FLONA, INTISARI NO. 403
Merak Kesimpir
MERAK MENCARI MACAN
Aneh tapi nyata! Burung merak suka tinggal di wilayah hutan yang ada macan lorengnya. Mengapa ia tidak takut diterkam macan loreng?


Para pemburu merak India memanfaatkan fenomena ini. Mereka mengenakan kulit macan loreng untuk menangkap burung merak. Pernah ada yang hampir saja ditembak pemburu macan, tetapi tidak jadi karena tepat pada waktunya ia melempar kulit itu sambil berteriak, "Jangan tembak! Jangan tembak!"
Merak biru merayu
Lalu keluarlah ceritanya, bahwa burung merak selalu mencari tempat yang ada macan lorengnya Panthera tigris. Berbeda dengan macan kumbang Panthera pardus yang suka memanjat pohon untuk mencari mangsa yang tidur lelap, macan loreng mencari mangsa di tanah. Biasanya ia tidak tertarik untuk menerkam merak. Mereka hidup berdampingan secara acuh tak acuh. Kalaupun ada yang mengejar, karena iseng, burung itu cukup naik ke dahan yang tinggi, dan macannya tidak berminat mengikutinya.

Kalaupun ada macan loreng yang meloncat dan bertengger ke atas dahan pohon, ia tidak mau mencari perkara, tapi mau tidur.

Kehadiran macan loreng di suatu daerah ditakuti oleh binatang lain, sehingga daerah macan semacam itu aman. Itulah yang disukai kaum merak, karena mereka ikut tidak diganggu oleh binatang lain, seperti anjing hutan misalnya, monyet berengsek, atau harimau dahan (sejenis macan kecil, Neofelis nebulosa) di pepohonan.

Fenomena ini diketahui benar oleh para pemburu merak di India pada awal cerita ini tadi. Untuk mendekat sedekat-dekatnya, mereka sengaja mengenakan kulit macan loreng. Merak yang didekati tenang-tenang saja, karena menurut adat, macan semacam itu tidak apa-apa. Tahu-tahu ia sudah dijaring hidup-hidup oleh macan gadungan.

"Burung merak mencari perlindungan pada raja hutan!" Begitu penjelasan yang diterima oleh para cucu dari para nenek yang sudah tua. Pada umumnya nenek-nenek memang sudah tua.

Dari cerita zaman dulu itu kita menarik kesimpulan, bahwa musuh merak yang paling jahat ternyata umat manusia. Merak India Pavo cristatus sudah sejak zaman Raja Sulaiman sebelum Masehi diperdagangkan ke "seluruh dunia". Mereka dibeli untuk menghias taman istana para raja kecil dan estat pedesaan tuan tanah besar.

"Setiap 3 tahun sekali, angkatan laut Tharshish membawa emas, perak, gading, dan burung merak." Demikian tercantum dalam Kitab Raja-raja I, bab 10, ayat 22.

Dalam drama Yunani The Birds karya Aristophanes tahun 400 SM, burung merak disebut-sebut lagi dalam skenario.

Kaum sontoloyo
Koeksistensi damai antarmacan-merak itu agaknya juga terjadi dengan merak Jawa, Pavo muticus muticus dan macan loreng Lodaya Panthera tigris sondaica dari daerah Lodaya dekat Blitar dulu (Sekarang sudah banyak yang pulang ke Rachmatullah, dan sisanya yang masih ada pindah ke Meru Betiri).

Merak hijau pamer
Koeksistensi damai itu sempat direkam oleh seorang seniman pencipta tarian reog Ponorogo. Penarinya memakai topeng macan, tetapi tengkuknya dihias bulu merak. Itu bukan melukiskan binatang blasteran, tetapi mengisahkan burung merak yang menunggangi macan sebagai wahana lingkungan hidup.

Sampai sekarang reog Ponorogo masih dapat kita lihat pada pesta rakyat Jawa Timur, dan selalu mengingatkan kita bahwa pada zaman dulu ada macan Jawa yang ditunggangi merak Jawa.

Kini, macan loreng Jawa sudah punah, sedangkan burung merak boleh dikatakan sudah langka. Itulah sebabnya ia jarang ditulis. Buku dan majalah tentang mereka boleh dikatakan langka juga. Burung itu hanya dapat kita tonton sebagai burung tahanan dalam kandang beberapa kebun binatang. Kalau ingin mengamati kehidupannya yang bebas merdeka, kita harus pergi ke Taman Nasional Ujungkulon Jawa Barat, dan Baluran Jawa Timur. Di sana mereka mendapat suaka politik dari pemerintah RI.

Tubuhnya kira-kira sebesar kalkun yang kurus, tetapi jenisnya yang jantan dapat mengembangkan bulu panjang sekali di belakang punggungnya menjadi kipas raksasa yang indah. Kalau dilipat, bulu ini kira-kira 4 kali lebih panjang daripada tubuhnya.

