MAKAN DAN FOTO
Kunjungan kali ini mengingatkan saya ke masa 32 tahun silam.
Ketika itu saya bersama dengan teman-teman yang berjumlah + 15
orang dari Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia) dan
Kowani (Konggres Wanita Indonesia) diundang menghadiri perayaan 15
tahun kemerdekaan RRC pada 1 Oktober 1964.
Saya masuk lewat Hongkong menggunakan pesawat. Disambung
jalan darat dengan kereta dari Kowloon menuju perbatasan
Hongkong - Cina. Di sini, batas kedua negara ditandai oleh sebuah
jembatan. Pemandangan mencolok adalah banyaknya tentara yang
berjaga-jaga. Mereka tak henti-hentinya mengawasi setiap orang
yang ke luar-masuk wilayahnya.
Di wilayah RRC, di ujung sebuah jembatan ada stasiun kereta
api besar yang bersih dengan banyak ruangan, salah satunya ruangan
untuk menerima tamu. Rombongan kami disambut meriah oleh panitia dari organisasi wanita RRC. Di situ kami dijamu makan siang.
Mereka memperkenalkan diri dan ketiga penterjemah yang akan
mendampingi kami selama berada di sana.
Di atas kereta api dalam perjalanan ke Canton dihidangkan teh
Cina encer tanpa gula. Konon teh ini bisa menghilangkan kelebihan
lemak dan mencegah penumpukan kolesterol.
Semalam di Canton pagi harinya dengan menggunakan maskapai
penerbangan Air Cina, kami menuju Peking. Kami ditempatkan di
salah satu hotel terbaik. Kendati terkesan sederhana, hotel ini
cukup bersih. Letaknya tidak jauh dari Tian An Men (Lapangan
Merah).
Sambil menunggu peringatan tanggal 1 Oktober acara kami
lumayan padat. Salah satunya melihat-lihat stasiun yang terbesar,
yang dikepalai oleh seorang wanita. Barangkali karena ia wanita,
stasiun yang dikelolanya cukup bersih. Sepanjang peron ditempatkan
pot-pot dengan tanaman buah yang dibonsai. Melihat beberapa pot
dengan buah-buahan, tangan kami terasa gatal, rasanya mau memetik
saja.
Kunjungan berikutnya ke rumah sakit bersalin. Di sini semua
wanita pakai pantolan, singlet, hem berpotongan laki-laki dan jas.
Potongan rambut mereka kebanyakan lurus dan berponi, tanpa rias
wajah. Mereka semua kelihatan bekerja keras.
Tiga pria penterjemah itu ternyata mahir berbahasa Inggris,
Belanda, Indonesia, Jawa, Madura, dan Sunda. Selidik punya
selidik, ternyata mereka dulu belajar di HCS (Holandsch Chinesche
School).
Dalam perjalanan dari satu objek ke objek lain, kami
sebetulnya ingin mampir di pusat-pusat pertokoan atau menikmati
jajanan ala kadarnya, tapi tidak diizinkan. Tapi ketika tali
sepatu saya putus, mereka terpaksa membolehkan saya mampir ke toko
sepatu. Tapi saya cuma mendapatkan sandal plastik biasa. Terpaksa
saya tetap mengenakan sepatu yang talinya putus itu selama di
sana. Semua toko tampak sederhana dan hanya menjual kebutuhan
primer. Tak satu pun menjual barang yang agak bagus, apalagi lux.
Kunjungan yang mengesankan adalah ke tanah pertanian
kolektif. Di tempat ini seluruh keluarga mulai dari kakek-nenek,
bapak-ibu, dan anak-anak bekerja di tanah miliknya. Hasilnya
dipungut dan dijual bersama. Malam harinya para wanita menyulam
taplak, aneka warna serbet, saputangan dan lain-lain. Seminggu
sekali hasil pekerjaan tangan ini mereka setorkan ke koperasi
untuk mendapatkan upah dan memperoleh pekerjaan baru.
