MAKAN DAN FOTO
BERSAMA MAO

Barangkali hanya sedikit orang yang mengunjungi Cina 2 kali dalam masa yang berbeda. Salah satunya adalah Ny. Arimoerti Hoepoedio yang ke sana tahun 1964 dan 1996. Berikut tuturan perjalanannya.

     Sebetulnya saya sama sekali sudah tidak berminat untuk pergi ke Cina. Tapi karena rayuan dan ajakan seorang kawan, hati saya mencair dan kembali mengunjungi negeri semiliar penduduk itu pada bulan November 1996.  

     Kunjungan kali ini mengingatkan saya ke masa 32 tahun silam. Ketika itu saya bersama dengan teman-teman yang berjumlah + 15 orang dari Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia) dan Kowani (Konggres Wanita Indonesia) diundang menghadiri perayaan 15 tahun kemerdekaan RRC pada 1 Oktober 1964.

     Saya masuk lewat Hongkong menggunakan pesawat. Disambung jalan darat dengan kereta dari Kowloon menuju perbatasan Hongkong - Cina. Di sini, batas kedua negara ditandai oleh sebuah jembatan. Pemandangan mencolok adalah banyaknya tentara yang berjaga-jaga. Mereka tak henti-hentinya mengawasi setiap orang yang ke luar-masuk wilayahnya.

     Di wilayah RRC, di ujung sebuah jembatan ada stasiun kereta api besar yang bersih dengan banyak ruangan, salah satunya ruangan untuk menerima tamu. Rombongan kami disambut meriah oleh panitia dari organisasi wanita RRC. Di situ kami dijamu makan siang. Mereka memperkenalkan diri dan ketiga penterjemah yang akan mendampingi kami selama berada di sana.

     Di atas kereta api dalam perjalanan ke Canton dihidangkan teh Cina encer tanpa gula. Konon teh ini bisa menghilangkan kelebihan lemak dan mencegah penumpukan kolesterol.

     Semalam di Canton pagi harinya dengan menggunakan maskapai penerbangan Air Cina, kami menuju Peking. Kami ditempatkan di salah satu hotel terbaik. Kendati terkesan sederhana, hotel ini cukup bersih. Letaknya tidak jauh dari Tian An Men (Lapangan Merah).

     Sambil menunggu peringatan tanggal 1 Oktober acara kami lumayan padat. Salah satunya melihat-lihat stasiun yang terbesar, yang dikepalai oleh seorang wanita. Barangkali karena ia wanita, stasiun yang dikelolanya cukup bersih. Sepanjang peron ditempatkan pot-pot dengan tanaman buah yang dibonsai. Melihat beberapa pot dengan buah-buahan, tangan kami terasa gatal, rasanya mau memetik saja.

     Kunjungan berikutnya ke rumah sakit bersalin. Di sini semua wanita pakai pantolan, singlet, hem berpotongan laki-laki dan jas. Potongan rambut mereka kebanyakan lurus dan berponi, tanpa rias wajah. Mereka semua kelihatan bekerja keras.

     Tiga pria penterjemah itu ternyata mahir berbahasa Inggris, Belanda, Indonesia, Jawa, Madura, dan Sunda. Selidik punya selidik, ternyata mereka dulu belajar di HCS (Holandsch Chinesche School).

     Dalam perjalanan dari satu objek ke objek lain, kami sebetulnya ingin mampir di pusat-pusat pertokoan atau menikmati jajanan ala kadarnya, tapi tidak diizinkan. Tapi ketika tali sepatu saya putus, mereka terpaksa membolehkan saya mampir ke toko sepatu. Tapi saya cuma mendapatkan sandal plastik biasa. Terpaksa saya tetap mengenakan sepatu yang talinya putus itu selama di sana. Semua toko tampak sederhana dan hanya menjual kebutuhan primer. Tak satu pun menjual barang yang agak bagus, apalagi lux.

