"... Setelah itu Senapati bersama Ratu Kidul masuk ke dalam
istana di bawah air. Di sana mereka berkasih-kasihan selama tiga
hari tiga malam, ia mendapat pelajaran dalam ilmu pemerintahan,
dan khususnya cara memanggil makhluk-makhluk halus."
"... Maka kembalilah Senapati dari istana Ratu Kidul dengan
berjalan di atas permukaan air. Di Parangtritis dijumpainya Sunan
Kalijaga sedang duduk di bawah batu karang, tenggelam dalam
renungan rohani. Senapati segera mendapat peringatan dari sunan
itu agar tidak terlalu mengandalkan kesaktiannya, mempunyai sikap
tinggi hati, dan sebagainya. 'Mari kita pergi ke Mataram, aku
ingin melihat rumahmu,' kata Sunan Kalijaga ...."
Anggota trimurti Agni, Udaka, Maruta
Kutipan yang diambil dari buku Babad Tanah Djawi tulisan
Meinsma, J.J. itu menggambarkan posisi Parangtritis bagi Senapati
maupun Sunan Kalijaga dalam mengisi bagasi rohani mereka. Dalam beberapa buku yang membicarakan sejarah Mataram, Parangtritis
selalu dikaitkan dengan trilogi Parangtritis - G. Merapi -
Keraton. Menurut Dr. Damardjati Soepajar, pakar filsafat Jawa,
Parangtritis termasuk kesatuan trimurti AUM (Agni, Udaka, Maruta).
Seperti diketahui, Yunani yang merupakan jabang bayi Eropa modern
pun memiliki kesatuan trimurti seperti itu.
Parangtritis, ± 27 km selatan Kota Yogyakarta, akhir-akhir
ini menjadi polemik tersendiri; sebagai tempat pelarungan darah
Udin, munculnya permukiman-permukiman "lampu merah", maupun
megaproyek. Namun terlepas dari polemik tersebut, Parangtritis
memang tempat yang unik dan, "Penuh dengan misteri," kata RP.
Suraksotarwono, ketua juru kunci semua petilasan di kawasan daerah
itu. Semuanya erat kaitannya dengan mitos dan legenda yang
dikandung rahim kawasan Parangtritis, yang membentang dari Gua
Langse di sebelah Timur sampai muara Kali Opak dengan gumuk
pasirnya, yang diakui para ilmuwan sebagai satu-satunya di
Indonesia, bahkan di kawasan Asia Tenggara.
Menurut Suraksotarwono, cikal bakal Parangtritis berawal dari
kedatangan Dipokusumo, seorang pelarian dari Kerajaan Majapahit.
Parangtritis sendiri berasal dari kata parang tumaritis, yaitu air
yang menetes (tumaritis) dari atas batu (parang). Air tersebut
berasal dari mata air berdekatan dengan tempat semedi Dipokusumo.
Dari sisi pariwisata Parangtritis terbagi menjadi tiga,
wisata spiritual, wisata kultural, dan wisata natural. Wisata
spiritual masih sangat dominan. Di kawasan itu banyak ditemui
petilasan-petilasan yang ramai dikunjungi orang untuk ngalap
berkah pada hari-hari tertentu, seperti Gua Langse, petilasan
Parangkusumo, makam Syekh Bela-Belu, Syekh Maulana Maghribi, dan
Kyai Selohening. "Mulai dari muara Kali Opak sampai Gua Langse
terdapat tempat-tempat petilasan yang masih dikeramatkan oleh
penduduk," tambah Suraksotarwono. Kali Opak memang "jalur tol"
untuk menuju lokasi ini. Sedangkan wisata kultural berupa berbagai
upacara yang diselenggarakan rutin tiap tahun, seperti labuhan
atau malam 1 Sura. Sementara wisata natural meliputi objek pantai
Parangtritis, Parangendog, serta sumber air panas Parangwedang.
