|
Alasan pembatalan pembelian F-16 terjawab ketika KSAU, Sutria Tubagus, seperti dikutip Kompas mengatakan, "Dari kemampuannya sedikit di atas F-16. Demikian juga harganya." Dikatakan pula, ada beberapa manuver yang diperlihatkan pesawat itu tidak bisa diperlihatkan oleh F-16, sementara manuver F-16 bisa ditiru dengan baik oleh Sukhoi-30. Sukhoi-30 berbasis Su-27 Flanker, jet tempur bermesin ganda turbofan NPO Saturn Lyulka dengan afterburner. Selain Su-30, varian lainnya adalah Su-35 (dikenal pula Su-27M) serta yang terbaru Su-37, yang Juni lalu tampil di Paris Air Show.
Su-30 memiliki rentang sayap sepanjang 14,7 m serta panjang badan 21,93 m. Selintas fisiknya tak berbeda dengan Su-27 Flanker. Memiliki senjata kanon 30 mm, pesawat ini bisa melaju sampai 2,35 Mach atau lebih dari 2.125 km/jam.Teknologinya sudah mengadopsi fly-by-wire.
Akan tetapi, dari varian Su-27, yang memperoleh perhatian serius dari dunia Barat adalah Sukhoi-37. Pesawat ini termasuk misterius dan kalangan Barat hanya mengenalnya sebagai "Proyek 711". Setiap ada pameran yang melibatkan Rusia, pesawat dengan nomor sirip tegak 711 ini selalu ditunggu kemunculannya. Terutama dalam hal demonstrasi.
Apa kehebatan pesawat ini? Figur Su-27, pesawat yang dibuat untuk menandingi F-15 Eagle, masih tampak jelas. Yang membuat pesawat ini istimewa adalah teknologi TVC (thrust vectoring control), yang membuat semburan jet bisa diubah-ubah arahnya (tidak statis seperti jet kebanyakan). Inilah yang membuat Sukhoi-37 mampu membuat manuver "Cobra".
Manuver yang menjadi trademark Su-37 berawal dari pesawat yang menanjak miring, pada satu titik tiba-tiba rebah ke belakang dan membuat satu putaran U, nyaris pada kecepatan nol! Inilah yang disebut Kobra Mematuk dan Diam. Manuver yang terkenal lainnya adalah Somersault (jungkir balik) maupun Kulbit (lingkaran, dalam bahasa Rusia).
Manuver Kulbit sebenarnya bisa dilakukan pesawat tempur lain. Hanya dengan Su-37 diameternya bisa diperkecil. Di sini pesawat melakukan jungkir balik ke belakang sebelum melanjutkan penerbangan ke depan dengan ketinggian yang tak terpaut banyak. Setelah melakukan putaran tersebut, kecepatan pesawat bisa anjlok sampai 50 knot. Kondisi ini membuat pilot memiliki kesempatan untuk menembak musuh dari belakang. Menurut pilot uji Jevgeni Frolov, manuver tersebut tidak sulit untuk terbang, hanya pengontrol sistem digital penerbangan harus dimatikan. "Pilot tamu mampu menguasai pesawat setelah penerbangan kedelapan," lanjutnya. Meskipun Su-37 tidak lebih cakap dibandingkan dengan Dasa/Rockwell X-31 atau F-16 AVEN, manuver super yang dilakukan oleh Frolov setidaknya memiliki kelas tersendiri.
Kunci manuver Su-37 memang pada teknologi TVC. Dengan TVC, semburan jet bisa diubah-ubah arahnya, tidak searah seperti jet biasa, yaitu ke belakang. Dorongan jet dengan demikian bisa lebih ke bawah, lebih ke atas, ke samping kiri, atau ke samping kanan. Kemampuan ini membuat Su-37 bisa membuat satu lingkaran penuh (360o) dengan jari-jari lebih kecil serta dengan kecepatan yang lebih lambat. Selain itu pesawat bisa terbang dalam ketinggian normalnya hanya dalam beberapa detik.
Tanpa manuver pilot tak selamat
Sebetulnya gagasan mengubah sudut gas buang mesin pendorong bukanlah teknologi baru. Masih ingat dengan pesawat milik Inggris Sea Harrier yang fenomenal itu? Meski tujuannya berbeda, yaitu untuk memperoleh karakteristik VTOL (vertical take-off and landing atau lepas landas dan mendarat secara vertikal), ternyata prinsip pembelokan gas buang membuat Sea Harrier mampu mengecoh Sky Hawk A-4 milik Argentina dalam Perang Malvinas.
