ORA DI KOMODO, MBOU DI FLORES

Bicara soal binatang purba bernama komodo hampir selalu dikaitkan dengan Pulau Komodo. Memang di situlah pertama kali ditemukan satwa purba langka yang terkenal itu oleh P.A. Owens pada 1912 dan kemudian dipublikasikan. Namun hewan yang disebut ora atau buaya darat ini ternyata hidup juga di pantai utara Pulau Flores, seperti dituturkan Abdul Bari TS, mantan kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam VII Kupang, yang melakukan penelusuran jejak dan penangkapan komodo untuk kepentingan penelitian.

Sebagai orang yang diberi kepercayaan untuk mengembangkan Taman Nasional Komodo, pengamatan habitat satwa purba ini menjadi titik perhatian utama. Lebih-lebih lagi pada tahun 1983 tim yang ditugaskan membawa komodo untuk Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, berhasil mendapatkan 6 ekor komodo di daerah Riung, Flores.

Ketika tim tersebut berhasil menangkap komodo (Varanus komodoensis), warga pantai utara Flores itu mengenalnya sebagai mbou. "O, komodo itu mbou," komentar mereka ketika melihat sosok si Komo.

Atas dasar itulah pada medio Desember tahun 1985, saya bersama beberapa rekan melakukan perjalanan mencari komodo di Pulau Flores. Kami berangkat dari Riung menuju Maumere. Nikodemus Manu, kepala resort KSDA Riung, menyiapkan perlengkapan berupa perangkap komodo yang pernah dipakai menangkap komodo sebelumnya, mencari carteran perahu dan motor tempel berikut motorisnya yang punya pengalaman berlayar dari Riung ke Maumere, berikut seorang petugas lapangan di Riung. Tim kami juga mengikutsertakan Kepala Sub Seksi KSDA Ende, M. Zaenusi, yang bisa menindaklanjuti apabila penelusuran kali ini membawa hasil.

Tim yang saya pimpin terdiri atas enam orang anggota, termasuk motoris (pengemudi perahu motor) dan pembantunya. Motor tempel yang dipakai berkekuatan 5 PK dengan baling-baling patah satu. Persiapan lain yang dibawa berupa tenda, layar darurat untuk mengantisipasi kalau motor perahu ngadat, bahan makanan berupa setandan pisang kepok tua, mie instan, ikan asin, kecap, beras, teh, kopi, dan susu.

Tanggal 20 Desember 1985 pukul 06.00 kami berangkat dari pelabuhan Riung. Laut tenang, dan langit pun cerah. Teluk Riung dengan gugusan pulaunya telah dijadikan cagar alam dan taman wisata laut 17 pulau. Karang laut yang indah bisa disaksikan dari atas perahu bila laut tenang tanpa ombak seperti saat itu. Perahu kecil dengan baling-baling patah satu itu melaju tanpa halangan.

Fosil Stegodon

Setiap pantai berpasir atau teluk kami singgahi untuk mencari jejak komodo. Waktu menunjukkan pukul 13.00 ketika kami singgah di sebuah teluk di lembah Kaborea. Kami lalu pergi ke perkampungan, karena di pantai tak ditemukan jejak komodo. Kami tidak memperoleh informasi mengenai komodo dari penduduk kampung itu, tetapi justru memperoleh berita tentang ditemukannya beberapa guci antik di ladang. Di Flores memang banyak ditemukan barang kuno termasuk fosil gading Stegodon yang disimpan di museum Seminari Ledalero.

Matahari telah condong ke barat ketika perjalanan dilanjutkan di sekitar Tanjung Pola. Pukul 16.00 kami memutuskan bermalam di Pantai Watusopo. Keputusan diambil karena Kampung Dondo, kampung yang terdekat di timur masih harus ditempuh dalam waktu sekitar lima jam lagi. Padahal langit mendung di bulan Desember itu membuat kami khawatir akan diterjang badai karena perahu kami kecil. Beberapa para-para bekas nelayan mengasap ikan ditemukan di Watusopo. Maka perlengkapan memasak pun diturunkan. Seorang petugas memasak sajian makan malam, sementara saya dan dua orang rekan bersama motoris menuju Tanjung Pola untuk mandi dan mencari jejak komodo.

Di tanjung ini ada dua teluk kecil yang pantainya berpasir. Karena motoris kami belum tahu nama teluk-teluk itu, kami beri saja nama Tanjung Pola I dan Tanjung Pola II.