Gua Kanjeng Ratu Kidul
Gua Langse yang terletak di kaki tebing Parangtritis
merupakan tempat tetirah yang terkenal, meskipun di sekitarnya
juga banyak kawasan serupa, seperti Gua Tapan, Sendang Beji,
maupun Gua Siluman. Dalam buku-buku tulisannya, Dr. Hermanus
Johannes de Graaf, ilmuwan Belanda yang mengkhususkan diri dalam
pengkajian tanah Jawa, menyebut Gua Langse sebagai Gua Kanjeng
Ratu Kidul. Oleh sebab itu, gua ini merupakan tempat yang sering
dikunjungi oleh reraja Mataram. Di gua ini konon pernah bersemedi
pula Syekh Siti Jenar maupun Sunan Kalijaga.
Banyak orang yang menyambangi gua ini, terutama pada malam
Selasa atau Jumat Kliwon dan bulan Suro. "Bila bulan Suro bisa
ratusan pengunjung tiap harinya," ujar Sunardi Susilo alias Loso,
salah seorang penjaga Gua Langse yang menemani Intisari ketika
berkunjung ke sana. Bahkan salah seorang pemain bulu tangkis yang
sudah kondang pun pernah berkunjung ke sana. "Selamatannya dengan
menyembelih kerbau," lanjut Loso.
Dari pantai Parangtritis untuk menuju Gua Langse masih harus
berjalan sekitar 3 km ke arah timur. Jika malas berjalan ada ojek
yang siap mengantarkan Anda dengan tarif ± Rp 4.000,-. Namun ojek
ini tidak sampai di pinggir tebing sehingga masih harus berjalan
kaki sekitar 750 m menyusuri jalan setapak di antara rerimbunan
ladang. Sebelum menuju ke gua, Anda akan diminta mengisi buku tamu
dan memberi donasi bagi perawatan gua. Dari sini, Anda diantar
oleh salah seorang penjaga, langsung menuju ke gua.
Jangan kaget atau merasa ngeri ketika Anda sudah berada di
bibir tebing. Dengan ketinggian tebing, menurut Loso, ± 400 m dan
nyaris tegak lurus, perjalanan menuju Gua Langse menjadi tantangan
tersendiri. Jalan menuju ke kaki tebing tempat Gua Langse berada
berupa campuran antara tangga (ada 4 buah pada tempat yang
terpisah), akar, dan tonjolan bebatuan.
Gua Langse sebagai tempat tetirah menyimpan banyak misteri.
"Pernah ada yang jatuh, tapi untungnya temangsang di kerimbunan
pepohonan. Setelah siuman ia merasa ada yang membopong sewaktu
terjatuh," cerita salah seorang penduduk. Loso menambahkan, di
batu Semar yang terletak di depan mulut Gua Langse itulah Ragil
Pragolapati, seorang cerpenis dan dosen, menghilang tiba-tiba
ketika latihan meditasi dengan murid-muridnya. Belum jelas apakah
mayatnya sudah ditemukan.
Sesampainya di gua, pengunjung bisa mandi di salah satu
bilik. Air yang dipakai mandi berasal dari mata air yang keluar
dari dalam gua. Airnya yang dingin dan tawar serta mengandung
kadar kapur tinggi bisa menghilangkan kelelahan akibat perjalanan
menuju gua. Selesai mandi, barulah Anda dipersilakan untuk
bersemedi. Kesunyian di dalam gua sangat membantu untuk memusatkan
pikiran. Suara yang terdengar hanyalah debur ombak pantai selatan.
Parangkusumo, gerbang istana Laut Selatan
Tempat lain yang sering dikunjungi untuk ngalap berkah dan
letaknya tak jauh dari Gua Langse adalah Gua Tapan dan Sendang
Beji. Kedua tempat ini terletak sekitar 1 km sebelum menuju Gua
Langse dan berdekatan. Gua Tapan dulu merupakan tempat bertapanya
Nyai Langgeng, salah seorang kerabat keraton yang mengasingkan
diri. Menurut Loso, Nyai Langgeng pernah menampakkan diri dalam
bentuk singa putih, ketika ia mengantar ayahnya yang bersemedi di
Gua Tapan meminta kesembuhan atas penyakitnya.
Sedangkan Sendang Beji merupakan mata air bening di bawah
teduhnya pohon beringin, yang terus mengalir sepanjang waktu.
