TANAMAN PENYEHAT HAWA HALAMAN

Di Halaman Hijau Intisari Juni 1997 telah disarankan untuk mencegah polusi udara yang menimpa rumah kita dengan tanaman indoor seperti kuping gajah, kalatea, dipenbahagia. Usaha itu agak percuma kalau hanya ruangan di dalam rumah yang dibuat bersih, sedangkan halaman luarnya tidak dicegah pencemaran udaranya. Karena itu, halaman rumah ini sebaiknya juga ditanami jenis-jenis tanaman yang mampu menyerap gas-gas pencemar udara NO dan CO buangan knalpot kendaraan bermotor. Terutama halaman dekat jendela rumah.

Sekarang ini tidak hanya rumah di pinggir jalan besar yang menderita semburan gas buangan knalpot, tapi juga rumah-rumah di tepi jalan kompleks perumahan, dan jalan lingkungan dalam kampung. Jalan-jalan ini makin banyak dirambah sepeda motor ojek, di samping mobil pribadi penghuni rumah itu sendiri.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan pada Departemen Pekerjaan Umum, telah menguji coba sejumlah tanaman yang mampu menurunkan polusi NO di jalan-jalan. Jenis yang diteliti tidak hanya pohon peneduh yang biasa ditanam di tepi jalan besar, seperti angsana, mahoni, kenari, tetapi juga jenis-jenis yang bukan pohon besar penghuni pinggir jalan, seperti perdu hias dan terna hias. Perdu hiasnya dapat kita pakai sebagai pagar hidup pembatas antara halaman rumah dan jalan. Antara lain puring, soka, kembang sepatu, sablo, dan Mussaenda. Kemampuannya menurunkan gas NO telah diperkenalkan di Halaman Hijau Intisari Juli 1997.

Terna hias yang diteliti ternyata juga positif menurunkan kadar gas NO. Antara lain kaktus penghuni tempat terbuka, anak nakal, rumput kriminil (dulu disebut krokot), sri mukti (sejenis sri rejeki), dan maranta penghuni naungan. Kalau mereka ditanam rapat, sehingga cukup rimbun menghuni halaman dekat jendela rumah, maka mereka benar-benar dapat bertugas sebagai penyaring udara luar yang akan bertukar dengan udara pengap dari kamar.

Penyebaran tanaman di halaman sebaiknya diatur sebagai berikut: Sebagai pagar hijau di dekat jalan ditanam salah satu atau salah dua dari jenis-jenis perdu kembang sepatu, puring, sablo, soka, atau Mussaenda di atas. Kalau perdu ini dipangkas setinggi pagar yang semestinya, mereka merupakan ujung tombak yang menjaga halaman rumah kita terhadap pencemaran udara dari jalan.

Kaktus dan anak nakal, yang tahan terhadap terik matahari, ditanam di bagian halaman yang memang kepanasan sepanjang hari.

Untuk menciptakan keteduhan, ditanam Filicium decipiens (kere payung) yang menurut uji coba Litbang Jalan mampu mengurangi pencemaran udara NO sampai 61,47%.

Di bawah keteduhannya ditanam Maranta leuconeura dan sri mukti, yang tidak tahan terhadap matahari terik. Mereka dapat mengurangi polusi NO berturut-turut sampai 55,5% dan 60,41%.

Sisa taman di sela-selanya ditanami rumput kriminil (kalau terbuka), paku-pakuan, es lilin putih, atau es lilin hijau (kalau teduh di bawah naungan pohon lain). Keempatnya mampu menurunkan polusi NO berturut-turut 61,64%, 76,07%, 63,13%, 62,08%.

Apa tanda yang dapat dirasakan bahwa usaha pencegahan polusi itu berhasil? Udara yang kita hirup terasa segar dan sejuk, karena bekerjanya proses fotosintesis yang menghasilkan oksigen murni. Sebagian dari oksigen yang dihasilkan memang dirampas oleh NO untuk membentuk NO2, tetapi kalau tanamannya memang rapat dan rimbun, sisa oksigennya masih banyak yang dapat kita hirup. Rasanya jelas lebih nyaman daripada udara tetangga yang dibiarkan tercemar. (Slamet Soeseno)


Kembali ke Halaman Utama