Menyadari bahwa mencegah berbagai penyakit lebih baik dan
lebih ekonomis daripada mengobati penyakit, maka faktor-faktor
penentu terjadinya suatu penyakit perlu kita kenali dan pahami.
Menurut para pakar, perilaku manusia dan pencemaran
lingkungan merupakan dua faktor penyebab tidak langsung berbagai
penyakit yang perlu diatasi penanggulangannya. Selain itu untuk
pencegahan dini, faktor gizi terhadap proses terjadinya penyakit
seiring dengan bertambahnya usia perlu mendapat perhatian. Dengan
dukungan gizi yang baik, proses terjadinya penyakit dapat
dihambat, dihentikan, bahkan disembuhkan. Namun satu hal yang
lebih penting adalah pencegahan terjadinya penyakit yang dapat
dilakukan dengan dukungan gizi yang optimal.
Sejak 1950-an kita mengenal pedoman Empat Sehat Lima Sempurna
yang masih sering digunakan sampai saat ini. Dengan pengembangan
dan penyempurnaan 4 sehat 5 sempurna yang disesuaikan dengan
perkembangan ilmu dan teknologi gizi serta masalah gizi yang ada
saat ini, maka sejak 1995 Departemen Kesehatan bersama dengan
sektor terkait mengeluarkan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) yang
berisi 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang.
Masalah gizi ganda
Masalah gizi ganda tidak hanya terdapat di beberapa negara
maju, tetapi gejalanya mulai tampak juga di banyak negara
berkembang termasuk Indonesia.
Dengan pergeseran gaya hidup, saat ini sebagian masyarakat
kita cenderung menyukai makanan siap santap yang kandungan gizinya
tidak seimbang. Rata-rata, makanan jenis ini mengandung lemak dan
garam yang tinggi, tetapi kandungan seratnya rendah. Kebiasaan
mengkonsumsi makanan yang melebihi kecukupan gizinya menimbulkan
masalah gizi lebih yang terutama terjadi di kalangan masyarakat
perkotaan. Di lain pihak, 4 masalah gizi kurang seperti gangguan
akibat kekurangan yodium (GAKY), anemia gizi besi (AGB), kurang
vitamin A (KVA), kurang energi protein (KEP) masih tetap merupakan
gangguan, khususnya di daerah pedesaan.
Memasuki era Pembangunan Jangka Panjang II (PJP II) ini,
Indonesia menghadapi masalah gizi ganda: masalah gizi lebih dan
gizi kurang dengan berbagai risiko penyakit yang ditimbulkan.
Melihat laporan dari Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
tahun 1980 dan 1986, penyakit kardiovaskuler yang tadinya
menduduki peringkat penyakit ke-10 saat ini bergeser menjadi ke-8;
sedangkan penyakit diare yang semula di peringkat ke-5 kini
peringkat ke-9. Hal ini menunjukkan, terjadinya penyakit
degeneratif seperti kardiovaskuler cenderung meningkat, sementara
masalah penyakit infeksi masih perlu ditanggulangi meskipun
prevalensinya cenderung menurun.
Di sisi lain, beberapa studi menunjukkan, seseorang yang
mengalami kekurangan gizi sejak kecil seperti berat badan lahir
rendah (BBLR), risiko terjadinya penyakit diabetes melitus tak
bergantung insulin (NIDDM) dan jantung koroner lebih tinggi
daripada seseorang yang lahir dengan berat badan normal.
Penelitian Wilkin TJ malah melaporkan, proliferasi sel-sel beta di
pankreas sangat dipengaruhi oleh keadaan gizi pada masa janin dan
waktu baru lahir. Sehingga bila pada masa itu kebutuhan gizi yang
didapat tidak mencukupi, perbanyakan dari sel-sel beta pankreas
pun menjadi kurang optimal, dan akibatnya di usia dewasa akan
menderita penyakit diabetes (kencing manis).
Studi lain di Hertfordshire, Inggris, pun menunjukkan, bayi
yang baru lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg berisiko
lebih tinggi menderita penyakit jantung koroner pada masa
dewasanya dibandingkan dengan bayi dengan berat badan lebih dari
2,5 kg.
