|
Kurang biru ditambah biru, kurang kuning dikasih kuning, dan seterusnya. Kombinasi warna aura itu sendiri bisa dilihat dengan teknik fotografi Kirlian."
Ketika aura tubuh mengalami ketidakseimbangan alias kekurangan energi, menurut Adriana B. Knijn (57), konsultan colour healing yang juga berpraktik di Jakarta, obat yang masuk ke badan tidak akan berpengaruh optimal. "Dalam badan manusia ada pelangi warna atau energi. Badan yang sakit-sakitan berkaitan dengan masalah energi. Colour healing atau terapi warna membantu memperbaiki kondisi seperti itu," tutur Adriana B. Knijn.
Namun terapi warna bukanlah "obat". "Sifat terapi ini hanya membantu proses penyembuhan atau sebagai pelengkap (complementary medicine) saja, dan bukan sebagai pengobatan alternatif," jelas Erwin Kusuma.
Terapi sinar lampu
Menurut Erwin, tubuh manusia menyimpan lima macam energi hayati. Empat di antaranya terdapat pada "badan kasar", meliputi energi kinetik (gerak otot), kalorik (suhu tubuh), elektrik (rangsangan saraf), dan energi kimia (proses metabolisme). Sedangkan energi elektromagnetik (sinar) ada pada "badan halus".
Frekuensi gelombang (energi) elektromagnetik, lanjut Erwin, berada jauh di bawah sinar inframerah (far infrared rays, FIR) sehingga tidak kasat mata. Pada FIR terdapat gelombang biogenetik (6 - 14 u), yang juga merupakan satu set pelangi (merah sampai ungu). "Gelombang yang bersumber dari matahari ini menjadi 'makanan' bagi 'badan halus' dan juga dapat ditangkap pepohonan hijau serta bebatuan tertentu."
Dalam terapi warna, ada beberapa metode atau teknik memanfaatkan energi warna - yang pada hakikatnya adalah cahaya. Yakni, teknik lewat visual warna (pandangan mata), lampu (penyinaran), pigmen (pakaian, sutera, atau makanan), atau metode solarized water (air berenergi matahari).
Terapi dengan lampu berwarna dilakukan dalam ruang kedap sinar matahari atau sinar lain. Pasien duduk dalam ruangan yang terpapar sinar lampu dan berpakaian katun putih atau tanpa baju. Ambil contoh, untuk mengatasi masalah pencernaan bisa dilakukan dengan terapi lampu kuning. "Ruang terapi dipasangi lampu kuning tidak lebih dari 40 watt. Untuk pasien dengan gangguan pencernaan, misalnya maag, sinar diarahkan ke solar plexus-nya (cekungan di antara tulang rusuk - Red.). Tapi bisa juga pasien mengenakan pakaian kuning lalu berjemur," lanjut Adriana.
Terapi warna kuning, menurut Adriana, juga bisa membantu anak yang susah makan, penyerapan mineral kalium dan vitamin C, merangsang otak, serta menghilangkan stres. Selain juga membantu menyembuhkan infeksi kulit atau masalah kulit lainnya, merangsang sistem saraf dan kelenjar limfa, menghilangkan gangguan mental, dan membantu mengobati radang sendi (artritis). Tapi penggunaannya harus hati-hati karena warna kuning bersifat stimulans dan bisa menyebabkan kelelahan dan depresi.
sementara itu paparan sinar lampu biru 15 watt pada saat tidur, menurut Adriana, bisa membantu melancarkan metabolisme dan anabolisme tubuh. "Lebih-lebih bagi anak yang susah tidur, lampu biru bisa menenangkan," katanya.
Penyinaran lampu biru selama 10 - 30 menit setiap malam bisa menurunkan emosi. Selain bersifat menyejukkan pikiran, biru juga menciptakan rasa tenang bagi yang gugup, dan menjernihkan pikiran yang jenuh. Warna biru pun membantu menghentikan pendarahan, menyembuhkan sakit telinga, hidung dan mata, varises, bisul dan borok, penyakit kulit, radang dan eksem, juga sebagai pencuci darah. "Penyinaran lampu biru pada bagian leher dapat mempercepat penyembuhan luka," kata Adriana.
Selain menurunkan tekanan darah, biru juga mengendurkan saraf, mengatur pertumbuhan jaringan secara seimbang. Ia baik bagi yang mengalami guncangan jiwa, gangguan sistem saraf, serta dapat meningkatkan kemampuan intelektual. Tapi bila diberikan secara berlebihan, tulis Theo Gimbel dalam The Book of Colour Healing, warna biru bisa menyebabkan sakit kepala, menimbulkan rasa malas dan mengantuk, depresi, dan sedih. Karena bersifat "dingin", warna biru mesti dihindari oleh mereka yang sirkulasi darahnya kurang baik.
