JUDGE BAO
BERKAHNYA DICARI ORANG

    Sosok wajah hitam dengan kening berhias tanda lahir berbentuk bulan sabit ini mulai populer di tanah air setelah film serial Bao Qing Tian diputar di dua stasiun televisi kita dengan dua judul yang berbeda, Judge Bao (RCTI) dan Justice Bao (TPI). Bahkan stasiun TPI sempat menayangkan serial lain berjudul Young Justice Bao yang diproduksi sebuah televisi Singapura. Ternyata, Hakim Bao tidak hanya kondang sebagai tontonan. Konon di Taiwan ia dipercaya pernah ada.


    Maraknya pembuatan dan penayangan serial televisi yang memuat kehidupan Hakim Bao yang bernama asli Bao Zheng (baca: Pao Cheng) ini bisa menjadi tolok ukur kepopulerannya. Wajahnya sangar, kulitnya hitam (konon ia berdarah India), namun ia dikenal justru karena kebijakannya. Belakangan hari ciri fisik tanda bulan sabit di keningnya itu kemudian menjadi ciri khasnya meskipun tidak ada bukti autentik yang bisa menunjukkan kalau Bao Zheng benar-benar lahir dengan tanda itu.

Episode minta hujan

Popularitas film-fim serial itu membawa dampak yang sangat luas. Tak lama setelah booming di Taiwan dan Hongkong, ada banyak produk yang memanfaatkan tokoh Hakim Bao sebagai bintang iklan. Berbagai film layar lebar dan versi lain serialnya pun dibuat. Aktor komedi beken asal Hongkong, Stephen Chow, bahkan pernah bermain di film layar lebar yang memparodikan kepopulerannya dalam Bailian de Bao Qing Tian (Hakim Bao Berwajah Putih). Di Indonesia judul bahasa Inggrisnya, Hail The Judge. Chow bermain sebagai seorang hakim pecundang walau dia merupakan keturunan Hakim Bao yang terkenal sangat adil.

Maraknya pemutaran serial Bao Qing Tian sendiri membuat produser The Adventure of The Yang's Family yang merupakan produk patungan Hongkong - Taiwan memutuskan untuk menjadikan tokoh hakimnya adalah Hakim Bao. Padahal, menurut versi TVB dalam The Yang's Saga yang baru usai diputar di Indosiar bulan September 1997 tidak terdapat adegan yang melibatkan tokoh Hakim Bao.

Kesan adil memang melekat erat dalam dirinya yang hidup di masa Dinasti Song (960 - 1279). Satu kisah mengenai sikap keadilan dirinya adalah ketika ia harus mengadili Chen Shimei, menantu raja, atas tuduhan Qin Xianglian. Chen dan Qing tadinya sepasang suami istri. Chen pergi ke ibu kota Kaifeng untuk mengikuti ujian negara. Setelah lulus, Chen bukannya kembali menjemput orang tua, istri, dan anaknya, ia malah mengaku bujangan dan berhasil memperoleh nama dan kedudukan dengan jalan menikahi putri raja.

Sementara itu Qin terpaksa membanting tulang merawat mertua dan anaknya. Ketika bahaya kelaparan melanda desa sampai menewaskan kedua mertuanya, Qin lantas membawa anak-anaknya ke Kaifeng. Namun, ia mendapati suaminya telah menikah lagi dan menolak mengakui keberadaan mereka.

Qin mengadukan nasib malangnya kepada Hakim Bao yang terkenal keadilannya. Hakim Bao lantas mengambil tindakan tegas untuk menghukum mati sang menantu raja, meski taruhannya adalah nyawa dan kedudukannya sendiri. Keputusan ini ditentang permaisuri yang melarangnya mencampuri urusan keluarga raja. Perintah tegas permaisuri ini pun ditanggapi dengan ujaran dingin, "Keluarga raja dan rakyat jelata mempunyai kedudukan yang sama. Jadi, tetap harus tunduk pada hukum negara."

Manakala permaisuri mengancamnya dengan kekerasan, Bao malah memilih menanggalkan topi dan jubahnya. Hukuman mati bagi Chen tetap dilaksanakan.

Itulah sikap tegas yang ditunjukkan Bao. Dia lebih rela kehilangan pekerjaan ketimbang mengkhianati hukum negara yang dia yakini.

Tipe hakim bijak serupa inilah yang membuat sosok Bao Zheng begitu dikagumi orang. Kesuksesan pemutaran serial televisinya di Taiwan dan Hongkong merupakan bukti kerinduan orang akan sosok hakim yang jujur, antikorup, adil, dan bijaksana. Jarang sekali publik televisi Hongkong mau menerima kehadiran serial televisi produksi Taiwan atau RRC. Tapi untuk kasus serial Hakim Bao, lain ceritanya. Mereka begitu menyukainya, bahkan mendudukkannya di papan atas film-film populer.

