pernah ngompol lagi. Teman-temannya sampai mengolok-oloknya, "Depol, depol. Sudah gede masih ngompol!" Ibunya pun sering mengomel, "Sudah besar kok masih saja ngompol! Apa tidak malu sama adik?" Kalau sudah begitu, sambil membersihkan tempat tidurnya sendiri karena merasa bersalah, ia tidak bisa membantah. Kadang kala airmatanya berlinang.

     Anak yang sulit menahan kencing sewaktu tidur malam (enuresis nokturnal), menurut Sigmund Freud, ahli psikoanalisis, berhubungan erat dengan faktor gangguan psikologis si anak. Namun ahli lain menyatakan, faktor lain seperti keturunan atau adanya kelainan pada kandung kencing penderita bisa juga menjadi penyebab.

     Pada umumnya anak pengompol atau enuretik selama satu periode tertentu sulit menghentikan kebiasaan ini. Namun pertolongan untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini dapat dicoba dengan memberikan motivasi, komitmen, dan antusiasme. Sebaliknya, memarahi atau menghukum anak ngompol justru tidak akan menyelesaikan masalah. Malah sering kali membuat anak menjadi tegang atau merasa serba salah sehingga menambah beban psikologisnya.

Paket pertolongan

     Belum diketahui dengan pasti apa penyebab ngompol yang sebenarnya. Namun faktor jenis kelamin (dalam hal ini anak laki-laki tukang ngompol lebih banyak jumlahnya daripada anak perempuan), riwayat keluarga, ketidakdewasaan dalam perkembangan mentalnya, tipe kepribadian serta pengalaman psikologis traumatik bisa merupakan penyebabnya. Sementara dari segi kedokteran dikatakan, faktor kelainan pada kandung kemih atau kencing penderita bisa pula menjadi biang keladinya.

     Banyak orang tua melaporkan, anak enuretik pada umumnya juga anak yang penidur berat. Tapi dugaan ini pun dibantah para ahli. Kata mereka berdasarkan penelitian belum ada bukti adanya hubungan antara kedalaman tidur dan mengompol di waktu malam. Kebiasaan mengompol sampai usia 5 tahun, menurut para ahli, tidak perlu dikhawatirkan. Tetapi kalau hal itu terjadi di atas usia tersebut, perlu diteliti penyebabnya.

     Riwayat keluarga merupakan salah satu faktor yang cukup berpengaruh. Bila salah satu atau kedua orang tuanya sewaktu kecil mempunyai kebiasaan tersebut, kemungkinan besar akan menurun pada anak-anaknya. Sebaliknya, bila kedua orang tuanya bukan pengompol, kecil kemungkinan keturunannya mempunyai kebiasaan ini di atas usia 5 tahun.

     Statistik menunjukkan, 25% anak pengompol pada usia 5 tahun akan menurun menjadi 5% pada usia sampai 10 tahun, dan tinggal 2% pada usia 10 - 15 tahun.

     Paket pertolongan untuk para enuretik bisa berupa latihan menahan kencing, melakukan catatan, penetapan target, pembayangan diri serta sugesti diri positif. Untuk memahami program pertolongan ini, paling tidak si anak sudah berusia 6 tahun.

Luka psikologis

     Latihan menahan kencing berguna untuk membantu kandung kemih menampung urine lebih banyak, memperkuat otot sfingter (otot yang membuka-tutup aliran kencing), serta menyadarkan anak akan sinyal kandung kemihnya. Latihan ini dilakukan dengan cara meningkatkan masukan cairan: minum 1 gelas lebih banyak dari biasanya untuk setiap kali minum; menahan kencing lebih lama: setiap hari 2 menit lebih lama sampai maksimal 30 menit; beberapa kali menghentikan aliran kencing: untuk menguatkan otot sfingter; mengukur kapasitas isi kandung kemih: target 30 ml per tahun usia. Misalnya, anak usia 6 tahun = 6 x 30 ml = 180 ml tiap kali kencing.

     Anak diminta membuat catatan dengan menandai kalender dengan sticker menarik setiap kali ia berhasil tidak mengompol pada malam hari supaya si anak mempunyai motivasi pada hasil yang positif.

     Selanjutnya gunakan pembayangan positif dan sugesti diri positif. Misalnya, mengajarkan kepada si anak setiap kali naik ke tempat tidur untuk menenangkan pikiran, menutup mata dan membayangkan sejelas mungkin tentang perasaan ingin kencing, yang kemudian disusul dengan bangun, turun dari tempat tidur, lalu masuk ke kamar mandi untuk mengeluarkan kencingnya.

     Setelah melakukan keempat tahap tersebut, anak diminta untuk meyakinkan kepada dirinya dengan mengulang-ulang ucapan: "Malam ini saya tidak akan mengompol" sampai 10 kali. Supaya berhasil tentunya orang tua harus rajin mengajarkan, membantu, serta mendampingi latihan psikologis sederhana ini.

     Bila kasus mengompol merupakan akibat dari stres atau trauma emosional, misalnya ketika anak akan menjalani ulangan umum atau ujian, terapi sebaiknya lebih diarahkan untuk menyembuhkan luka psikologisnya daripada mengobati enuresisnya.

     Obat yang dapat membantu program pertolongan enuresis nokturnal ini adalah imipramin sebanyak 25 mg yang diberikan 1 jam sebelum waktu tidur pada anak usia 6 - 8 tahun dan 50 mg pada anak yang lebih besar. Pemberian obat ini dilakukan sekurang-kurangnya 2 sampai 3 minggu. Bila hasilnya cukup memuaskan, pengobatan dapat dipertahankan selama 4 - 5 bulan. Penghentian obat dilakukan secara bertahap. Tidak boleh secara mendadak. Jadi, sebaiknya dikonsultasikan ke dokter.

     Karena penyebab mengompol cukup bervariasi dan individual, paket pertolongannya pun terdiri atas kombinasi sejumlah faktor. Faktor-faktor tersebut harus diperkuat dengan penciptaan antusiasme, komitmen pada program, serta secara aktif melibatkan si anak dan seluruh anggota keluarganya. (dr. SK Budijanto)



rumah
Converted by WPAHTML
Created With HTML Assistant Pro - 4/5/97