Bisa dikombinasi
Pemberian terapi warna lewat lampu, menurut Theo Gimbel, bisa merupakan kombinasi dari beberapa warna. Misalnya, oranye dengan biru, magenta-hijau, ungu-kuning, dan merah dengan pirus. Selama terapi, pasien duduk atau berbaring sekitar 2 m dari lampu, dan mengenakan pakaian katun putih supaya tak terjadi distorsi warna yang merasuk ke dalam tubuh lewat pakaian.
Terapi dengan menggunakan dua warna (warna utama dan warna pelengkap) dilakukan bergantian. Ambil contoh, terapi dengan warna oranye dan biru. Mula-mula diberikan warna utama (oranye) selama 3/4 menit, lalu disusul warna pelengkap (biru) selama 3 1/4 menit. Selanjutnya lama pemberian warna utama meningkat 5 1/4 menit, sebaliknya lama pemaparan warna pelengkap menurun 3/4 menit. Total waktu pemaparan 19 3/4 menit (12 1/2 menit untuk pemaparan warna utama, dan 7 1/4 menit warna pelengkap).
Pada akhir tiap tahap pemaparan warna, satu lampu dikecilkan dan lampu yang lain perlahan-lahan dibesarkan. Pasien yang tidur pulas merupakan pertanda baik, karena hal itu memastikan bahwa energi warna diserap secara baik. Ketika pasien terbangun akan segera terjadi respons emosional. Ini dapat segera mempengaruhi aura. Warna aura umumnya akan menjadi lebih cerah dan cemerlang. Bisa berubah sebentar (24 - 72 jam), sementara (2 - 12 minggu), atau permanen.
Sebaliknya terapi kombinasi biru (sebagai warna utama) dan oranye (warna pelengkap) bisa untuk mengurangi stres, insomnia, dan ketegangan otot.
Sirkulasi darah yang kurang beres sering menyebabkan badan capek, pegal-linu, malas, dan tidak bersemangat saat bangun pagi. Untuk kondisi demikian, kata Adriana B. Knijn, bisa dibantu dengan terapi warna merah dikombinasikan dengan kuning. "Setengah jam dengan terapi lampu merah, dan setengah jam dengan lampu kuning. Badan pun akan terasa lebih enak."
Bahkan gangguan penglihatan (mata lelah, katarak, glukoma), menurut Theo Gimbel, bisa diterapi dengan kombinasi lampu warna. Pasien duduk pada jarak 0,7 - 0,9 m di depan lampu, dan posisi mata sejajar dengan lampu yang dilengkapi filter merah dan pirus yang bisa diubah-ubah. Mula-mula mata menatap cahaya berfilter pirus, lalu menatap lampu filter merah. Masing-masing selama 20 - 30 detik. Kemudian memandang panel warna putih, hitam atau abu-bau masing-masing 20 - 30 detik. Terapi ini dilakukan dua kali sehari dan akan membuat mata jadi rileks.
Terapi air berwarna
Teknik terapi warna dengan cara berjemur langsung di bawah matahari diakui punya daya penyembuh yang ajaib, dan bahkan bisa dilakukan sendiri. Sinar matahari memiliki gelombang elektromagnetis yang meliputi spektrum warna kasat mata (warna pelangi mejikuhibiniu), dan yang tidak kasat mata (ultraviolet dan inframerah).
"Warna (energi) yang dibutuhkan tubuh terdapat dalam sinar matahari. Dengan mandi matahari selama 10 - 15 menit sehari, badan akan terasa enak. Ibarat baterai yang diisi. Terapi ini sebaiknya dilakukan pagi hari, pukul 06.30 - 08.00. Boleh dengan mengenakan baju katun putih," tutur Adriana.
Terapi warna bisa juga ditempuh lewat solarized water. Air dalam botol warna atau botol terbungkus filter warna (merah, biru, kuning, atau warna lain) yang dijemur di bawah sinar matahari sebelum tengah hari. "Energi cahaya matahari akan menembus botol dan diserap air. Setelah terjemur 1 - 2 jam, botol diangkat dan dibiarkan dingin. Air diminum sedikit demi sedikit dan tubuh akan menerima getaran warna itu," ujar Adriana.
Seperti halnya pohon hijau dan bebatuan tertentu, menurut Erwin Kusuma, air bisa menangkap dan menimbun energi warna. Bahkan Theo Gimbel menyebutkan, energi alam yang berupa cahaya atau warna dapat merasuk ke dalam makhluk hidup. Energi itu dapat mempengaruhi struktur biokimia tanaman, binatang, dan juga manusia.
Warna botol atau filter, tulis Theo Gimbel, akan mempengaruhi rasa air. Merah menjadikan air berasa masam, biru manis. Air dalam botol merah bersifat merangsang atau menambah semangat. Air botol biru memberi pengaruh relaksasi, dan membantu pengobatan insomnia. Sinar matahari juga mempengaruhi air pada tingkat molekuler dan memberi tenaga.
Terapi minum solarized water konon dikenal dalam dunia pengobatan Ayurverdic di India sejak permulaan abad pertama. Juga digunakan di Mesir sekitar 4.000 tahun silam.