Di Taiwan kepopulerannya bahkan meningkat ke jenjang pemujaan yang sekaligus membuatnya menjadi tokoh yang disakralkan masyarakat setempat. Salah satu contoh ketika suatu ketika terjadi musim kemarau panjang, rumah produksinya kebanjiran surat pembaca yang meminta dibuatkan adegan sang hakim melakukan upacara minta hujan. Lucunya, walau ini mungkin faktor kebetulan, satu hari setelah episode yang memuat adegan meminta hujan itu ditayangkan, sebagian besar daerah di Taiwan diguyur hujan besar!

Di Indonesia pemutaran serial film ini pun tidak kalah suksesnya. Buktinya, ketika serial ini sempat menghilang dari layar RCTI, banyak pemirsa melayangkan surat meminta agar serial ini ditayangkan kembali. Himbauan ini ternyata ditanggapi dengan serius. Pemutarannya pun kembali dilakukan setiap hari Minggu.

Pemujaan masyarakat Taiwan terhadap Bao Zheng lebih terasa kental manakala Anda mengunjungi kuil Xing Tian Gong yang terletak di ujung Sunchiang Road, Taipei. Kuil yang tergolong cukup besar ini selalu ramai dikunjungi orang yang ingin meminta berkah dari Hakim Bao.

Dibuntuti Keberuntungan

Kuil Xing Tiang memang didirikan untuk mengenang Hakim Bao, dan karena itu dikenal juga dengan julukan Kuil Hakim Bao. Setiap hari, ratusan orang datang membakar dupa, mempersembahkan sesaji berupa kue manis dan buah.

Mereka yang mempunyai maksud diminta berbaris dalam satu antrean. Beberapa orang wanita lansia berbaju hitam akan datang membawa hio yang diayun-ayunkan ke seluruh tubuh sambil menanyakan maksud kedatangan mereka dan membantu membacakan doa.

Ada kisah menarik yang saya alami sendiri berkaitan dengan legenda kesaktian Hakim Bao. Walau unsur kebetulan begitu besar, namun mengalami sendiri peristiwanya memang berbeda daripada mendengar cerita.

Tahun 1994 saya mengantarkan seorang teman berdarah Indonesia yang kini menjadi warga negara Belanda. Saat sibuk memotret, tanpa sengaja saya berdiri di barisan jemaat yang ingin meminta berkah. Seorang wanita pendoa datang menghampiri saya sambil mengayunkan hio dan menanyakan maksud kedatangan saya. Merasa kaget karena tidak menduga akan ditanya, saya pun menjawab dengan tidak serius, "Saya ingin dapat uang banyak." Sang wanita pendoa pun membacakan doa sambil mengayun-ayunkan hionya ke sekujur badan saya.

Kira-kira satu bulan kemudian, ketika mengunjungi seorang kerabat yang berkunjung ke Taipei, tanpa sengaja saya menemukan sejumlah besar uang di kamar hotelnya. Uang itu ternyata bukan milik kerabat saya, sehingga ia menganjurkan untuk saya ambil; anggap saja sebagai rezeki nomplok.

Karena tidak terbiasa dengan kejadian seperti ini, saya lantas berkaul akan memberikannya pada pengemis pertama yang saya temui di jalan. Kaul ini akan terdengar aneh bagi telinga orang Taipei mengingat sulitnya menemukan pengemis di ibu kota Taiwan itu kecuali di kuil-kuil. Anehnya, siang itu justru saya bertemu dengan seorang pengemis renta penyandang cacat di jalan. Uang temuan itu pun saya berikan langsung padanya.

Beberapa bulan sesudahnya, ketika sedang sibuk pindahan ke kamar baru di asrama, saya kembali menemukan sebuah dompet berisi sejumlah uang yang kemungkinan milik siswa asal Filipina yang dulu menempati kamar tersebut. Kejadian menemukan uang untuk kedua kalinya ini mengingatkan saya pada kejadian di kuil Xing Tian Gong. Kebetulan pula selama beberapa bulan setelah peristiwa di kuil itu, saya yang seumur-umur selama tinggal di Indonesia tidak pernah menang lotere, mendadak sering memenangkan sejumlah uang dari undian struk belanja sampai mendapat sejumlah uang ekstra dari beberapa kejuaraan yang saya ikuti.

Satu kejadian lain yang tidak kalah menakjubkan saya alami kurang lebih setahun yang lalu, tepatnya di musim dingin 1996. Ketika itu saya berkunjung kembali ke Taiwan untuk melakukan serangkaian wawancara dengan bintang-bintang film asal Taiwan. Pagi itu serangkaian janji wawancara yang telah dibuat beberapa hari sebelumnya sudah dikonfirmasikan. Sebelum berangkat wawancara, saya menyempatkan mengantar keponakan ke Kuil Xin Tian Gong. Ia belum pernah ke sana. Sebelum tiba di sana, saya berpesan pada keponakan saya untuk masuk sendiri ke kuil sebab saya "sedang berhalangan".

