Di Jawa Tengah dulu, orang mengenal harimau jawa sebagai raja hutan, sampai orang Belanda pun ikut menyebutnya Koningstijger. Harimau yang dikenal juga sebagai macan lodaya sepanjang 2,5 m ini amat disegani oleh masyarakat Jawa Timur, sampai jarang dipanggil pada namanya. Beliau lebih sering disebut kyaine atau mbahe supaya tidak tersinggung pernya.
Ironisnya, sebutan yang penuh hormat itu ternyata tidak mampu menahan laju kepunahan Sang Raja hutan.
Harimau Tasmania bukan kyaine
Di Australia tidak ada harimau loreng atau kyaine. Tetapi penduduk setempat menyebut-nyebut ada harimau yang sering mencuri ternak, sehingga diburu habis-habisan sejak berabad-abad yang lalu. "Harimau" itu kini diduga sudah punah di Tasmania.
Ternyata kemudian, apa yang mereka sebut "harimau" itu binatang berkantung mirip anjing. Tubuhnya lebih mirip perpaduan antara serigala dan kanguru, sampai ia disebut juga serigala tasmania. Nama harimau diberikan karena ada garis-garis loreng pada punggung dan sisi badan bagian atasnya, seperti loreng harimau tigris.
Tubuhnya cuma sebesar anjing kampung yang abu-abu atau coklat kekuningan, tetapi kepalanya mirip serigala. Jenis betinanya mempunyai empat puting susu yang tertutup oleh kulit berbentuk kerucut, yang membentuk kantung. Sekilas memang sulit dipercaya bahwa binatang bertampang anjing ini kerabat kanguru. Baru kalau kadang-kadang mengangkat kaki depannya saja, ia bertumpu pada tubuhnya yang tegak dan kaki belakangnya yang ditekuk, mirip sikap kanguru kalau sedang duduk.
Mulut lebar tapi bungkem
Harimau berkantung ini hidup soliter. Karena menu makanannya daging segar, ia berburu binatang berkantung yang lain. Siasat berburunya tergolong unik. Ia bukannya menyergap mangsa yang diincar, tetapi mengikutinya dengan sabar dan tawakal sampai lelah (calon korbannya itu). Perburuan dengan lari maraton ini bisa berlangsung berjam-jam lamanya.
Sesudah buruannya lelah, barulah ia menyerang dengan sekali caplok dan gigit pada tengkuk kepala. Mulutnya memang luar biasa lebarnya. Kalau dibuka bisa sampai lebih dari 90o mangapnya. Binatang yang lebih besar pun bisa dengan mudah diganyangnya, asal kepalanya kecil, seperti burung emu misalnya, yang tidak bisa terbang.
Walaupun berburu sendirian, tetapi kalau sudah tiba saatnya main cinta, harimau tasmania juga mau berkumpul dengan sesama jenisnya. Sesudah berbulan madu, anaknya lahir. Anak mereka bisa dilahirkan sepanjang tahun, tetapi terutama antara Desember dan Maret. Tiap induk dapat melahirkan 2 - 4 ekor anak, yang disusui dalam kantung di antara kedua kaki belakangnya.
Setelah tiga bulan, anak-anak sudah bisa keluar dari kantung, kalau mau, karena sudah mulai besar. Tetapi mereka tetap diasuh oleh induknya sampai berumur sembilan bulan. Sesudah itu, mereka dibiarkan mencari makan sendiri, dan kemudian juga hidup mandiri.
Kalah bersaing
Selama kala Pleistosen, satu juta tahun yang lalu, harimau tasmania tersebar luas di seluruh Benua Australia dan Pulau Irian. Mereka hidup makmur karena masih banyak binatang mangsa yang bisa diburunya dengan mudah. Jadi, kalau penemuan binatang sejenis di Lembah Baliem akhir-akhir ini benar-benar terjadi, itu bukan hal yang mustahil, mengingat penyebarannya yang dulu juga sudah begitu luas.
Baru sesudah Australia kedatangan para aborigin dari Asia (pada kala pasca Pleistosen, antara 5.000 dan 8.000 tahun yang lalu), harimau berkantung itu kalah bersaing dengan anjing dingo yang dibawa oleh para aborigin itu. Mula-mula sebagai anjing piaraan untuk menjaga ternak, tetapi kemudian ada yang minggat mencari makan sendiri di hutan. Anjing dingo yang meliar inilah yang kemudian lebih menguasai ladang perburuan, daripada harimau tasmania yang cuma anjing gadungan.
Harimau tasmania boleh kalah bersaing di Australia, tetapi keponakan-keponakannya yang tinggal di Tasmania masih menguasai rimba raya. Mereka benar-benar menjadi raja hutan, sampai pada suatu ketika melakukan kesalahan fatal, yaitu makan ternak milik pesaing lain yang bernama manusia. Sekali merasakan daging domba para peternak, ia menjadi ketagihan. Sesudah makin sering mencuri domba yang gemuk, mereka diburu secara besar-besaran. Bahkan pemerintah daerah menyediakan hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil menangkap atau membunuh harimau itu.
Akibat perburuan ini, jumlahnya menurun drastis. Pada 1914 banyak yang menyingkir ke hutan pegunungan yang tak terjangkau oleh manusia.
Namun sebenarnya bukan hanya karena diburu yang bikin mereka itu makin langka, tetapi karena terserang penyakit, dan susutnya binatang mangsa gara-gara pembukaan hutan. Kalau harimau jawa yang dihormati saja bisa punah, (juga karena susutnya hutan dan binatang mangsa), apalagi harimau tasmania yang tidak dihormati sama sekali.
Harimau tasmania liar yang terakhir ditemukan mati pada tahun 1930 ketika ditembak. Untung masih ada yang berhasil diselamatkan dan dipelihara di kebun binatang. Tetapi itu pun tak berumur panjang, dan akhirnya mati juga dalam kandang kebun binatang Hobart, ibu kota Tasmania, tahun 1934. Mula-mula ia menolak makan dalam tahanan, dan akhirnya mati. Ironisnya, meskipun pernah dibenci habis-habisan pada waktu lampau, harimau itu dipakai sebagai lambang resmi negara bagian Tasmania.
Ada harapan?
Kalangan tertentu yang masih menyangsikan kepunahannya, kini tetap berharap agar suatu waktu binatang itu bisa ditemukan lagi hidup di rimba raya Irian, walaupun hidupnya senen-kemis di bawah garis kemiskinan.
Hingga kini masih ada orang yang melaporkan pernah memergoki binatang itu, tetapi bukti autentik tidak pernah diperoleh. Meskipun begitu, pemerintah Tasmania menyediakan tanah seluas 647.000 ha di daerah barat daya pulau itu, pada 1966, untuk melindungi "harimau" ini dari pemusnahan lebih lanjut. Siapa tahu, pada suatu waktu harimau itu akan muncul lagi, seperti yang terjadi di Lembah Baliem, Irian Jaya.(Koen Setyawan)