HALAMAN HIJAU/INTISARI NO. 405
DAUR ULANG SAMPAH
DENGAN SAPI
Di tempat pembuangan akhir (TPA), sampah biasanya dibakar
sesudah para pemulung mengambil sampah keringnya, seperti botol
gelas, kantung plastik, kardus kertas, atau sandal karet. Maksud
pembakaran ialah, agar sampah yang menggunung itu berkurang
volumenya, sehingga tempat itu lebih awet umurnya sebagai TPA.
Di beberapa kota besar yang antipembakaran, sampah
dibulldozer agar rata dan padat, serta lebih cepat mengisi
beberapa cekungan tanah yang ada di tempat itu. Sesudah sampah
diuruk dengan tanah dan dipadatkan, tempat itu dapat menjadi lahan
baru untuk menambah tempat pemukiman. Pemerintah Daerah setempat
kemudian mencari lahan baru sebagai TPA sampah berikutnya.
Tetapi di TPA Jatirejo, Mojosongo, dalam Kotamadya Surakarta,
penyusutan volume sampah tidak dilakukan dengan pembakaran,
melainkan penggembalaan sapi. Para pemulung dititipi sapi oleh
para petani pemilik ternak, agar sambil mengumpulkan sampah
kering, mereka menggembalakan sapi di tempat sampah.
|
|
Foto: B. Soelist
|
|---|
Soalnya, sampah yang dibuang di TPA masih saja berupa
campuran sampah basah (sampah organis yang lunak berasal dari
dapur rumah tangga, restoran Sudimampir, pasar kaget banget, plaza
Koplo-koplo), dan sampah kering (bahan keras seperti dus makanan
dan kardus barang berasal dari kantor dan pabrik). Para sapi yang
diumbar di tengah sampah campuran ini jelas hanya mengais sampah
basah. Sampah keringnya sementara itu dipungut oleh para pemulung
yang menggembala mereka. Sesudah penggembala honorer ini selesai
memulung sampah kering, ia menggiring sapi asuhannya ke rumah
petani pemiliknya lagi.
Dengan dimakan sampah basahnya sebagian, dan dipulung sampah
keringnya sebagian, volume sampah di TPA bersapi itu menyusut, dan
membuatnya tidak cepat penuh.
Diwartakan sebagai berita tambahan, bahwa sapi yang
digembalakan di tempat sampah itu jadi gemuk. Tetapi pertanyaan
skeptis yang menggelitik kita ialah, apakah sapi yang herbivor itu
baik-baik saja makan bahan yang bukan rumput dan hijauan lainnya?
Menurut Dinas Peternakan daerah setempat, sampai sekarang
belum pernah timbul kecelakaan makan di antara sapi-sapi itu.
Walaupun sampah itu sering tercampur racun tikus, berikut
bangkainya juga, namun sapi-sapi jelas mempunyai naluri
mempertahankan diri dan tidak membabi buta memilih sampah seperti
itu sebagai santapan siangnya. Mereka malah diwartakan gemuk dan
berdaging lebih padat daripada sapi "bukan sampah".
Gemuknya diduga karena di samping bahan hijauan, mereka juga
makan sampah restoran, seperti daging-dagingan dalam masakan
berlemak, cap cay, timlo, bahkan sate kambing. Bahan ini benar-benar habis mereka sikat. Soalnya, mereka memang sudah dilatih
dulu selama sekitar sebulan agar mau beralih menu, dari hijauan ke
daging-dagingan berlemak.
Apa pun penjelasan yang digagaskan untuk menerangkan fenomena
gemuknya sapi sampah itu, tidak menjadi soal benar. Yang jelas
menggembirakan ialah, TPA itu tidak cepat penuh, berkat daur ulang sampah basah oleh sapi yang menemukan tempat penggembalaan baru.
Ide untuk menggembalakan sapi di tempat pembuangan akhir sampah
itu patut diteladani oleh pemerintah daerah pengelola TPA serupa
di kota lain, yang niscaya makin lama makin kuwalahan karena
pertambahan penduduk yang meledak.(SS)
Converted by WPAHTML