Melihat beberapa studi di atas, tampak adanya keterkaitan
antara kekurangan gizi sejak kecil dengan penyakit degeneratif.
Seseorang yang kekurangan gizi sejak kecil berpotensi menderita
beberapa penyakit degeneratif seperti kencing manis, jantung
koroner pada usia dewasa nanti.
Makan berlebihan, tidak sehat
Masalah gizi tidak hanya rawan bagi yang daya belinya rendah
tetapi juga rawan bagi yang daya belinya cukup dan tinggi. Mengapa
demikian? Selain tergantung pada uang, meningkatkan dan memelihara
keadaan gizi yang baik pun memerlukan pengetahuan. Orang yang daya
belinya cukup dan tinggi dapat membeli semua jenis makanan,
sehingga kebiasaan makannya sering berlebihan dan tidak sehat.
Akibatnya, kelompok ini mudah terserang penyakit degeneratif
seperti darah tinggi, kanker, kencing manis, kegemukan, dsb.
Dengan pengetahuan yang benar mengenai gizi, maka orang akan
tahu dan berupaya untuk mengatur pola makannya sedemikian rupa
sehingga seimbang: tidak berkekurangan dan tidak berkelebihan,
dengan memanfaatkan bahan pangan setempat yang ada.
Jadi, masalah gizi yang timbul - apakah itu gizi kurang atau
gizi lebih - sebenarnya disebabkan oleh perilaku seseorang yang
salah, yakni tidak adanya ketidakseimbangan antara konsumsi gizi
dan kecukupan gizinya.
Sebenarnya, untuk hidup dan meningkatkan kualitas hidup,
setiap orang memerlukan 5 kelompok zat gizi (karbohidrat, protein,
lemak, vitamin, dan mineral) dalam jumlah cukup, tidak berlebihan
dan tidak juga berkekurangan. Di samping itu, manusia juga
memerlukan air dan serat untuk memperlancar berbagai proses faali dalam tubuh. Apabila kelompok zat gizi tersebut diuraikan lebih
rinci, maka terdapat lebih dari 45 jenis zat gizi.
Dengan mengkonsumi makanan sehari-hari yang beraneka ragam,
kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi
oleh keunggulan susunan zat gizi jenis makanan lain, sehingga
diperoleh masukan zat gizi yang seimbang. Jadi, untuk mencapai
masukan zat gizi yang seimbang tidak mungkin dipenuhi hanya oleh
satu jenis bahan makanan, melainkan harus terdiri dari aneka ragam
bahan makanan. Hal ini berarti ada saling ketergantungan antarzat
gizi. Umpamanya, penyerapan yang optimum dari masukan vitamin A
memerlukan kehadiran lemak sebagai zat pelarut dan mengangkut
vitamin A ke seluruh bagian tubuh. Contoh lain, diperlukan vitamin
C cukup dalam makanan untuk meningkatkan penyerapan zat besi (Fe).
Sesuai konsep keterkaitan antarzat gizi, sudah saatnya kini
dimasyarakatkan adanya ketergantungan antarzat gizi atau
antarberbagai jenis makanan. Setiap jenis makanan memiliki peranan
masing-masing dalam menyeimbangkan masukan zat gizi sehari-hari.
Perhatikan peranan berbagai kelompok bahan makanan yang
secara jelas tergambar dalam logo gizi seimbang berbentuk kerucut
(tumpeng) di sini. Dalam logo tersebut bahan makanan yang
dikelompokkan berdasarkan fungsi utama zat gizi, yang dalam ilmu
gizi dipopulerkan dengan istilah Tri Guna Makanan:
1. Sumber zat tenaga yaitu padi-padian dan umbi-umbian serta
tepung-tepungan yang digambarkan di dasar kerucut.
2. Sumber zat pengatur yaitu sayur dan buah digambarkan pada
bagian tengah kerucut.
3. Sumber zat pembangun, yaitu kacang-kacangan, makanan
hewani dan hasil olahan, digambarkan pada bagian atas kerucut.
Keseimbangan gizi diperoleh apabila hidangan sehari-hari
terdiri dari sekaligus tiga kelompok bahan makanan. Dari setiap
kelompok dipilih satu atau beberapa jenis bahan makanan.