Ada juga laporan, seperti dikutip Misty dalam New Age On-Line Australia, badan capek tak bergairah bisa disegarkan kembali dengan cara mandi pancuran air berwarna. Bisa juga lewat pakaian berwarna yang dikenakan. Demikian pula air dalam bak mandi mampu meneruskan bias cahaya (energi) lampu sehingga diserap seluruh permukaan badan.
Merah menyuburkan
Seperti diungkap oleh Theo Gimbel, beberapa penyakit lebih cocok diterapi dengan metode pigmen warna. Terapi ini pun dapat diterapkan sendiri di rumah. Namun sebaiknya dibimbing oleh ahli terapi warna.
Sarananya bisa berupa kain sutera, pakaian, dan makanan yang berwarna alami. Pakaian yang akan dikenakan disarankan berbahan serat alam. Hal ini untuk mempermudah keluar-masuknya udara dan energi warna ke dalam tubuh.
Pakaian biru, misalnya, akan menurunkan tekanan darah tinggi. Urusan tekanan darah (tinggi atau rendah) bisa juga menggunakan terapi sutera, visualisasi warna, atau lampu warna.
Pakaian merah bisa menambah tenaga dan menaikkan tekanan darah. Bahkan, seperti ditulis Theo Gimbel, pakaian merah bisa menyembuhkan ketidaksuburan akibat suhu tubuh dan tekanan darah rendah. Begitu pula dengan masalah kerontokan rambut, kata Adriana, bisa diatasi dengan terapi warna merah. "Masalah rambut berkaitan erat dengan sirkulasi darah yang kurang baik. Ini perlu diimbangi olahraga supaya jantung terpompa dan sirkulasi darah pun lancar."
Selain disebut-sebut sebagai warna penuh energi, vitalitas dan kekuatan, merah memiliki daya penyembuh. Di antaranya, untuk penyakit yang berkaitan dengan darah dan sirkulasinya, membantu "membakar" sel kanker, dan mengeringkan luka atau borok, membantu menyembuhkan rematik serta radang sendi. Selain menghangatkan dan mengurangi rasa sakit, merah juga mengurangi depresi.
Karena kekuatannya penuh, warna merah tidak boleh diterapikan pada penderita tekanan darah tinggi atau yang gelisah. Terpapar sinar merah terlalu lama bisa menjadi tidak tenang atau agresif.
Bagi penderita darah tinggi, jantung, dan emosional, lebih baik diberi paparan sinar lampu hijau. "Kalau langsung diberi energi (merah) dalam jumlah banyak, jantung akan berdetak keras. Sebaliknya dengan lampu hijau akan lebih enak dan tenang," jelas Adriana.
Hijau konon baik untuk yang lemah saraf, membantu fungsi jantung, menyeimbangkan emosi, menciptakan suasana tenteram dan ketenangan. Selain merangsang kelenjar pituitari dan pertumbuhan, hijau juga membantu menyembuhkan patah tulang, merangsang pertumbuhan kembali jaringan, dan membantu menyembuhkan luka atau memar, serta kanker. Namun pemakaian sinar hijau berlebihan akan menciptakan energi negatif.
Selain sebagai antidepresi dan memberikan energi, warna oranye (jingga) juga memperbaiki fungsi pencernaan, meningkatkan sistem kekebalan dan potensi seksual, juga pasokan oksigen, serta membantu kerja paru-paru. Oranye pun katanya punya daya terapi terhadap gangguan batu empedu dan ginjal, penyakit dada, radang sendi, serta meningkatkan tekanan darah. Pemakaian ringan memberi kehangatan. Tapi ia kurang baik bagi orang yang "kasar" atau mudah resah.
Ungu (violet) baik untuk mengatasi masalah saraf dan mental. Ia juga membantu penderita rematik dan epilepsi. Warna ungu pengaruhnya sampai ke jaringan terdalam, sehingga membantu penyembuhan sakit tulang. Sedangkan lembayung muda bisa sebagai "obat" penenang dan mempercepat tidur. Ia ibarat tonik (obat kuat) bagi tubuh. Tapi kalau berlebihan bisa menyebabkan kelelahan dan kehilangan orientasi.
Terapi warna bisa juga lewat kristal. Karena menyimpan energi dari bumi, kristal dapat menyumbang energi dan menyeimbangkan sistem "cakra" (pusat energi dalam tubuh manusia). Selama terapi, pasien mengenakan pakaian putih untuk menghindari terjadinya distorsi warna.
Penentuan terapi warna memang mesti tepat. Bisa lewat analisis aura, atau teknik lain, dan dilakukan oleh orang yang ahli. Kesalahan dalam menentukan warna justru bisa menimbulkan ketidakseimbangan energi dalam tubuh. Pasalnya, tiap warna punya getaran tertentu. Jadi, warna tertentu bisa menjadi "obat" bagi seseorang, tetapi belum tentu cocok bagi orang lain. (Rye)
|