Umumnya orang yang datang ke sini mengambil airnya yang bening,
sama seperti yang dilakukan orang di Gua Langse. Sewaktu melongok
ke sana, nampak dua orang pria sedang duduk bersimpuh di depan
sendang bermandikan asap dupa yang menyengat baunya.
Di pinggir jalan menuju Gua Langse terhampar tanah datar di
bibir tebing yang dijadikan sebagai landasan untuk olahraga
terbang layang. Dari sini mata bisa memandang lepas ke arah pantai
Parangtritis sampai ke muara Sungai Opak. Di bawah landasan
dijumpai Gua Siluman yang menurut cerita merupakan tempat
persembunyian Ir. Soekarno (presiden I RI) sewaktu dikejar-kejar
Belanda.
Selain Gua Langse, tempat populer lainnya adalah
Parangkusumo. Di sini terdapat dua buah batu terpisah di mana
Senapati bersembahyang atau bercakap-cakap dengan Kanjeng Ratu
Kidul, penguasa makhluk halus yang bermukim di pantai Parangkusumo
dan juga "istri" para raja Mataram. Kedua batu tersebut dipagari
dan untuk masuk kawasan itu harus minta izin.
"Parangkusumo merupakan tempat orang mengembangkan kualitas
bunga (para bangsawan dan ningrat)," kata Dr. Damardjati Soepajar.
Di sinilah dulu Panembahan Senopati sering bersembahyang maupun
memanggil penguasa Laut Selatan. Tempat ini memang sangat
menenteramkan dan ideal sebagai tempat perenungan. Bahkan
Suraksotarwono berpendapat, tempat ini bisa mengobati orang yang
sedang punya beban hidup yang berat.
Pengalaman batin Suraksotarwono bisa dijadikan contoh.
Meskipun terhitung masih muda, namun berkat seringnya bermeditasi,
ia mengaku bisa melihat masa depan melalui perlambang. Sebelum
geger Tasikmalaya, ia sudah mendapat firasat ketika bermeditasi di
Parangkusumo, dari laut muncul asap yang membubung dan mengarah ke
Barat. "Saya langsung telepon teman saya yang di Ciamis, akan ada
geger di wilayahmu," ujarnya. Temannya baru percaya setelah
Tasikmalaya dan Rengasdengklok bersimbah darah.
Suraksotarwono juga yakin, regol istana Laut Selatan tepat
berada di mulut pantai Parangkusumo. "Halaman istana penuh dengan
warna kuning keemasan," katanya ketika berkesempatan melihat
istana tersebut.
Gumuk, satu-satunya di Asia Tenggara
Parangkusumo juga memiliki andil besar bagi para pendekar
dari beberapa perguruan di kawasan Yogyakarta. Setidaknya
perguruan silat Satria Nusantara melakukan uji kenaikan tingkat di
tempat tersebut. Juga sebagai tempat latihan para suhunya. Ini
katanya erat kaitannya dengan kadar garam Parangkusumo yang tinggi
sehingga sangat membantu dalam melatih tenaga dalam.
Bagi ilmuwan, ada yang menarik dan khas di Parangkusumo ini.
Selain kedua batu tersebut, di lokasi ini terdapat hamparan padang
gurun yang berbukit-bukit, yang disebut dengan gumuk atau bukit
pasir (sand dunes). "Gumuk yang ada di kawasan ini merupakan hal
yang langka untuk daerah tropis basah," kata Prof. Dr. Sutikno,
dekan Fakultas Geografi UGM dan pakar geomorfologi. Bahkan untuk
wilayah Asia Tenggara, hanya di tempat ini gumuk itu berada.
Sedangkan tempat lain yang memiliki gumuk serupa adalah di Arab
Saudi dan Gurun Gobi, Cina.
Fenomena gumuk terjadi karena alam Parangtritis yang sangat
mendukung, serta royalnya G. Merapi mengeluarkan lava. Lava ini,
melalui Sungai Opak dan Progo, diendapkan di gisik Parangtritis.