Di Teluk Tanjung Pola I ditemukan carapas (punggung) penyu hijau yang dagingnya sudah diambil nelayan, juga teluk sempit yang diapit tebing curam, dan pantai berpasir yang terbagi dua oleh segerombol hutan baringtonia. Di teluk ini kami menemukan enam jejak komodo. Empat jejak berukuran 8 dan 9 cm, dua jejak berukuran 11 cm dengan guratan bekas ekor yang cukup jelas.

Namun susahnya, umpan untuk perangkap sulit dicari. Untung saja ada dua kapal nelayan yang kebetulan sedang menebar jaring. Kami diberi gratis 5 kg ikan oleh para nelayan. Mereka bahkan memberikan informasi tentang keberadaan si Komo di beberapa teluk di Tanjung Watumanuk.

Perahu lalu kami arahkan kembali ke Teluk Tanjung Pola I. Di atas jejak kaki komodo berukuran 11 cm itu, kami pasang lima ekor ikan dalam perangkap sebagai umpan. Setelah itu kami kembali Teluk Watusopo.

Malam itu saya tidur di perahu yang diayun ombak kecil.

Sementara teman-teman lain tidur di pantai. Tapi sebelumnya mereka membakar ikan pemberian nelayan sambil ngobrol-ngobrol.

Esok harinya kami berangkat lagi ke Teluk Tanjung Pola I seusai sarapan. Pukul 10.00 kami tiba di sana. Dari jauh pintu perangkap terlihat tertutup. Dengan mengendap-endap kami mendekati perangkap. Rupanya, umpan telah habis dimakan. Komodo yang datang diduga cukup besar karena perangkap bergeser dari tempat semula.

Kami masih berharap komodo itu kembali lagi. Maka perangkap diperbaiki dan diberi umpan lagi. Sekitar 400 m kami bersembunyi di balik pepohonan dengan posisi berlawanan dengan arah angin. Maklum, komodo penciumannya sangat tajam. Bau darah atau bangkai sejauh 2 km dapat tercium olehnya.

Dua jam kami menanti, namun sia-sia. Komodo itu tidak kembali. Meskipun begitu kami makin yakin di Teluk Tanjung Pola memang ada komodonya. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Desa Dondo, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende.

Pukul 17.30 kami sampai di Desa Dondo. Perahu sulit merapat di pasir pantai. Maka tak heran apabila perahu selalu digoyang-goyang ombak dan berbenturan dengan perahu lain. Kami menghadap kepala desa dan menceritakan maksud kami. Kepala desa meminta warganya mengantar kami mencari mbou. Namun mereka tak ada pada keesokan harinya saat kami akan berangkat. Rupanya, mereka takut. Lebih-lebih mereka tahu kalau komodo pernah memangsa binatang yang besar dan kambing.

Umpannya bangkai anjing

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami mencari umpan untuk komodo. Karena penduduk tak ada yang bersedia menjual kambingnya, terpaksalah kami menangkap seekor anjing geladak yang tak bertuan.

Perjalanan kami lanjutkan, hingga pada pukul 09.00 kami sampai di Teluk Woroloo. Di pantainya terlihat jejak komodo. Biasanya, ketika laut surut satwa itu mencari makan di pantai, apalagi bila ada ikan yang dijemur nelayan. Kami lalu memasang tenda dan mulai mencari jejak komodo. Namun tanpa sadar persediaan air kami menipis. Setelah makan siang, kami berusaha mencari sumber air sambil mencari jejak komodo lagi.

Begitulah kami pun bertekad masuk hutan di lembah Teluk Woroloo dengan menyusuri jalan setapak. Setelah melewati rindangnya beringin kerbau, sekitar 300 m dari pantai kami melihat sebuah sumur dangkal. Di tengah sumur melintang sebatang kayu bulat kecil sebagai tempat berpijak untuk mengambil air. Sayangnya, air yang kami cicipi ternyata air payau yang berasa asin. Jadi, tak bisa dipakai untuk memasak atau minum.

Perjalanan terpaksa kami teruskan menelusuri lereng bukit dan menembus hutan di bagian timur mengarah ke pantai. Hutan didominasi pohon asam, walikukun, dan pohon kepuh. Sementara semak belukarnya didominasi pohon bidara yang banyak durinya. Walaupun perjalanan sangat sulit, kami gembira karena berhasil menemukan lubang sarang komodo.

Sekitar pukul 16.00, saat kami tengah beristirahat di tenda, tiba-tiba terdengar suara gemerisik dedaunan dan ranting yang diinjak. Menurut pengalaman, itu adalah suara jalannya komodo. Saya dan Niko tiarap di tanah sambil memberi isyarat pada yang lain untuk diam. Kamera pun saya siapkan. Celakanya, saat si komodo makin mendekat, salah seorang dari kami ada yang berdiri. Tentu saja binatang itu terkejut dan segera lari masuk hutan dengan meninggalkan bunyi gemerisik yang keras.

