|
Popularitas film-fim serial itu membawa dampak yang sangat luas. Tak lama setelah booming di Taiwan dan Hongkong, ada banyak produk yang memanfaatkan tokoh Hakim Bao sebagai bintang iklan. Berbagai film layar lebar dan versi lain serialnya pun dibuat. Aktor komedi beken asal Hongkong, Stephen Chow, bahkan pernah bermain di film layar lebar yang memparodikan kepopulerannya dalam Bailian de Bao Qing Tian (Hakim Bao Berwajah Putih). Di Indonesia judul bahasa Inggrisnya, Hail The Judge. Chow bermain sebagai seorang hakim pecundang walau dia merupakan keturunan Hakim Bao yang terkenal sangat adil.
Maraknya pemutaran serial Bao Qing Tian sendiri membuat produser The Adventure of The Yang's Family yang merupakan produk patungan Hongkong - Taiwan memutuskan untuk menjadikan tokoh hakimnya adalah Hakim Bao. Padahal, menurut versi TVB dalam The Yang's Saga yang baru usai diputar di Indosiar bulan September 1997 tidak terdapat adegan yang melibatkan tokoh Hakim Bao.
Kesan adil memang melekat erat dalam dirinya yang hidup di masa Dinasti Song (960 - 1279). Satu kisah mengenai sikap keadilan dirinya adalah ketika ia harus mengadili Chen Shimei, menantu raja, atas tuduhan Qin Xianglian. Chen dan Qing tadinya sepasang suami istri. Chen pergi ke ibu kota Kaifeng untuk mengikuti ujian negara. Setelah lulus, Chen bukannya kembali menjemput orang tua, istri, dan anaknya, ia malah mengaku bujangan dan berhasil memperoleh nama dan kedudukan dengan jalan menikahi putri raja.
Sementara itu Qin terpaksa membanting tulang merawat mertua dan anaknya. Ketika bahaya kelaparan melanda desa sampai menewaskan kedua mertuanya, Qin lantas membawa anak-anaknya ke Kaifeng. Namun, ia mendapati suaminya telah menikah lagi dan menolak mengakui keberadaan mereka.
Qin mengadukan nasib malangnya kepada Hakim Bao yang terkenal keadilannya. Hakim Bao lantas mengambil tindakan tegas untuk menghukum mati sang menantu raja, meski taruhannya adalah nyawa dan kedudukannya sendiri. Keputusan ini ditentang permaisuri yang melarangnya mencampuri urusan keluarga raja. Perintah tegas permaisuri ini pun ditanggapi dengan ujaran dingin, "Keluarga raja dan rakyat jelata mempunyai kedudukan yang sama. Jadi, tetap harus tunduk pada hukum negara."
Manakala permaisuri mengancamnya dengan kekerasan, Bao malah memilih menanggalkan topi dan jubahnya. Hukuman mati bagi Chen tetap dilaksanakan.
Itulah sikap tegas yang ditunjukkan Bao. Dia lebih rela kehilangan pekerjaan ketimbang mengkhianati hukum negara yang dia yakini.
Tipe hakim bijak serupa inilah yang membuat sosok Bao Zheng begitu dikagumi orang. Kesuksesan pemutaran serial televisinya di Taiwan dan Hongkong merupakan bukti kerinduan orang akan sosok hakim yang jujur, antikorup, adil, dan bijaksana. Jarang sekali publik televisi Hongkong mau menerima kehadiran serial televisi produksi Taiwan atau RRC. Tapi untuk kasus serial Hakim Bao, lain ceritanya. Mereka begitu menyukainya, bahkan mendudukkannya di papan atas film-film populer.
Di Taiwan kepopulerannya bahkan meningkat ke jenjang pemujaan yang sekaligus membuatnya menjadi tokoh yang disakralkan masyarakat setempat. Salah satu contoh ketika suatu ketika terjadi musim kemarau panjang, rumah produksinya kebanjiran surat pembaca yang meminta dibuatkan adegan sang hakim melakukan upacara minta hujan. Lucunya, walau ini mungkin faktor kebetulan, satu hari setelah episode yang memuat adegan meminta hujan itu ditayangkan, sebagian besar daerah di Taiwan diguyur hujan besar!
Di Indonesia pemutaran serial film ini pun tidak kalah suksesnya. Buktinya, ketika serial ini sempat menghilang dari layar RCTI, banyak pemirsa melayangkan surat meminta agar serial ini ditayangkan kembali. Himbauan ini ternyata ditanggapi dengan serius. Pemutarannya pun kembali dilakukan setiap hari Minggu.
Pemujaan masyarakat Taiwan terhadap Bao Zheng lebih terasa kental manakala Anda mengunjungi kuil Xing Tian Gong yang terletak di ujung Sunchiang Road, Taipei. Kuil yang tergolong cukup besar ini selalu ramai dikunjungi orang yang ingin meminta berkah dari Hakim Bao.
|