13 pesan dasar gizi seimbang
Upaya menanggulangi masalah gizi ganda (gizi kurang dan gizi
lebih) adalah membiasakan mengkonsumsi hidangan sehari-hari dengan
susunan zat gizi yang seimbang. Untuk maksud tersebut, ada 13
Pesan Dasar Gizi Seimbang, berisi pesan-pesan utama yang perlu
diketahui dan dipraktekkan oleh semua orang di semua golongan dan
lapisan masyarakat. Di sini dijelaskan bagaimana mengatur agar
makanan sehari-hari sehat, seimbang antara kebutuhan tubuh dan
kecukupan zat gizinya, serta aman bagi kesehatan.
Kelahiran Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) yang berisi 13
pesan dasar ini merupakan proses dinamisasi dan penjabaran secara
rinci dari slogan "Empat Sehat Lima Sempurna" yang sudah mengakar
kuat di masyarakat kita. Pedoman ini dibahas pertama kali dalam
Widya Karya Pangan dan Gizi ke-V, April 1993. Setelah disepakati
dan dikaji ulang dalam beberapa tahap, maka Pesan-Pesan Dasar Gizi
Seimbang ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Makanlah aneka macam makanan
Selama ini tidak ada satu pun jenis makanan yang mengandung
lengkap semua zat gizi, yang mampu membuat seseorang hidup sehat,
tumbuh kembang dan produktif. Sebab itu, setiap orang perlu
mengkonsumsi aneka ragam makanan (kecuali bayi berumur 0 - 4 bulan
yang cukup sehat hanya dengan memperoleh ASI). Makanan yang
beraneka ragam dijamin dapat memberikan manfaat besar terhadap
kesehatan. Sebab zat gizi tertentu, yang tidak terkandung dalam
satu jenis bahan makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi serupa
dari bahan makanan yang lain.
Juga sebaliknya, masing-masing bahan makanan dalam susunan
aneka ragam menu seimbang akan saling melengkapi. Kesimpulannya,
makan hidangan yang beraneka ragam dapat menjamin terpenuhinya
kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur bagi
kebutuhan gizi seseorang.
2. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi
Setiap orang dianjurkan makan cukup hidangan mengandung
sumber zat tenaga atau energi, agar dapat hidup dan melaksanakan
kegiatannya sehari-hari, seperti bekerja, belajar, berolah raga,
berekreasi, kegiatan sosial, dan kegiatan yang lain.
Kebutuhan energi dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi bahan
makanan sumber karbohidrat, protein, dan lemak.
3. Makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah dari kebutuhan energi.
Terdapat 2 kelompok karbohidrat, yaitu karbohidrat kompleks
dan karbohidrat sederhana. Bahan makanan sumber karbohidrat
kompleks adalah padi-padian (beras, jagung, gandum), umbi-umbian
(singkong, ubi jalar, kentang), dan bahan makanan lain yang banyak
mengandung karbohidrat (sagu, pisang). Sedangkan gula digolongkan
sebagai karbohidrat sederhana yang tidak mengandung gizi lain.
Konsumsi gula sebaiknya dibatasi sampai 5% dari kecukupan
energi, atau 3 - 4 sendok makan setiap harinya. Seyogyanya,
sekitar 50 - 60% kebutuhan energi diperoleh dari karbohidrat
kompleks, atau setara dengan 3 - 4 piring nasi.
Apabila energi yang diperoleh melebihi 60% berasal dari
karbohidrat kompleks, maka biasanya kebutuhan protein, vitamin dan
mineral sulit dipenuhi.
4. Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kecukupan energi.
Lemak dan minyak yang terdapat di dalam makanan berguna untuk
meningkatkan jumlah energi, membantu penyerapan vitamin-vitamin A,
D, E, dan K, serta menambah lezatnya hidangan.
Konsumsi lemak dan minyak paling sedikit 10% dari kebutuhan
energi. Seyogyanya menggunakan lemak dan minyak nabati, misalnya
minyak kelapa, minyak jagung, minyak kacang, atau minyak nabati
yang lain.