Kemampuan tersebut memang kreativitas pilot di mana dengan mengarahkan semburan gas buang ke bawah, kecepatan pesawat mendadak berkurang dan diikuti dengan bertambahnya ketinggian pesawat. Sky Hawk pun melaju dengan kencang mendahului buruannya dan menjadi mangsa empuk rudal lawan yang tiba-tiba berada di belakangnya. Alhasil, puluhan Sky Hawk Argentina rontok jadi korban! Manuver meloncat di udara memang menjadi hak monopoli pesawat VTOL. Namun memperlambat laju secara mendadak di udara tanpa harus kehilangan ketinggian yang berarti, ternyata juga bisa dilakukan oleh pesawat tempur non-VTOL. Victor Phugachev mendemonstrasikan kemampuan itu menggunakan Su-27 Flanker di Pameran Kedirgantaraan Le Bourget 1989. Ia memanfaatkan hambatan bodi dan sayap yang terus menerus bertambah selama separuh lintasan manuvernya.
Jet Su-37 merupakan rancangan biro desain Sukhoi di bawah pimpinan Mikhail Simonov dan ditunjang oleh mesin baru AL-31F buatan Lyulka-Saturn pimpinan Victor Chepkin. Pertama kali diterbangkan oleh pilot uji Sukhoi, Yevgeny Frolov pada 2 April 1996. Penampilannya di Farnborough International 1996 membuat keributan kecil gara-gara panitia tak memperbolehkan Su-37 melakukan dua manuver andalannya.
Rusia masih ngotot dengan manuver itu sebab seperti yang dikatakan Simonov, "Tanpa manuver, tak seorang pilot pun akan selamat dalam dogfight (pertarungan jarak dekat) di masa depan." Dengan keyakinan itu pula ia menantang pilot Amerika ketika mereka melecehkan manuver yang dilakukan pilotnya. "Baik Su-37 maupun jet tempur AS bisa meneruskan informasi ke darat dengan telemetri. Siapa yang bisa memperoleh gambar pertama pihak lawan di depannya akan menjadi pemenangnya," ujarnya.
Sayang, dogfight itu tak terjadi meski Simonov mengusulkan tempatnya di atas Samudera Atlantik. "Meski hal itu tentu tak menggairahkan penonton," tambahnya.
Namun pembuat pesawat tempur Barat mengakui, Rusia memiliki kesempatan untuk menang seandainya pertarungan itu terjadi. Meski begitu, dalam kenyataan pesawat tempur Amerika ketika dipiloti Israel berhasil merontokkan MIG Rusia yang dipiloti Suriah. Selama lima bulan uji terbang, fokus perhatian hanya pada karakteristik aerodinamis dan pengoperasian sistem pengontrolan pesawat menggunakan teknologi fly-by-wire. Menurut Vladimir Konokhof, kepala desainer, meskipun aerodinamisnya mirip dengan pesawat tempur Su-35, Su-37 memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan Su-35 atau Su-27. Selain teknologi TVC, terdapat peralatan lain seperti konfigurasi radar simultan dan sistem navigasi satelit.
Pengontrolan TVC bisa dilakukan secara otomatis maupun manual dan terintegrasi dalam pengontrolan fly-by-wire. Kondisi manual digunakan saat keadaan darurat. Pada kondisi tersebut sudut pembelokan ditentukan oleh sang pilot. Mulut nozzle (knalpot)hanya bergerak lurus pada poros dan dapat dibelokkan ± 15o dengan bantuan dua pasang silinder hidraulik setiap mesinnya. Nozzle tersebut dapat digerakkan dengan kecepatan 30o/detik. Di masa depan, nozzle ini terus dikembangkan agar bisa digerakkan sesuai haluan atau menyimpang. Kedua nozzle mesin AL-37FU pada Su-37 bisa dibelokkan secara bersamaan atau terpisah untuk memperoleh arah daya dorong yang diinginkan dalam membuat manuver khusus. Anatoly Andreyev, kepala desainer mesin AL-37FU mengatakan, satu dari banyak desain feature yang njlimet dari mesin ini adalah menyambung persimpangan antara nozzle yang bisa dikemudikan dan bagian buritan dari pipa pembakaran (afterburner) mesin. Bagian tersebut menerima panas sampai 2.000o C dan tekanan 5 - 7 Atmosfer.