Masa itu masyarakat umumnya masih berpakaian sangat
sederhana. Mereka rupanya diberi jatah berkala oleh pemerintah.
Untuk membeli oleh-oleh kami diantar ke toko sutera dan toko batu-batuan, yang dikhususkan untuk tamu negara. Sayang mereka tidak
menerima uang dolar AS.
Terasa sejak pukul 05.00
Tibalah saat yang dinanti-nantikan, Peringatan Kemerdekaan.
Sejak pukul 05.00 kemerihaan sudah terasa. Dari kamar hotel kami
sudah mendengar orang berbaris memasuki lapangan Tian An Men. Baru pukul 09.00 kami dijemput guna menyaksikan perayaan itu dari atas
podium kehormatan.
Pawai yang kami lihat bagus sekali. Mereka yang berbaris
berasal dari segala lapisan masyarakat: pelajar, generasi muda,
artis, buruh, petani. Pakaiannya beraneka warna dan membawa bunga-bunga, balon, pita, dan umbul-umbul.
Satu barisan saya hitung kira-kira 125 orang. Pawai itu
lamanya 2 jam. Saya tidak dapat membayangkan berapa juta orang
yang ikut serta. Malam harinya Tian An Men masih semarak, banyak
warga masyarakat menyaksikan atraksi kembang api dan akrobat.
Bagi tamu luar negeri malam itu diadakan jamuan makan malam
di gedung rakyat yang amat luas dengan 5.000 tempat duduk. Acara
yang disuguhkan berupa opera perjuangan. Pada kanan-kiri panggung
berdiri 1.000 orang penyanyi anak-anak melantunkan lagu mengiringi
opera tadi. Baru pada malam tersebut kami melihat wanita-wanita
Cina ber-make up berpakaian bagus-bagus di atas panggung, pemain
opera.
Hari berikutnya rombongan kami diundang Mao Ze Dong untuk
Peking Duck Dinner. Acara ini diakhiri dengan foto bersama. Foto
itu kemudian dikirim kepada kami, masing-masing mendapatkan satu
set.
Yang mengesankan juga adalah peninjauan ke gedung pameran
industri di Shanghai. Di sini dipamerkan barang-barang dari jarum
sampai mobil, bikinan sana. Lipstik juga ada, kendati hampir
sebagian besar wanita di sana sama sekali tidak ber-make up.
Seperti saat berangkat, kepulangan kami melalui jalan yang
sama, yakni jembatan yang membatasi Cina - Hongkong.
Saya tidak menyangka kembali mengunjungi Cina pada November
1996. Kali ini saya menggunakan salah satu biro perjalanan. Dengan
begitu segala urusan menjadi mudah. Rombongan kami terdiri atas 20
orang.
Pemeriksaan keimigrasian dilakukan di kota Xaimen. Kami harus
antre 2 baris lantaran meja pemeriksaan memang hanya ada dua.
Ditunggu-tunggu pemeriksaan belum juga mulai. Pegawainya yang
berseragam mirip tentara malahan asyik berbicara dan berjalan
mondar-mandir. Ketahuan kalau komputernya ngadat, barangkali
peralatannya masih baru. Bandara saja baru dibuka 2 minggu
sebelumnya. Terpaksa pemeriksaan dokumen dialihkan ke ruangan
lain.
Tiba di Beijing kami disambut oleh pemandu wisata dari dinas
pariwisata Cina. Perjalanan ke Hotel Resources digunakan oleh
pemandu wisata untuk memberikan uraian tentang gedung-gedung yang
kami lalui. Seperti halnya sebuah kota metropolitan yang sedang
berkembang, di sini pun banyak gedung menjulang tinggi. Mulai dari
gedung perkantoran, pusat pertokoan, hotel.
Toilet kurang bersih
Transportasi massal dilayani dengan menggunakan bus, kereta
api bawah tanah, dan juga taksi. Kendati penduduknya mencapai 12
juta jiwa, jalanan tidak macet, mungkin karena sebagian besar masyarakat naik sepeda. Kami singgah di restoran yang cukup besar
untuk makan malam. Sayangnya, kebanyakan toilet kondisinya kurang
bersih.