Dianjurkan, konsumsi lemak dan minyak dalam makanan sehari-hari tidak lebih dari 25% dari kebutuhan energi.
5. Gunakan garam beryodium
Garam beriodium adalah garam yang telah diperkaya dengan KIO3
(kalium iodat) sebanyak 30 - 80 ppm. Sesuai dengan Keppres No. 69
tahun 1994, semua garam yang beredar di Indonesia harus mengandung
iodium.
Garam beriodium yang dikonsumsi setiap hari bermanfaat untuk
mencegah timbulnya Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI). GAKI
dapat menghambat perkembangan tingkat kecerdasan pada anak-anak,
penyakit gondok endemik dan kretin.
Garam mengandung natrium. Kelebihan konsumsi natrium dapat
memicu timbulnya penyakit tekanan darah tinggi. Karena itu hindari
konsumsi garam yang berlebihan. Dianjurkan untuk mengkonsumsi
garam tidak lebih dari 6 g atau 1 sendok teh setiap harinya.
6. Makanlah makanan sumber zat besi
Kekurangan zat besi dalam makanan sehari-hari secara
berkelanjutan dapat menimbulkan penyakit anemia gizi.
Anemia gizi dapat diderita oleh semua golongan umur. Terutama
ibu hamil, anak balita, anak sekolah, dan tenaga kerja wanita.
Karena itu, konsumsi makanan sumber zat besi perlu diperbanyak.
Bahan makanan sumber zat besi antara lain adalah semua sayuran
berwarna hijau, kacang-kacangan, hati, telur, dan daging.
Ibu hamil dan penderita anemia gizi diharuskan mengkonsumsi
tablet tambah darah (pil besi) sesuai dengan anjuran.
7. Berikan ASI saja kepada bayi sampai usia 4 bulan
Air susu ibu (ASI) mampu memenuhi kebutuhan gizi bayi untuk
tumbuh kembang dan menjadi sehat sampai ia berumur 4 bulan.
Kolostrum, yakni ASI yang keluar pada hari pertama, agar diberikan
kepada bayi. Kolostrum mengandung zat kekebalan, vitamin A yang
tinggi, lebih kental dan berwarna kekuning-kuningan. Pemberian air
gula, air tajin dan makanan pralaktal (sebelum ASI lancar
diproduksi) lain harus dihindari.
Setelah bayi berumur 4 bulan, ASI saja tidak mampu lagi
memenuhi kebutuhan gizi bayi. Oleh karenya, setelah lewat umur 4
bulan, bayi perlu mendapat Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). MP-ASI diberikan kepada bayi secara bertahap sesuai dengan
pertambahan umur, pertumbuhan badan, dan perkembangan
kecerdasannya.
Walaupun demikian, pemberian ASI tetap dilanjutkan sampai
anak berumur 24 bulan. Manfaatnya adalah untuk membantu tumbuh
kembang anak, mempertahankan dan meningkatkan daya tahan tubuh
anak terhadap penyakit infeksi, serta mengakrabkan jalinan kasih
sayang ibu dan anaknya secara timbal balik.
8. Biasakan makan pagi
Makan pagi atau sarapan sangat bermanfaat bagi setiap orang.
Buat orang dewasa, makan pagi dapat memelihara ketahanan fisik,
mempertahankan daya tahan saat bekerja dan meningkatkan
produktivitas kerja. Bagi anak sekolah, sarapan dapat memudahkan
konsentrasi belajar, menyerap pelajaran, sehingga prestasi belajar
pun menjadi lebih baik.
Kebiasaan makan pagi juga membantu seseorang untuk memenuhi
kecukupan gizinya sehari-hari. Jenis hidangan untuk makan pagi
dapat dipilih dan disusun sesuai dengan keadaan, dan akan lebih baik bila terdiri dari makanan sumber zat tenaga, zat pembangun,
dan zat pengatur.
9. Minumlah air bersih, aman, dan cukup
Air minum harus bersih dan bebas kuman. Karenanya, air minum
harus terlebih dulu dididihkan. Sedangkan air minum dalam kemasan,
yang banyak beredar di pasaran, juga harus terlebih dulu diproses
oleh pabriknya sesuai dengan ketentuan pemerintah dan memenuhi
syarat-syarat kesehatan.