     Kunjungan yang mengesankan adalah ke tanah pertanian kolektif. Di tempat ini seluruh keluarga mulai dari kakek-nenek, bapak-ibu, dan anak-anak bekerja di tanah miliknya. Hasilnya dipungut dan dijual bersama. Malam harinya para wanita menyulam taplak, aneka warna serbet, saputangan dan lain-lain. Seminggu sekali hasil pekerjaan tangan ini mereka setorkan ke koperasi untuk mendapatkan upah dan memperoleh pekerjaan baru.

     Masa itu masyarakat umumnya masih berpakaian sangat sederhana. Mereka rupanya diberi jatah berkala oleh pemerintah. Untuk membeli oleh-oleh kami diantar ke toko sutera dan toko batu-batuan, yang dikhususkan untuk tamu negara. Sayang mereka tidak menerima uang dolar AS.

Terasa sejak pukul 05.00

     Tibalah saat yang dinanti-nantikan, Peringatan Kemerdekaan. Sejak pukul 05.00 kemerihaan sudah terasa. Dari kamar hotel kami sudah mendengar orang berbaris memasuki lapangan Tian An Men. Baru pukul 09.00 kami dijemput guna menyaksikan perayaan itu dari atas podium kehormatan.

     Pawai yang kami lihat bagus sekali. Mereka yang berbaris berasal dari segala lapisan masyarakat: pelajar, generasi muda, artis, buruh, petani. Pakaiannya beraneka warna dan membawa bunga-bunga, balon, pita, dan umbul-umbul.

     Satu barisan saya hitung kira-kira 125 orang. Pawai itu lamanya 2 jam. Saya tidak dapat membayangkan berapa juta orang yang ikut serta. Malam harinya Tian An Men masih semarak, banyak warga masyarakat menyaksikan atraksi kembang api dan akrobat.

     Bagi tamu luar negeri malam itu diadakan jamuan makan malam di gedung rakyat yang amat luas dengan 5.000 tempat duduk. Acara yang disuguhkan berupa opera perjuangan. Pada kanan-kiri panggung berdiri 1.000 orang penyanyi anak-anak melantunkan lagu mengiringi opera tadi. Baru pada malam tersebut kami melihat wanita-wanita Cina ber-make up berpakaian bagus-bagus di atas panggung, pemain opera.

     Hari berikutnya rombongan kami diundang Mao Ze Dong untuk Peking Duck Dinner. Acara ini diakhiri dengan foto bersama. Foto itu kemudian dikirim kepada kami, masing-masing mendapatkan satu set.

     Yang mengesankan juga adalah peninjauan ke gedung pameran industri di Shanghai. Di sini dipamerkan barang-barang dari jarum sampai mobil, bikinan sana. Lipstik juga ada, kendati hampir sebagian besar wanita di sana sama sekali tidak ber-make up.

     Seperti saat berangkat, kepulangan kami melalui jalan yang sama, yakni jembatan yang membatasi Cina - Hongkong.

     Saya tidak menyangka kembali mengunjungi Cina pada November 1996. Kali ini saya menggunakan salah satu biro perjalanan. Dengan begitu segala urusan menjadi mudah. Rombongan kami terdiri atas 20 orang.

     Pemeriksaan keimigrasian dilakukan di kota Xaimen. Kami harus antre 2 baris lantaran meja pemeriksaan memang hanya ada dua. Ditunggu-tunggu pemeriksaan belum juga mulai. Pegawainya yang berseragam mirip tentara malahan asyik berbicara dan berjalan mondar-mandir. Ketahuan kalau komputernya ngadat, barangkali peralatannya masih baru. Bandara saja baru dibuka 2 minggu sebelumnya. Terpaksa pemeriksaan dokumen dialihkan ke ruangan lain.

     Tiba di Beijing kami disambut oleh pemandu wisata dari dinas pariwisata Cina. Perjalanan ke Hotel Resources digunakan oleh pemandu wisata untuk memberikan uraian tentang gedung-gedung yang kami lalui. Seperti halnya sebuah kota metropolitan yang sedang berkembang, di sini pun banyak gedung menjulang tinggi. Mulai dari gedung perkantoran, pusat pertokoan, hotel.