Selain TVC, Su-37 juga dilengkapi radar luar di bagian belakang yang diletakkan di daerah ekor penyengat badan pesawat. Radar yang dikembangkan oleh Ryazan Instrument Institute ini akan memperingatkan pilot jika ada musuh yang akan membokong. Sementara radar pengintai depan mampu memberikan penjejakan simultan 20 sasaran serta mampu memandu rudal udara ke udara melawan sebanyak delapan sasaran pada saat berbarengan. Radar juga mampu mendeteksi pesawat sasaran dengan radar cross section sekecil 3 m2.
Bukan David Copperfield
Jika Rusia melakukan inovasi untuk memperoleh gerak lincah dan manuver hebat, tidak demikian dengan Amerika. Di dukung dana yang besar, Amerika getol mengembangkan teknologi stealth (F-117 maupun B-2). Hasilnya sudah bisa dirasakan waktu Perang Gurun meski ada yang menyatakan kehebatan pesawat tersebut dilebih-lebihkan. Namun untuk tidak pucat pasi kedua kali, Amerika mencoba mengawinkan kedua teknologi itu pada pesawat F-22 Raptor.
Pada hakikatnya, pesawat stealth tidak benar-benar menghilang seperti apa yang dilakukan David Copperfield terhadap Patung Liberty. Teknologi siluman itu dimaksudkan untuk mengacak radar sehingga sinyal yang kembali tidak utuh lagi. Dengan demikian penampakan di layar berkurang, bahkan bisa sama sekali tak tertangkap. Besar-kecilnya penampakan bergantung pada posisi relatif pesawat siluman terhadap radar pelacak.
Tulang punggung teknologi stealth Amerika adalah Lockheed. Sudah sejak 8 Agustus 1955 sewaktu mereka menerbangkan pesawat U-2, teknologi stealth terus dikembangkan. F-117A akhirnya mengukuhkan Lockheed sebagai pemimpin dalam pembuatan pesawat tempur jenis ini. Pesawat ini juga diakui sebagai pesawat tempur stealth generasi pertama. Sedangkan generasi kedua adalah B-2 (Aero Series, F-117A Stealth Fighter).
Pengembangan terus dilakukan dengan tujuan kadar kesilumannya semakin meningkat. Bahkan masih ditambah dengan kemampuan menembak sasaran dari balik cakrawala (over horizon). Amerika merintisnya lewat JSF (Joint Strike Fighter) yang merupakan gabungan AU dan AD AS serta F-22 Raptor. Cepat atau lambat, teknologi ini akan mengintervensi negara-negara berkembang.
Sayangnya, kompensasi yang harus dibayar pesawat stealth sangat mahal, baik dari segi biaya maupun teknis. Kekentalan kadar siluman tak hanya bergantung pada material komposit pembungkusnya, melainkan juga pada konstruksi keseluruhan bodi. Kontur kulitnya haruslah dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk bidang-bidang dengan sudut tertentu untuk membiaskan gelombang radar. Inilah yang mengakibatkan penampilan fisiknya berubah menjadi menyeramkan!
Bagian rangka pesawat siluman F-117A yang terbuat dari aluminium ini dilapisi dengan panel yang mementalkan energi radar jauh dari arah transmitter, sehingga sinyal kembali hilang. Permukaan pesawat ditutup dengan bahan penyerap radar, sementara semua pintu dan panel memiliki tepi bergerigi untuk mengurangi deteksi radar. Sedangkan lubang sembur (exhaust) maupun lubang masukan udara (intake) dikelilingi oleh ubin penyerap panas untuk menghindari deteksi sinar inframerah.
Dibandingkan dengan pesawat konvensional, memang bentuknya menjadi berubah drastis. Kecepatannya juga menurun hanya 1.040 km/jam. Bandingkan dengan pesawat tempur non-stealth yang bisa melesat di atas 2.000 km/jam.