Tiap hari kami mengunjungi dua tempat bersejarah. Hari
pertama kami mengunjungi lapangan Tian An Men. Di situ ada makam
Mao Ze Dong. Beratus-ratus orang sudah antre ketika rombongan kami
tiba di sana. Namun karena pengunjung berbaris dengan teratur,
tidak makan waktu. Kami juga dilarang membawa kamera dan senjata.
Jenazah mantan pemimpin Cina itu dijaga oleh beberapa tentara,
yang berdiri seperti patung. Di situ siapa saja tidak
diperbolehkan bicara dan dilarang berhenti.
Di Tian An Men terlihat banyak wisatawan mancanegara dan juga
pedagang asongan yang menjajakan macam ragam cinderamata seperti
boneka, topi bulu, sarung tangan, dan kartu pos.
Suasana kota memang sangat berbeda dibandingkan dengan 32
tahun yang lalu. Waktu itu saya sama sekali tidak dapat membeli
barang apa pun dengan bebas.
Tempat wisata kedua yang kami kunjungi adalah Kota Terlarang.
Ini merupakan kompleks sebuah istana yang terbesar di dunia. Konon
di dalamnya ada 999 kamar. Tamannya bermodel klasik, indah, dan
artistik. Salah satu ciri menonjol istana ini adalah banyaknya
patung kura-kura dan burung bangau yang konon merupakan simbol
kejayaan. Di tempat ini dibikin film The Last Emperor.
Hari berikutnya kami ke Tembok Besar Cina yang merupakan
salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Perjalanan ke sana memakan
waktu 2 jam. Kami singgah dahulu di Ming Tomb makam ke-13 Dynasti Ming di kawasan Ding Ling. Untuk mencapai makam tersebut harus
turun ke istana di bawah tanah yang kedalamannya kira-kira lebih
dari 25 m. Bagi saya yang sudah berusia 69 tahun rasanya berat
sekali, tetapi keingintahuan mendorong untuk tetap bersemangat.
Untuk melihat Tembok Besar Cina kami harus berjalan kaki ke
gerbang masuk. Perjalanan menanjak rasanya berat sekali. Suhu
udara yang bersuhu 0oC serta angin kencang, seakan mau menarik
kami ke bawah lagi, meskipun kami sudah saling bergandengan
tangan.
Sejauh mata memandang pemandangan dari atas tembok besar
memang menakjukkan. Temboknya memanjang meliuk-liuk mengikuti
naik-turunnya tanah pijakan di bawahnya.
Dalam perjalanan pulang saya masih sempat melihat pabrik obat
tradisional cina. Uniknya sinshe juga tersedia di situ guna
melayani pemeriksaan gratis, dan resepnya dapat dibeli di tempat
tersebut.
Dibandingkan dengan 32 tahun lalu tampaknya dandanan para
wanita sudah cukup maju. Ini terlihat dengan pemakaian make up dan
model rambut yang mengikuti zaman.
Objek wisata lain yang kami kunjungi adalah istana musim
panas. Istananya asri dengan danau yang luas, dengan bukit dan
pepohonan yang berumur ratusan tahun.
Hari terakhir acara kunjungan kami manfaatkan untuk membeli
oleh-oleh. Di toko banyak dijual sutera Cina, batu-batuan, karpet,
dll. Karena sudah hampir memasuki musim dingin, maka banyak dijual mantel, pakaian anak, pakaian dalam; semua tebal-tebal, harganya
relatif murah, mungkin karena tenaga kerja masih murah.
Siang itu kami makan siang di McDonald. Rasanya nikmat,
setelah berhari-hari selalu menyantap masakan cina yang berminyak.
Herannya, kendati berjalan berkilo-kilo tiap hari, berat badan toh
naik juga.
BERSAMA MAO