Angin laut, yang diperkuat oleh dinding terjal di sebelah timur,
menerbangkan pasir yang telah terdampar di gisik ke daratan dan
membentuk bukit-bukit pasir yang berubah-ubah bentuk maupun
lokasinya.
Menurut Sutikno, seperti yang dikutip Majalah Sinar 18 Mei
1996, bagi ilmu kebumian (khususnya geomorfologi) gumuk merupakan
laboratorium alam yang terbentuk melewati proses ribuan tahun. Di
Parangkusumo ada beberapa tipe bentuk gumuk langka, yaitu barchan
dune (berbentuk sabit), parabolic dune (berbentuk parabola), comb
dune (berbentuk sisir), serta longitudinal dune (bukit yang
memanjang). Saat ini tipe-tipe tersebut sudah tak lengkap lagi.
Yang sering muncul hanyalah barchan dan longitidunal.
Banyak ancaman bagi kelestarian gumuk itu. Penghijauan dan
munculnya permukiman di sekitar lokasi adalah beberapa contoh.
"Kami (para ilmuwan) memang tidak mempunyai otoritas terhadap
lokasi tersebut meskipun tiap tahun banyak mahasiswa melakukan
penelitian di sana," kata Sutikno. Namun ia juga mengaku siap
seandainya disuruh mengelolanya sebagai objek wisata dan
laboratorium alam. Ia mencontohkan sebuah tempat serupa di
perbatasan Belanda - Jerman, di mana terdapat situs alam berupa
pasir yang berlubang-lubang, ramai dikunjungi wisatawan. "Termasuk
saya," katanya. Semua itu karena adanya publikasi dan ada yang
menjelaskan fenomena tersebut. Selama 5 tahun terakhir ini, lokasi
gumuk Parangkusumo sebenarnya sudah menarik minat mahasiswa
geografi negeri tetangga, Singapura.
Tak adanya hak "menguasai" tersebut membuat penduduk sekitar
banyak yang membangun gubuk-gubuk di sekitar lokasi gumuk.
Konsekuensinya mereka harus siap menggaruk tumpukan pasir di depan
rumah mereka kalau tak mau tertimbun pasir. "Ya, tiap pagi dan
sore kerjanya menggaruk pasir begini, Dik," ujar Pak Marto yang
rumahnya berdekatan dengan lokasi gumuk.
Penghijauan yang dulu dilakukan ternyata ikut membasmi gumuk.
Bahkan di bakal lokasi megaproyek yang kontroversial itu kini
hamparan padang pasir telah berubah menjadi hamparan pohon kayu
putih dan geresede (untuk pakan ternak). Gumuk memang masih
tersisa di pojok Parangkusumo, di sebelah utara jalan raya yang
merupakan jalan tembus ke desa-desa di pinggir Kali Opak.
Penghijauan memang diperlukan terutama untuk melindungi lahan
pertanian penduduk yang termasuk subur.
Aktivitas pembentukan gumuk saat ini memang masih terjadi.
Namun, selain kendala di atas, pasokan pasirnya sekarang ini
"dicuri" oleh beberapa orang untuk dimanfaatkan sebagai bahan
bangunan. "Pencurian" ini terjadi di hulu sungai, yaitu daerah
sekitar Sungai Boyong. Akibat pengerukan pasir ini, erosi pantai
di muara Sungai Progo sangat aktif. "Untuk Daerah Kulonprogo
memang terjadi perubahan garis pantai," tambah Sutikno. Ia belum
tahu apakah hal serupa terjadi terhadap garis pantai Parangtritis,
soalnya belum dilakukan penelitian.
Ada "penguasa" lain
Mengenai misteri tentang kedua gundukan batu yang tidak bisa
diangkat, seperti yang tersebar di kalangan masyarakat setempat,
Sutikno menjelaskan bahwa kedua batu tersebut merupakan batu yang
terangkat. Jika dilihat dari strukturnya, kawasan Parangtritis
merupakan pertemuan dua lempeng Eurasia dan Hindia-Australia.
Kedua batu yang berada di Cepuri Parangkusumo merupakan batuan
lava yang tersingkap yang menyambung dengan perbukitan di sebelah
utara.