Meski begitu dalam Perang Teluk pesawat ini menjadi bintangnya. Bentuk serupa bisa dilihat pada pesawat pembom (bomber) B-2 Spirit. Bomber yang sudah dirintis sejak 1978 ini dijuluki "sayap terbang" dan mirip dengan ikan pari. Knalpotnya diletakkan di atas dan belakang dari sisi-depan sayap untuk mengurangi sinyal inframerah. Bentang sayap bomber ini 52,43 m (bandingkan dengan F-111A yang hanya 13,2 m) dengan panjang 21,03 m. Jika kedua pesawat stealth di atas bentuknya tak umum, F-22 Raptor memiliki fisik yang sama dengan jet tempur pada umumnya. Pesawat ini dimaksudkan untuk mengganti F-15C Eagle.
Meski dibuat stealth, namun pesawat ini lebih cenderung mengandalkan kelincahannya. Kemampuannya bermanuver didukung dengan sistem pengontrolan penerbangan yang menerapkan triplex digital fly-by-wire, juga semburan gas buang yang bisa digerakkan secara dua dimensi.
Awas rudal!
Meski tanpa sentuhan teknologi stealth, Su-37 tidak bisa dipandang sebelah mata. Inilah awal kebangkitan Rusia dalam dunia kedirgantaraan.
Kehadirannya di Farnborough International 1996 sempat membuat panitia kelabakan ketika pilot ujinya ingin mendemonstrasikan dua manuver andalannya. Panitia khawatir kinerja Su-37 tersebut bisa menurunkan pamor Eurofighter-2000. Teknologi stealth memang mengagumkan, meski dari sudut pandang aerodinamis tidak menarik. Hal ini juga berakibat kurang lincahnya pesawat dalam melakukan manuver.
Kasus jatuhnya F-117A Nighthawk ketika melakukan manuver pada pameran kedirgantaraan di Glen L Martin State Airport, Baltimore, Maryland, AS, pada Senin, 15 September 1997, membuktikan hal itu. Dengar pula komentar salah seorang yang pernah menerbangkan pesawat eksperimental Tacit Blue, "Responnya sih bagus. Tapi gerakannya seperti pesawat besar."
Kendala yang masih mengintai stealth adalah gas buang mesinnya yang mustahil bisa mencapai temperatur udara bebas. Artinya, pesawat siluman masih perlu waspada dengan rudal penjejak radar inframerah. Pada Tacit Blue, kondisi ini diatasi dengan menempatkan lubang masukan udara yang diletakkan di atas bodi di belakang kokpit untuk membutakan penglihatan rudal inframerah.
Di lain pihak, ancaman rudal presisi juga perlu diperhitungkan. Pun oleh pesawat bermanuver hebat. Perang Teluk telah memberi peringatan awal akan hal itu, terlihat dengan efektifnya rudal Tomahawk dalam mengoyak wajah Irak. Seperti yang dikatakan oleh Joseph Fitchett, seorang analis pertahanan, rudal dan sistem pendukung elektroniknya akan memainkan peran yang menentukan dalam menyerang sasaran, termasuk pesawat tempur musuh yang datang dari jarak aman.
Pada masa datang ancaman rudal harus diperhitungkan pula. Bisa jadi ia akan menggantikan pesawat tempur. Penempatan rudal ke posisi yang strategis memang sangat mungkin. Apalagi biaya pengembangan jet tempur yang canggih semakin mahal. Ini bisa dilihat dari bergabungnya beberapa perusahaan untuk membikin pesawat tempur, seperti Eurofighter maupun JSF. Selain itu pembeli pesawat tempur di era pascaperang dingin juga menyempit.
Su-37 diklaim sebagai "The First Plane of The 21st Century" oleh para insinyur di Biro Desain Sukhoi. Rusia masih setia dengan konsep manuver, sedangkan Amerika mulai khawatir dengan stealth-nya sehingga mulai memasukkan unsur manuver ke dalam pesawat tempur masa depannya (F-22 Raptor). Masa depan pesawat tempur memang terletak pada inovasi-inovasi yang dilahirkan oleh perancang-perancangnya.
Nah, sementara ajang pembuktian siapa yang terhebat belum ada, kita hanya bisa mengagumi kehebatan masing-masing dalam demo yang digeber pada setiap pameran kedirgantaraan. (Syamsu Maaris/Yds)
|