Toilet kurang bersih

     Transportasi massal dilayani dengan menggunakan bus, kereta api bawah tanah, dan juga taksi. Kendati penduduknya mencapai 12 juta jiwa, jalanan tidak macet, mungkin karena sebagian besar masyarakat naik sepeda. Kami singgah di restoran yang cukup besar untuk makan malam. Sayangnya, kebanyakan toilet kondisinya kurang bersih.  

     Tiap hari kami mengunjungi dua tempat bersejarah. Hari pertama kami mengunjungi lapangan Tian An Men. Di situ ada makam Mao Ze Dong. Beratus-ratus orang sudah antre ketika rombongan kami tiba di sana. Namun karena pengunjung berbaris dengan teratur, tidak makan waktu. Kami juga dilarang membawa kamera dan senjata. Jenazah mantan pemimpin Cina itu dijaga oleh beberapa tentara, yang berdiri seperti patung. Di situ siapa saja tidak diperbolehkan bicara dan dilarang berhenti.

     Di Tian An Men terlihat banyak wisatawan mancanegara dan juga pedagang asongan yang menjajakan macam ragam cinderamata seperti boneka, topi bulu, sarung tangan, dan kartu pos.

     Suasana kota memang sangat berbeda dibandingkan dengan 32 tahun yang lalu. Waktu itu saya sama sekali tidak dapat membeli barang apa pun dengan bebas.

     Tempat wisata kedua yang kami kunjungi adalah Kota Terlarang. Ini merupakan kompleks sebuah istana yang terbesar di dunia. Konon di dalamnya ada 999 kamar. Tamannya bermodel klasik, indah, dan artistik. Salah satu ciri menonjol istana ini adalah banyaknya patung kura-kura dan burung bangau yang konon merupakan simbol kejayaan. Di tempat ini dibikin film The Last Emperor.

     Hari berikutnya kami ke Tembok Besar Cina yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Perjalanan ke sana memakan waktu 2 jam. Kami singgah dahulu di Ming Tomb makam ke-13 Dynasti Ming di kawasan Ding Ling. Untuk mencapai makam tersebut harus turun ke istana di bawah tanah yang kedalamannya kira-kira lebih dari 25 m. Bagi saya yang sudah berusia 69 tahun rasanya berat sekali, tetapi keingintahuan mendorong untuk tetap bersemangat.

     Untuk melihat Tembok Besar Cina kami harus berjalan kaki ke gerbang masuk. Perjalanan menanjak rasanya berat sekali. Suhu udara yang bersuhu 0oC serta angin kencang, seakan mau menarik kami ke bawah lagi, meskipun kami sudah saling bergandengan tangan.

     Sejauh mata memandang pemandangan dari atas tembok besar memang menakjukkan. Temboknya memanjang meliuk-liuk mengikuti naik-turunnya tanah pijakan di bawahnya.

     Dalam perjalanan pulang saya masih sempat melihat pabrik obat tradisional cina. Uniknya sinshe juga tersedia di situ guna melayani pemeriksaan gratis, dan resepnya dapat dibeli di tempat tersebut.

     Dibandingkan dengan 32 tahun lalu tampaknya dandanan para wanita sudah cukup maju. Ini terlihat dengan pemakaian make up dan model rambut yang mengikuti zaman.

      Objek wisata lain yang kami kunjungi adalah istana musim panas. Istananya asri dengan danau yang luas, dengan bukit dan pepohonan yang berumur ratusan tahun.

     Hari terakhir acara kunjungan kami manfaatkan untuk membeli oleh-oleh. Di toko banyak dijual sutera Cina, batu-batuan, karpet, dll. Karena sudah hampir memasuki musim dingin, maka banyak dijual mantel, pakaian anak, pakaian dalam; semua tebal-tebal, harganya relatif murah, mungkin karena tenaga kerja masih murah.

     Siang itu kami makan siang di McDonald. Rasanya nikmat, setelah berhari-hari selalu menyantap masakan cina yang berminyak. Herannya, kendati berjalan berkilo-kilo tiap hari, berat badan toh naik juga.

rumah
Converted by WPAHTML
Created With HTML Assistant Pro - 4/14/97