Kami memang kecewa, tetapi apa mau dikata. Teman kami memang belum tahu kebiasaan mbou alias komodo itu, karena ia tidak punya pengalaman mengamatinya di Taman Nasional Komodo.

Kekecewaan terobati ketika hujan tiba-tiba turun. Kami langsung menampung air hujan. Syukurlah, air untuk minum dan masak jadi cukup sampai besok pagi. Paginya, kami sebagian ada yang belanja keperluan sehari-hari dan air.

Pada 23 Desember kami memasang perangkap di Woroloo. Sementara beberapa orang yang lain belanja kebutuhan sehari-hari dan air ke Maumere.

Saya naik pohon waru laut dan duduk di salah satu cabang sambil membawa teropong dan kamera. Sementara Niko dan Zanusi bersembunyi di balik semak belukar tak jauh dari saya. Langit saat itu sangat cerah. Kami berharap komodo segera muncul dari arah hutan. Namun empat jam berlalu tanpa ada tanda-tanda mbou keluar mendekati perangkap. Padahal saya sudah berkali-kali pindah cabang untuk mencari posisi yang enak.

Matahari sudah tinggi dan panas amat menyengat. Komodo tak mungkin mendekati pantai. Maka perangkap dipindahkan ke hutan dekat sumur. Tugas itu tak sampai setengah jam dikerjakan, kembali kami bersembunyi di bawah rindangnya pohon waru. Tapi kami juga tidak melepaskan pandangan ke pesisir pantai, bekas tempat perangkap dipasang.

Sekitar setengah jam kemudian terdengar bunyi sesuatu yang merayap mendekati pesisir pantai. Teropong segera saya arahkan ke pantai. Karena jauh, makhluknya tak cukup jelas kelihatan. Semangat saya bangkit kembali. Teropong saya serahkan kepada Niko dan Zanusi. Saya mengendap-endap mendekati binatang yang ada di pantai. Pada jarak 5 m, saya melihat komodo kecil tengah mengendus-ngendus bau bekas bangkai anjing.

Kamera lima kali saya jepretkan. Dari warna dan bentuk tubuh sang binatang saya yakin ia adalah anak komodo. Entah kekuatan apa yang ada pada diri saya, sampai-sampai semua rasa lapar dan lemas yang saya derita sebelumnya jadi lenyap. Namun binatang itu lari masuk hutan ketika saya melompat mendekati.

Pukul 14.00 saya, Niko, dan Zanusi menengok perangkap yang kami pasang di hutan dekat sumur. Ketika kami sampai di bawah rindangnya pohon beringin kerbau, terdengar suara gemerisik binatang yang berjalan merayap. Kami pun berhenti dan mengamati tempat dari mana arah suara gemerisik itu terdengar. Ternyata seekor komodo besar tampak tertarik oleh bangkai anjing umpan kami. Sayangnya, ia kemudian pergi menjauh.

Kami lalu mendekati perangkap yang kami pasang. Dengan hati berdebar, kami lihat pintu perangkap turun, sementara posisi perangkap tidak berubah. Perlahan-lahan kami mendekat. Lewat celah kawat, terlihat seekor komodo melingkar di dalamnya.

Sambil mengucap syukur, kami berangkulan karena berhasil menangkap komodo. Ia benar komodo, bukan biawak, karena lidahnya bercabang dua dan berwarna kekuningan. Komodo jantan ini panjangnya 159 cm. Untung ketika diukur, ia tidak mengamuk.

Ketika perahu dari Maumere datang, saya memutuskan untuk menghentikan dulu penelusuran komodo sampai awal tahun baru 1986. Mbou kami bawa ke perahu bersama seluruh barang belanjaan. Kami pun menuju Maumere.

Sesuai rencana, pada 3 Januari 1986 penelusuran dilanjutkan di pantai timur Tanjung Watumanuk, Teluk Trigate, dan Teluk Lowotui. Di Trigate berhasil ditangkap anak komodo sepanjang 120 cm, sedangkan di Lowotui ditemukan tiga lubang sarangnya dan tumpukan kotorannya sampai ke puncak sebuah bukit.

Begitulah pengalaman yang saya alami sekitar 10 tahun yang lalu. Ternyata mbou alias ora atau komodo tidak hanya hidup di Pulau Komodo, tapi juga di pantai utara Flores dan lebih ke timur dari penelitian Auffenberg yang berasal dari Amerika Serikat.


Kembali ke Halaman Utama