Pertemuan dua lempeng itu juga mengakibatkan timbulnya mata
air panas di Parangwedang, tak jauh dari Parangkusumo. Air dari
mata air Parangwedang hangat dan konsentrasi kimianya tinggi.
Penyebabnya karena ada patahan di daerah ini dan air tanah dalam
yang berasal dari pegunungan di sebelah timur mengalir lewat sesar
tersebut dan mendapat panas bumi.
Seperti diceritakan Mbah Lurah Paranghatmojo, kuncen
Parangwedang, banyak penyakit, umumnya penyakit kulit, rematik,
dan pegal linu, yang bisa disembuhkan dengan mandi air panas
Parangwedang secara rutin. Namun Sutikno pernah melakukan uji
kandungan air panas tersebut dan tidak menemukan unsur belerang di
dalamnya. Unsur terbesar adalah Na, Cl, dan Mg. Makanya, sebagai
obat rematik ia bisa memahami karena airnya yang hangat (± 36oC),
sedangkan untuk penyakit kulit masih menjadi tanda tanya. "Kalau
ke sana tak tercium bau belerangnya, 'kan?" kata Sutikno.
Renovasi Parangwedang - sudah ditetapkan menjadi cagar budaya
dengan SK nomor 20/CB/PK/DIY/93 - di mata Mbah Lurah tidak lebih
bagus dari yang lama dan seperti tidak mendapat restu dari yang
bahureksa (roh penunggu). "Konsultannya meninggal selama
pengerjaan," Mbah Lurah memberi contoh. Untuk masuk ke objek ini
dipungut bayaran Rp 500,- dengan fasilitas sekitar 10 kamar mandi
yang privasinya terjaga.
Sand, sun, sex
Kawasan Parangtritis ternyata juga merupakan tempat suci
sejak zaman Mataram Lama sekitar tahun 1000. Ada kemungkinan
penghormatan religius di tempat ini sudah muncul sejak Ki
Pamanahan datang untuk menguasai daerah Mataram. Sebelum agama
Islam masuk, sudah muncul penghormatan terhadap penguasa Laut
Selatan di beberapa daerah. Adanya legenda Syekh Bela-Belu yang
tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga raja Mataram menjadi
bukti. Juga adanya makam Syeh Maulana Maghribi dan Kyai Ageng
Selohening. Makam ketiga penyebar agama tersebut sekarang menjadi
tempat wisata spiritual yang ramai, khususnya malam Selasa dan
Jumat Kliwon.
Beban Parangtritis sebagai objek wisata memang terasa sangat
berat. Berbagai kepentingan memanfaatkannya di tengah deburan
ombak dan sengatan matahari yang panas serta hamparan pasir
hitamnya. Namun pihak Pemda Bantul melihat, potensi yang ada belum
maksimal. Tawaran investor pun bagai gayung bersambut. Masalahnya
menjadi tak semudah yang dibayangkan, mengingat Parangtritis
memiliki "wajah" yang beragam dan "penguasa"-nya bukanlah Pemda
Bantul saja. Secara de facto masih ada penguasa lain. Legenda yang
telah tertanam beribu-ribu tahun tak mudah terhapus begitu saja,
pun oleh silaunya harta duniawi.
Dalam rumus pariwisata terkenal dengan 3S, sand, sun, dan
sex. Saat ini, unsur seks telah mengintrusi Parangtritis. Meskipun
tak kelihatan, tak sulit untuk mencari unsur ini. Para pekerja
seks tersebut mulai ramai kala malam Minggu, dan bermunculan
ketika rembang mulai mengembang. Mereka kebanyakan tidak berasal
dari daerah sekitar, tapi dari daerah luar dengan beragam profesi
di siang hari. Gubuk-gubuk tempat memadu kasih pun bermunculan.
Sungguh tak terbayangkan masa depan Parangtritis. Jika gumuk
mulai hilang dan pasar seks mulai ramai, Parangtritis pun hanya
bisa menangis. Bisa jadi "teman"-nya (G. Merapi) pun mulai batuk.
(Yds. Agus Surono/B. Soelist)