Tiap pagi, kaum merak hijau di tegalan Cidaun dan Cigenter (di ujung paling kulon Jawa Barat) turun dari pohon tempat bertengger mereka semalam, lalu berjalan-jalan di lapangan berumput untuk sarapan pagi. Padang rumput ini sebenarnya padang penggembalaan kaum banteng, dan biasanya keluarga merak juga berpapasan dengan keluarga itu di lapangan banteng. Tetapi mereka sudah bertahun-tahun lamanya hidup berdampingan dengan rukun tanpa memandang ras dan suku.

Kalau ada orang ceroboh yang terlalu mencolok mau mendekat (walaupun masih jauh), seekor bapak merak berteriak ke seluruh dunia.

"Tok-tok kerrraooo! Tok-tok kerrraoooo!" berulang kali keras sekali, sampai seluruh masyarakat merak maklum adanya.

Walaupun juru teriak itu sangat vokal memperingatkan sesama merak, "Balik ke pohon! Cepat menghindar! Mau mati, apa!" namun merak-merak yang diteriaki lamban sekali bergeraknya. Pelan-pelan mereka mundur, sedikit demi sedikit ke arah semak belukar di belakangnya, lalu menghilang dalam rimbunnya pepohonan hutan. Padang rumput tempat mereka sarapan menjadi lengang. Hanya teriakan sumbang dari juru teriak vokal yang tetap dikumandangkan terus di kejauhan.

Diduga karena tidak begitu banyak musuh yang menerkamlah, mereka kemudian berevolusi menjadi burung lamban yang ekornya kedodoran.

Sesudah bahaya berlalu tanpa insiden berdarah, merak-merak kembali meneruskan sarapan di tanah: umbi rumput-rumputan, cacing dan serangga tanah, kadang juga biji-bijian yang berserakan.

Mengapa pamer bulu
Di mana pun berada, kaum merak hidup rukun dengan para tetangga, termasuk tetangga merak sebelah. Kalau ada yang mau melanggar batas teritorial, atau mau menggusur kavling, oknum ini cukup didemonstrasi saja dengan bulu "ekor". Merak yang didemonstrasi sudah cukup tanggap dari jauh, lalu tahu diri. Jarang sekali ada bentrokan fisik di pengadilan.

Sebenarnya bukan bulu ekor yang mereka gelar, tetapi bulu halus di pangkal bulu ekor (ada 150 helai semuanya). Bulu ekornya sendiri sudah berubah menjadi semacam ganjal bagi bulu halus ini. Pameran bulu seperti pameran bendera kapal perang di perbatasan kodamar (komandemen daerah maritim) itu mempunyai makna pertahanan mula-mula, tetapi kemudian bisa berubah menjadi agresi, tergantung perkembangan politik.

Di hutan Salak, Kabupaten Dairi, Sumatra Utara, para merak hijau dulu masih melimpah ruah, ketika hutan masih belum banyak dirusak orang luar. Burung itu begitu melimpah sampai sempat menyelenggarakan kontes kecantikan. Paling tidak itulah yang dilaporkan orang Dairi yang kenal akrab dengan merak hutan mereka. Mereka menganyam legenda untuk menjelaskan mengapa burung merak suka pamer bulu.

Alkisah, pada zaman kejayaan burung dulu pernah ada kontes pemilihan Miss Burung Bulbul, yang akan diikuti oleh semua burung sedunia. Mereka menyiapkan diri untuk berias, dan begitu juga burung merak dan gagak. Keduanya bermufakat untuk saling merias bergantian. Kebetulan, merak mendapat kesempatan pertama untuk dirias. Burung gagak merias merak dengan penuh semangat, karena mengharapkan akan dirias balas oleh merak.

Tetapi apa lacur? Ketika giliran gagak yang harus dirias, burung merak yang sudah cantik itu tidak mau membalas jasa merias gagak, karena hatinya agak dengki. "Kok enak, lha kalau nanti bersaing, 'kan bisa kalah saya!" gumam hatinya yang belum apa-apa sudah berpraduga salah. Di muka gagak, ia berdalih dengan wajah manis, "Waaah, sudah senja, gak! Besok saja, ya?"

Gagak yang lugu setuju saja, sehingga ia tidak sempat dirias, ketika esok harinya kontes dimulai. Padahal merak masih mendengkur. Ketika dibangunkan, ia hanya cukup mengumbar janji. Maka, yang menang kontes Miss Burung Bulbul ialah si burung merak, sampai ia menjadi sombong atas kecantikan bulunya. Sebentar-sebentar ia pamer bulu. Padahal kecantikan itu berkat burung gagak yang gagal mengikuti kontes burung bubul.

Sejak itulah, masyarakat Pakpak Dairi menciptakan pemeo "Bon ari dok uo!" kalau mereka ingin menyatakan "Waaah, hari sudah senja!", seperti burung uo (sebutan mereka untuk merak).