Sejak dulu saya mempunyai kebijaksanaan sendiri untuk tidak menginjakkan kaki ke rumah ibadat apa pun dalam kondisi seperti itu. Namun sesampainya di kuil, keponakan saya memaksa saya mengantarkannya ke dalam karena suasana kuil begitu padatnya. Tak ada kejadian istimewa terjadi saat di dalam kuil. Tetapi sepulang dari kuil berbagai peristiwa aneh kami alami.

Saat kami mampir ke sebuah kedai kopi, secara tidak sengaja tas besar milik keponakan saya menyenggol sebuah meja yang sedang dipakai sejumlah tamu. Kami terpaksa membayar ganti rugi atas gelas yang pecah diiringi wajah garang tamu yang duduk di meja itu. Kami juga sempat nyasar gara-gara salah naik bus sehingga seluruh acara wawancara gagal. Padahal kami telah berbekal peta dan daerah itu pun sudah cukup saya kenal, namun halte bus yang dimakusd tidak juga kami temukan. Kami pun bolak-balik meminta informasi termasuk ke kantor polisi setempat.

Pemerannya naik daun

Yang datang ke kuil Hakim Bao tidak semuanya meminta rezeki. Tak sedikit yang datang meminta kesembuhan, termasuk Ibu Wang, guru bahasa Mandarin yang mengajar di kelas saya. Wanita istri purnawirawan angkatan bersenjata zaman Chiang Kaisek ini mengaku mendapat berkah kesembuhan setelah berkunjung ke kuil Hakim Bao saat sang suami jatuh sakit dan harus dioperasi.

Berbagai kisah unik mewarnai keberadaan Hakim Bao ini. Memang faktor kebetulan memegang peranan penting. Namun, kalau ingin bicara tentang kesaktian Hakim Bao yang membawa berkah bagi seseorang, aktor Kenny Ho bisa bicara banyak. Aktor bernama Mandarin He Jiaqing ini sebenarnya berasal dari Hongkong. Walau berwajah cukup tampan dan telah cukup lama berkecimpung di dunia film Hongkong, karier Kenny boleh dibilang jeblok.

Serial Bao Qing Tian produksi Taiwanlah yang justru mendongkrak namanya. Kenny dianggap pas memerankan tokoh perwira Zhan Zao, tangan kanan Hakim Bao. Lepas dari serial ini, berbagai tawaran peran diperolehnya. Koceknya pun semakin bertambah tebal ketika kaset rekaman suaranya laris dibeli orang. Kenny bahkan memutuskan membeli sebuah rumah di Taiwan dan menjadikan negeri itu sebagai tanah air keduanya.

Kelompok lain yang ikut kebagian berkah Hakim Bao adalah para pedagang buah dan sesaji yang berjualan di sepanjang terowongan penyeberangan di sekitar Kuil Xing Tian Gong. Kuil yang selalu sarat pengunjung ini membuat bisnis penjualan buah-buahan, kue manis, hio dan dupa menjadi sangat subur. Maklum, mereka percaya, semakin banyak sesaji yang diberikan, semakin cepat doa mereka terkabul.

Fenomena lain yang tidak kalah menarik adalah kenyataan begitu banyaknya kios-kios peramal yang semuanya mempromosikan diri sebagai peramal ulung. Berbeda dengan masyarakat Cina daratan, masyarakat Taiwan cenderung lebih percaya pada ramalan nasib. Walau belum bisa dipastikan peramal mana yang paling ulung dan apakah ramalan mereka benar-benar jitu, hampir setiap kios peramal ramai dikunjungi orang yang ingin memanfaatkan jasanya.

Beratus tahun setelah kepergiannya ternyata Hakim Bao masih memberikan berkah berupa rezeki bagi banyak orang yang mengaisnya di sekitar kuil. Semasa hidupnya, catatan sejarah mencatatnya sebagai tokoh yang berkarakter positif dan patut diteladani. Tak heran apabila dia lalu dipuja orang dan diberi panggilan kehormatan, Bao Gong alias Kakek Bao.

Aneka kisah kepahlawanannya, mulai dari yang masuk akal hingga yang berbau mistis, banyak beredar. Sudah pasti tidak ada seorang pun yang bisa memastikan kalau semua cerita yang beredar tentang hakim berperawakan tinggi besar ini benar adanya. Namun yang pasti, sampai sekarang Bao Zheng masih mencipratkan sepercik berkah bagi segelintir orang, termasuk para pengemis, kaum papa, dan biksu pengelana. (Pangesti A. Bernardus)


Kembali ke Halaman Utama