Cairan yang dikonsumsi seseorang, terutama air minum,
sekurang-kurangnya 2 l atau setara dengan delapan gelas setiap
harinya, agar proses faali dalam tubuh berlangsung dengan lancar
dan seimbang.
10. Lakukan kegiatan fisik dan olahraga teratur
Kegiatan fisik dan olah raga, secara teratur dan cukup
takarannya, dapat membantu mempertahankan derajat kesehatan yang
optimal bagi yang bersangkutan.
Kegiatan fisik dan olah raga, yang tidak seimbang dengan
energi yang dikonsumsi, dapat mengakibatkan berat badan lebih atau
berat badan kurang bagi yang bersangkutan. Untuk mempertahankan
berat badan normal, upayakan agar kegiatan fisik dan olah raga
selalu seimbang dengan masukan energi yang diperoleh dari makanan
sehari-hari. Bila kegiatan sehari-hari kurang gerak fisik,
upayakan untuk berolah raga secara teratur dan cukup takarannya
atau mencari kegiatan lain yang setara.
11. Hindari minum minuman beralkohol
Kebiasaan minum minuman beralkohol secara berlebihan dapat
menimbulkan terhambatnya proses penyerapan zat gizi, hilangnya zat
gizi yang penting meskipun orang tersebut mengkonsumsi makanan
bergizi dalam jumlah yang cukup, kurang gizi, penyakit gangguan
hati serta kerusakan saraf otak dan jaringan. Di samping itu,
minum minuman beralkohol dapat menyebabkan ketagihan, mabuk, dan
tak mampu mengendalikan diri. Kehilangan kendali diri sering
menjadi pencetus tindak kriminal.
12. Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan
Makanan yang aman adalah yang tidak tercemar, tidak
mengandung mikroorganisme atau bakteri, tidak mengandung bahan
kimia yang berbahaya, telah diolah dengan tata cara yang benar
sehingga fisik dan zat gizinya tidak rusak, serta tidak
bertentangan dengan keyakinan masyarakat.
Makan makanan yang tidak aman dapat menyebabkan gangguan
kesehatan, antara lain menderita keracunan makanan yang dapat
menyebabkan kematian.
13. Bacalah label pada makanan yang dikemas
Peraturan perundang-undangan menetapkan, setiap produk
makanan yang dikemas harus mencatumkan keterangan pada labelnya
mengenai: bahan-bahan yang digunakan, susunan (komposisi) zat
gizi, tanggal kadaluarsa dan keterangan penting yang lain.
Semua keterangan yang rinci pada label makanan kemas sangat
membantu konsumen pada saat memilih dan menggunakannya. Keterangan
mengenai susunan zat gizi pada label diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan gizi sesuai dengan keadaan kesehatan konsumen.
Keterangan mengenai tanggal kadaluarsa pada label menunjukkan
kelayakan makanan tersebut untuk bisa dimakan atau tidak.
Sedangkan keterangan mengenai bahan-bahan, yang terkandung dalam
makanan kemas tersebut, memberikan informasi kepada konsumennya
untuk menilai halal atau tidaknya makanan tersebut.
Beberapa singkatan yang lazim digunakan dalam label antara
lain:
- MD : Makanan yang dibuat di dalam negeri.
- ML : Makanan luar negeri (impor).
- Exp : Tanggal kadaluwarsa, artinya batas waktu makanan tersebut
masih layak dikonsumsi. Sesudah tanggal tersebut, makanan
tidak layak dikonsumsi.
- SNI : Standar Nasional Indonesia, yakni keterangan bahwa mutu
makanan telah sesuai dengan persyaratan.
- SP : Sertifikat Penyuluhan.
Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) yang memuat 13 pesan dasar
ini diharapkan mampu mempengaruhi setiap orang Indonesia untuk
selalu mengkonsumsi hidangan tradisional yang sehat, seimbang dan
aman untuk mempertahankan status gizi dan kesehatannya secara
optimal sejalan dengan Gerakan Nasional Aku Cinta Makanan
Indonesia (ACMI) yang dicanangkan Ibu Negara pada 16 Oktober 1993.