Anggun tapi sombong
Apa pun penjelasannya, pameran bulu merak makin marak kalau musim kawin tiba. Di Ujungkulon jatuh pada hari-hari menjelang musim hujan, mulai dari Agustus sampai Oktober. Tua-muda, baik perjaka maupun "perduda" berlomba-lomba menarik perhatian para gadis dan janda kembang merak.

Bulu pamerannya yang panjang dinaikkan pelan-pelan, (agaknya karena berat), lalu dibentangkan. Kalau kipas dari bulu ini disinari matahari pagi, warna-warninya memantul dengan cahaya yang menakjubkan. Itu masih ditambah pula dengan pelototan mata-mata belo pada ujung setiap bulu hias yang biru dan kuning, dikelilingi hijau muda.

Merak jantan yang sedang memperagakan bajunya itu berjalan sombong sekali di muka merak betina. Setiap kali ia menatap mata betina, bulu sayapnya diguncang-guncangkan sampai bergetar memantulkan berbagai warna tadi lebih gemerlap. Ia menghadapkan kemegahan kipasnya ke muka juwita, dan mencondongkan badan ke depan, sambil bertanya, "Bagus, la-yaauw? Bagus, la-yaauw?"

Tetapi di telinga Anda niscaya hanya terdengar: "kai-yauw, kai-yauw".

Kalau sudah dilanda asmara, merak jantan memang bisa buta. "Love is blind" kata merak India yang sudah lama tinggal di Amerika. Di Kebun Binatang Bronx, New York, pernah terjadi seekor merak jantan India yang hidup rukun dengan seekor bulus, pada suatu hari musim kawin jatuh cinta pada bulus itu. Ia pamer bulu seperti layaknya merak jantan pamer bulu di muka merak betina sesama rasnya.

Bulusnya diam seribu basa, tetapi justru sikap tersipu-sipu ini yang membuat merak jantan bertambah menyala asmaranya. Dipisah oleh penjaga kandang pun ia tidak mau terima, dan tetap mau mendekati si bulus. Diduga karena sikapnya yang merunduk itulah, bulus dikira jelmaan merak betina (yang juga ndekem seperti merunduk pasrah kalau sudah bersedia dikawini).

Harem merak
Rayuan gombal merak jantan biasanya perlu diuji dulu keberhasilannya. Ia tidak mudah percaya pada merak betina yang gampangan. Kalau merak betina sudah terpikat oleh pameran bulunya, merak jantan sengaja menjauh, dan malah meninggalkannya tertegun di tempat. Kalau merak betina itu kemudian mengejar merak jantan, minta pertanggungjawaban, si jantan mendekat. Tetapi kemudian justru merak betinanya yang "jual mahal", sampai yang jantan terpaksa pamer bulu lagi, dengan lebih sombong.

Gerakan mendekat-menjauh, mendekat-menjauh ini dilakukan beberapa kali sampai merak jantan mendapat bukti autentik bahwa juwitanya tidak main-main mempermainkan laki-laki.

Merak betina yang sudah tergiur oleh rayuan gombal merak pongah, biasanya duduk meringkuk di tanah dan diam pasrah. Merak jantan melipat bulu kipasnya dengan cepat, dan dengan sigap menaiki punggung merak betina. Terjadilah apa yang mestinya terjadi!

Di alam bebas yang pesaing merak jantan lebih banyak daripada dalam kandang kebun binatang, merak betina lebih leluasa memilih calon suami. Hanya jago yang bagus dan kuat yang dipilih. Jadi dapat memperoleh keturunan yang bagus dan kuat juga, nanti!

Biasanya merak jantan yang hebat ini mengawini 2 - 5 ekor betina, dan membentuk satu keuarga besar. Bersama dengan keluarga-keluarga-besar yang lain, rombongan harem merak itu tergabung dalam kelompok berjumlah sekitar 40 - 60 ekor. Bapak merak melindungi rombongan istrinya masing-masing dari godaan dan gangguan bapak-bapak dan oom-oom lain, dengan jalan mengembangkan bulu ekornya pula. Tetapi kali ini bukan dengan sikap pamer, melainkan sikap agresif.

Kalau malam tiba, merak jantan kepala keluarga ini mengajak rombongannya naik pohon untuk bertengger pada cabang paling atas agar tidak terganggu oleh harimau dahan dan macan kumbang. Menurut pengalaman, para perampok ini hanya mampu naik sampai dahan daerah pertengahan yang besar, yang masih mampu menahan bobot tubuhnya. Cabang daerah atasan yang lebih kecil berisi merak tidak didekati. Hanya dipelototi! (Slamet Soeseno)

rumah


Created With HTML Assistant Pro - 1/29/97
by: Yds. Agus Surono
      Redaksi Intisari
      E-mail: agussur@hotmail.com