Di kota sudah jarang ditemukan kupu-kupu. Padahal peranan mereka sangat penting dalam penyerbukan bunga tanaman yang membuat asri suatu lingkungan. Tanaman berbunga ini memasok oksigen penyegar udara.
Ketidakhadiran mereka karena lingkungan yang dulunya asri oleh tumbuh-tumbuhan berbunga itu pada suatu waktu dibabat habis oleh pengembang perumahan ketika mereka akan membangun rumah-rumah dan jalan baru. Walaupun penghuni rumah baru itu kemudian menanami kembali lahan yang gundul, namun diperlukan waktu yang lama sebelum kupu-kupu mau datang kembali. Apa lagi kalau yang ditanam kembali itu rumput dan tanaman hias yang rendah. Tanaman ini tidak memberi kesempatan sama sekali kepada kupu-kupu untuk menempelkan telur dan menetaskannya menjadi ulat.
|
| Ilustrasi: Anton |
|---|
Perdu dan pohon semacam itu idealnya memang ditanam di taman kota yang tersebar di berbagai lingkungan hunian. Tetapi taman-taman itu sudah banyak yang menyedihkan vegetasinya, terutama di daerah pemukiman yang penduduknya tidak diikutsertakan dalam pemeliharaan taman. Menanam pohon baru tidak cukup di taman semacam itu.
Keadaan merana dari taman-taman itu kebanyakan karena pada waktu perencanaan pembangunannya dulu tidak mengikutsertakan keinginan penduduk setempat. Mereka merasa tidak ikut memiliki taman itu, sehingga sulit diharapkan kerja samanya untuk memelihara taman.
Tetapi untung perdu, semak, dan pohon hias penarik kupu-kupu masih dapat ditanam di halaman rumah masing-masing penghuni sebagai penghias halaman, terutama halaman rumah lingkungan perumahan baru, di samping tepi-tepi jalan, bantaran sungai, dan saluran irigasi. Supaya tidak semrawut timbul anarki penanaman, sebaiknya penanaman pohon di tempat umum ini dikoordinasikan ketua RT dan ketua RW.
Kupu-kupu hanya mau bertelur di daerah yang udaranya bersih. Itulah sebabnya, mereka dijadikan indikator apakah suatu lingkungan masih bersih udaranya, ataukah sudah tercemar. Pencemaran udara terjadi kalau tempat itu terlalu banyak menerima asap kendaraan bermotor tanpa ada kesempatan untuk bertukar dengan udara segar pada waktu malam, subuh, dan fajar. Kendaraan terlalu padat siang-malam, atau ruangan terlalu sempit. Di tempat semacam itu kita sia-sia mengharapkan kedatangan kupu-kupu.
Di tepi jalan tol yang lebih lega, seperti di Cawang, Jakarta Timur misalnya, dapat kita lihat banyak sekali kupu-kupu beterbangan di sekitar pohon kembang kuning. Tetapi hanya pada waktu pagi, ketika udara masih segar. Pada siang hari tidak ada lagi kupu-kupu itu, karena udara sudah tercemar kendaraan bermotor. Walaupun kehadiran mereka hanya sebentar, tetapi itu sudah lumayan. (SS)